RADARSOLO.COM - Purgianto alias Mbah Pur, 55, warga Desa Nanggulangan, Kecamatan Cawas, Klaten semringah.
Cita-citanya menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci segera terlaksana.
Yang bikin penasaran, Mbah Pur ke Tanah Suci bukan naik pesawat atau kapal laut, tapi dengan bersepeda.
Lantas bagaimana persiapannya?
Mbah Pur akan bersepeda menuju Tanah Suci dan dijadwalkan berangkat pada 31 Mei 2026.
Sebelumnya, Mbah Pur berpamitan dan dilepas Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dari halaman Gedung Paripurna DPRD Klaten, Jumat (22/5/2026).
Menggunakan sepeda merek Boston produk Amerika, Mbah Pur tampak penuh semangat dan siap menaklukkan rute antarnegara tersebut.
Sebelum melakukan perjalanan ke Makkah, dirinya hendak mengikuti The 44th Annual Event International Veteran Cycle Association (IVCA) 2026 terlebih dahulu yang akan dipusatkan di Kompleks Candi Prambanan, Klaten.
"Alhamdulillah, sangat merasa senang dan bangga sebagai orang Klaten bisa menunaikan ibadah umrah dengan cara naik sepeda. Ini sejarah (bagi saya)," ujar Mbah Pur saat ditemui usai acara pelepasan.
Bagi pria yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang bangunan ini, keputusan bersepeda ke Makkah bukanlah nekat tanpa perhitungan.
Ia mengaku telah melakukan persiapan matang selama satu tahun penuh, terutama dalam menjaga dan melatih ketahanan fisiknya.
Trek jarak jauh sejatinya bukan hal baru bagi kakek dua cucu ini.
Mbah Pur sudah berulang kali melakukan touring sepeda jarak jauh.
Salah satunya pernah mengayuh sepeda hingga sampai ke Titik 0 Km Indonesia di Pulau Weh, Kota Sabang, Provinsi Aceh dengan memakan waktu dua bulan tiga hari.
"Saya juga sempat ikut gowes Jamnas Federal di Lampung dan touring ke Bali," ujar pria yang juga dijuluki Mbah Pur si Power Rangers Merah dari Klaten ini.
Saat ditanya terkait motivasi menjalankan ibadah umrah dengan mengayuh sepeda, Mbah Pur mengungkapkan ingin beribadah sekaligus menyalurkan hobi bersepedanya.
Terlebih lagi rekan-rekan sesama komunitas sepedanya sudah ada yang pernah ke Tanah Suci.
Niatnya pun makin tebal untuk menyusul dengan cara mengayuh pedal.
Beruntung, keputusannya itu didukung penuh oleh keluarganya.
Mbah Pur tidak sendirian dalam misi gowes religi ini.
Ia akan menempuh perjalanan panjang berjarak ribuan kilometer tersebut bersama dua rekan pesepeda lainnya yang berasal dari Garut dan Bogor.
Rute yang akan mereka lalui terbilang sangat menantang.
Dari Klaten, jalur awal akan melintasi Magelang, Temanggung, Parakan, Weleri, hingga masuk ke jalur Pantura untuk berkumpul di Tangerang.
Dari Tangerang, perjalanan dilanjutkan dengan menyeberang ke Pulau Sumatra melalui Jalur Lintas Timur menuju Riau, lalu menyeberang ke Batam.
"Dari Batam nanti menyeberang lagi ke Singapura, lalu lanjut lewat Malaysia, Thailand, Cina, Pakistan hingga nanti sampai di Arab Saudi. Estimasi waktu perjalanan sekira 8-10 bulan," jelasnya.
Baca Juga: Gadget dan Salah Pergaulan Mengintai Anak, Ini Cara Bentengi Buah Hati dari Kekerasan Seksual
Mengingat durasi perjalanan yang mencapai hampir satu tahun dan melewati berbagai medan antarnegara, logistik dan kesiapan teknis menjadi hal penting.
Selain uang saku, Mbah Pur menyulap sepedanya menjadi rumah berjalan dengan membawa berbagai suku cadang dan alat bertahan hidup.
"Bekal yang penting uang. Lalu peralatan sepeda dan sparepart-nya, saya bawa 4 ban dalam cadangan, jari-jari sama rantai," ungkapnya.
"Untuk kebutuhan harian, saya bawa pakaian ganti dan kompor portabel. Nanti buat masak air di jalan, buat ngopi atau bikin mie instan," lanjut Mbah Pur.
Target utama Mbah Pur setibanya di Makkah adalah langsung menunaikan ibadah umrah untuk kali pertama dalam hidupnya.
Namun, jika situasi dan waktu memungkinkan, ia tidak menutup kemungkinan untuk sekaligus melaksanakan ibadah Haji.
"Utama menjalankan ibadah umrah. Tapi kalau Allah menghendaki, ya sekalian (Haji)," harapnya. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono