Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Gadget dan Salah Pergaulan Mengintai Anak, Ini Cara Bentengi Buah Hati dari Kekerasan Seksual

Angga Purenda • Jumat, 22 Mei 2026 | 15:48 WIB
Ilustrasi anak-anak TK PAUD Gajah Mada Ceper Klaten saat melakukan interaksi dengan pendamping di alam terbuka sehingga terjalin komunikasi yang intensif. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
Ilustrasi anak-anak TK PAUD Gajah Mada Ceper Klaten saat melakukan interaksi dengan pendamping di alam terbuka sehingga terjalin komunikasi yang intensif. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Kekerasan seksual yang menimpa anak-anak akan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi orang tua.

Apalagi, banyak pelaku kekerasan merupakan orang terdekat yang mestinya menjadi tempat aman bagi anak.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Klaten baru-baru ini.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dissos P3APPKB) Kabupaten Klaten Puspo Enggar Hastuti mengungkapkan langkah strategis yang harus diambil oleh orang tua, sekolah dan masyarakat guna menghindarkan anak dari ancaman kekerasan seksual.

Baca Juga: Perkuat Peran Perempuan dalam Kedaruratan, PMI Klaten Luncurkan Pelatihan Pertolongan Pertama di Juwiring

Menurut Puspo, ada beberapa faktor yang menjadi pemicu maraknya kekerasan seksual pada anak saat ini.

Seperti salah pergaulan dan pengaruh media sosial.

Puspo mengungkapkan paparan teknologi melalui gadget sebagai pedang bermata dua.

Tontonan yang tidak ramah anak atau berita kriminal sering kali bukan menjadi peringatan, melainkan ditiru oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Peran orang tua dalam mengawasi anak saat menggunakan gadget pun sangat dibutuhkan.

Hal itu untuk memastikan materi yang diunggah dan ditonton di media sosial merupakan hal positif. Harapannya bisa meniru pada hal positif tersebut.

“Batasi dan pantau apa yang ditonton anak di ponsel pintar mereka. Pastikan konsumsi digital mereka bersifat positif dan membangun,” ujar Puspo saat ditemui radarsolo.jawapos.com beberapa waktu lalu.

Sedangkan yang paling menyayat hati adalah kenyataan bahwa pelaku sering kali berasal dari lingkaran terdekat.

Mulai dari pacar, lingkungan bermain, hingga oknum orang tua kandung maupun tiri.

“Tapi memang karena itu tontonan itu juga berpengaruh. Kemudian tontonan yang ditonton anak-anak dan orang dewasa. Orang dewasa bisa mengarah korbannya adalah anak-anak, untuk anak-anak mungkin akan mempraktikkan pada teman sebayanya,” ujar Puspo.

Baca Juga: Astra Honda Resmikan Pos AHASS TEFA Pertama di Riau, Sasar Pelajar SMKN 3 Mandau

Di sisi lain, kekerasan seksual kerap berakar dari pola pengasuhan yang tidak maksimal.

Hal ini tidak melulu soal status ekonomi, melainkan kehadiran psikologis orang tua.

Kondisi keluarga yang broken home, atau anak yang ditinggal merantau dan hanya diasuh kakek-neneknya membuat anak kehilangan figur pelindung utama.

Untuk membentengi anak, orang tua dan pendidik di sekolah wajib melakukan tindakan preventif secara aktif.

Salah satunya dengan memposisikan diri sebagai tempat aman bagi anak untuk bercerita.

Harapannya jika ada orang lain yang berbuat tidak sopan, anak tidak takut untuk langsung mengadu kepada orang tua maupun pendidik.

Kasus kekerasan pada anak yang terjadi diyakini tidak sepenuhnya terlaporkan untuk bisa diproses, karena tidak adanya kepedulian di lingkungan sekitarnya.

Maka itu, mengondisikan lingkungan sekitar yang peduli anak saat ini menjadi sesuatu yang sangat penting.

Memang saat ini, Dissos dan P3APPKB Klaten gencar melakukan sosialisasi secara masif.

Baca Juga: Polres Wonogiri Sita 2.000 Butir Obat Daftar G, Satu Pengedar Dibekuk Dirumahnya

Mulai dari internal sekolah hingga masuk ke komunitas perempuan seperti penggerak PKK dan organisasi wanita agar semua pihak melek aturan terkait perlindungan anak.

Meski begitu perlindungan pada anak dari kekerasan seksual tidak hanya jadi tanggungjawab instansi terkait saja.

“Mari bersama-sama kita jaga ruang tumbuh kembang anak, karena melindungi anak adalah tugas kolektif kita semua. Bersedialah untuk peduli, bersedialah untuk melapor,” ucapnya.(ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#salah pergaulan #cara membentengi anak #pola pengasuhan #kekerasan seksual