RADARSOLO.COM-Sukamto, seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) guru seni asal Grobogan, sukses mentransformasikan sebuah rumah tua yang mangkrak selama 20 tahun di tengah area persawahan Kabupaten Klaten menjadi unit usaha kuliner bernama Owah Cafe.
Pengembangan usaha ini kini didukung oleh fasilitas permodalan KUR dan sistem digitalisasi dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.
Keputusan Sukamto untuk membeli aset properti tua tersebut pada awalnya sempat menuai pertentangan dari pihak keluarga.
Baca Juga: Catat Perputaran Uang Rp1,13 Triliun, Agen BRILink di Klaten Sumbang FBI Rp1,9 Miliar
Lokasi rumah yang terisolasi di tengah sawah serta ketiadaan akses jalan masuk membuat istri dan anaknya pada mulanya menolak untuk ikut tinggal di lokasi tersebut, sehingga Sukamto harus menetap seorang diri selama tiga tahun.
"Dulu saya PNS di Grobogan. Istri saya asal Klaten, saya pindah ke sini dan beli ini. Rumah lama ini di tengah sawah. Ini sudah mangkrak 20 tahun tidak dihuni, gara-gara tidak ada jalan. Tapi akhirnya saya beli," kata Sukamto menceritakan awal mula usahanya, Minggu (24/5/2026).
Sukamto menambahkan,penolakan dari keluarga pada masa awal sempat memunculkan kelakar internal.
"Semua keluarga menetang. Saya 3 tahun di situ, sendirian. Sampai dibilang, 'Papahmu gila itu, masak hidup di sawah'," kenangnya.
Latar belakang pendidikan di bidang seni menjadi modal bagi Sukamto untuk menata ulang bangunan tersebut secara bertahap.
"Saya kan orang seni, pendidikan seni saya. Saya ingin menyulap barang jelek menjadi bagus. Itu adalah kemampuanku seperti itu," ungkap Sukamto.
Keluarga Sukamto akhirnya mulai beradaptasi dan ikut menetap di rumah tersebut setelah sempat mengungsi dari pemukiman asal untuk melakukan isolasi mandiri pada masa pandemi Covid-19.
"Gara-gara Covid ada hikmahnya. Adik ipar kena Covid. Akhirnya ngungsi, anak saya ngungsi, malah kerasaan. Awalnya ngga mau, turun dari motor saja tidak mau," tambahnya.
Sukamto resmi mengoperasikan Owah Cafe pada tahun 2020.
Akibat pembatasan mobilitas masyarakat di masa pandemi, unit usaha ini sempat mengalami kerugian finansial yang cukup besar pada dua tahun pertama operasional dengan nilai kerugian mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta per bulan untuk menutup biaya gaji karyawan dan operasional.
"Buka tahun 2020, pas awal Covid. Justru itu, karena itu menjadi tolak ukur. Rata-rata orang tidak mau keluar, kan. Ternyata benar tidak mau keluar, rugi, tidak ada yang beli," ujar Sukamto.
Pendapatan harian di masa awal bahkan seringkali minim. "Tiap hari dapat 75 ribu, kadang 100 ribu, kadang kosong. Kadang ada grebekan jam 9 malam. Itu dua tahun rugi terus. Hampir kerugiannya 10-15 juta sebulan. Anak saya sampai nyuruh tutup," jelasnya.
Guna mengatasi pembengkakan biaya operasional, Sukamto melakukan inovasi format usaha dengan mengubah konsep kafe murni menjadi kombinasi kafe dan resto yang menyediakan menu makanan berat.
Fasilitas gedung juga diperluas dengan penambahan lantai dua, area joglo, serta sarana live music.
Saat ini, Owah Cafe mampu menyerap lapangan kerja dengan mempekerjakan hampir 15 orang karyawan tetap di bagian dapur.
"Misi saya memang untuk hiburan. Tapi kalau hiburan terus, saya harus bayar karyawan sama tombok terus, nanti lama-lama habis uang saya," kata Sukamto.
"Kemudian inovasi. Cafe kan beda dengan warung makan, yang bisa makan terus pulang. Makanya saya tambahi cafe dan resto. Menyediakan makanan-makanan khusus. Sekarang karyawan hampir 15, kalau casual banyak sekali. Terutama dapur itu, dapur banyak," lanjutnya.
Untuk memperluas segmentasi pasar ke sektor formal seperti lokasi rapat instansi, Sukamto membangun ruang pertemuan indoor.
Pembangunan fasilitas ruang tertutup ini dibiayai menggunakan dana pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI sebesar Rp100 juta.
Sukamto mengonfirmasi bahwa dirinya merupakan nasabah loyal perbankan pelat merah tersebut sejak masih aktif berdinas sebagai guru.
"Sejak awal jadi pegawai jadi nasabah BRI. Tahun berapa ya, 90-an lah dengan BRI. Pinjam-pinjam gitu. Bahkan transferan sertifikasi dari BRI juga sampai sekarang," tuturnya.
Alokasi pinjaman tersebut dipastikan fokus untuk infrastruktur bangunan.
Baca Juga: BRI dan Unsoed Luncurkan Program Desa BRILiaN 2026 untuk Dorong Transformasi Desa 5.0
"Habis itu, ada KUR itu. KUR itu baru, pinjam 100 juta, saya paskan untuk membangun indoor. Saya paskan. Tidak boleh lebih dari 100 juta. Karena saya pengin keuntungan nanti untuk beli meja kursi atau untuk apa," jelas Sukamto.
SPO BRI Cabang Klaten Nanik Dwi Retnawati membenarkan bahwa Sukamto tercatat sebagai nasabah lama di bawah naungan BRI Unit Klaten Utara yang memiliki rekam jejak kolektibilitas yang baik.
"Jadi, beliau itu nasabah lama di Unit Klaten Utara. Nasabah unit, kemudian punya fasilitas itu juga dari unit," kata Nanik Dwi Retnawati.
"Terus menurut beliau sangat terbantu, fasilitas KUR bisa dipakai untuk tambah modal kerjanya. Cafenya jadi lebih gede," tambahnya.
Selain memberikan dukungan modal kerja, BRI juga memfasilitasi digitalisasi sistem pembayaran pada kasir Owah Cafe melalui penyediaan perangkat mesin Electronic Data Capture (EDC) serta kode QRIS guna menekan volume peredaran uang tunai.
"Kami juga support di mesin pembayaran, sudah kami berikan QRIS dan EDC," ujar Nanik.
Pihak perbankan berharap portofolio bisnis Owah Cafe dapat terus berkembang secara berkelanjutan sehingga volume transaksi non-tunai yang masuk ke dalam sistem perbankan terus meningkat.
"Harapannya nanti berkelanjutan dengan BRI. Kebetulan juga dia adanya pembayaran masuk di sini, semakin banyak transaksinya non cash. Sudah mengurangi uang tunai," tutur Nanik.
"Nanti juga ada, sesudah menikmati KUR bisa lebih besar lagi perputaran uangnya yang masuk di BRI, bisa terus bersama BRI," pungkasnya. (*)
Editor : Tri Wahyu Cahyono