RADARSOLO.COM-Kemegahan Candi Sewu yang terletak di Kompleks Prambanan, Klaten, menjadi saksi kemeriahan puncak event Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest), Minggu (24/5/2026).
Ribuan pesepeda dari berbagai penjuru nusantara hingga mancanegara tumpah ruah memadati kawasan cagar budaya tersebut dalam gelaran bertajuk Parade Sepeda Kostum Internasional.
Sebanyak sekira 7.000 peserta berpartisipasi dalam ajang bergengsi tersebut.
Baca Juga: Singgah di Kemudo Klaten, Rombongan Pesepeda KLIC Fest Borong Batik Ciprat Karya Perajin Disabilitas
Uniknya, para pesepeda tidak mengenakan atribut olahraga modern, melainkan tampil eksentrik dengan beragam kostum tradisional khas daerah masing-masing serta pakaian adat nusantara yang beraneka warna.
Mereka berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, Kalimantan, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan.
Suasana semakin semarak dengan kehadiran puluhan peserta mancanegara yang berasal dari berbagai negara di benua Eropa, Amerika, hingga Asia.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan gelaran berskala internasional tersebut.
Ia berharap ajang KLIC Fest mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap budaya bersepeda secara konsisten.
"Terima kasih kepada seluruh peserta, volunter dan juga sponsor yang sudah luar biasa bersama-sama bisa menyelenggarakan acara ini. Semoga dengan adanya kegiatan International Cycling Festival ini bisa menumbuhkan masyarakat menjadi lebih dekat lagi dengan sepeda. Semuanya bisa berkegiatan dengan sepeda," ujar Hamenang dalam sambutannya, Minggu (24/5/2026).
Lebih lanjut, pada kesempatan itu Hamenang mengajak para peserta untuk menikmati destinasi wisata candi yang ada di sekitar Prambanan, Klaten. Begitu juga menikmati kuliner yang menjadi ciri khas dari Kota Bersinar.
Peserta parade sepeda kostum internasional menempuh rute sepanjang kurang lebih 12 Km yang telah disiapkan.
Mengambil titik start dan finish di kawasan situs bersejarah Candi Sewu.
Para pesepeda disuguhi panorama eksotis candi-candi kuno. Begitu juga hamparan persawahan hijau yang asri, hingga kehangatan interaksi saat melintasi permukiman warga di sekitar Prambanan.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Klaten Purwanto mengonfirmasi bahwa Parade Sepeda Kostum ini merupakan gong penutup dari seluruh rangkaian KLIC Fest yang telah berlangsung selama delapan hari terakhir.
"Kegiatan ini meliputi semua jenis sepeda dan berkeliling di wilayah Prambanan. Ini adalah puncak dari seluruh rangkaian KLIC Festival. Kalau mengaca pada kepadatan, kisaran 7.000 peserta ada. Namun antusiasmenya luar biasa dari seluruh nusantara. Termasuk para ontelis yang menempuh rute dari Anyer dan Panarukan ke Prambanan sudah masuk semua," terang Purwanto saat diwawancarai di lokasi.
Purwanto juga menegaskan dampak ekonomi yang dihasilkan dari penyelenggaraan event internasional tersebut bagi masyarakat lokal.
"Jelas event ini mengangkat pertumbuhan ekonomi masyarakat yang ada di wilayah Kabupaten Klaten. Di samping itu, kunjungan wisatawan dipastikan meningkat signifikan dibanding tahun-tahun kemarin, karena Klaten saat ini sudah go internasional," imbuhnya.
Gelaran parade sepeda kostum internasional tersebut menandai berakhirnya seluruh rangkaian KLIC Fest di Klaten.
Purwanto mengungkapkan, kesuksesan acara tersebut diharapkan menjadi pemantik bagi penyelenggaraan event sport tourism serupa di masa mendatang. Guna memantapkan posisi Kabupaten Klaten sebagai destinasi wisata budaya dan olahraga bertaraf internasional.
Daya tarik KLIC Fest tidak hanya memikat pesepeda lokal, namun juga komunitas sepeda dari mancanegara. Salah satunya adalah Osman Yusuf,59, pesepeda asal Malaysia yang tergabung dalam Klub Gabungan Persekutuan Malaysia.
Ia datang bersama rombongan besar berjumlah sekitar 60 orang sejak hari Jumat (22/5/2026), Osman mengaku sangat terkesan event parade sepeda kostum internasional dan keindahan alam Klaten.
"Kegiatan hari ini sangat bagus. Semua peminat sepeda dari seluruh dunia datang hari ini, dan Indonesia terutamanya menjadi penyelenggara yang terbaik. Kami sudah berkeliling ke Gunung Merapi naik jip dan makan di atas bukit. Mengenai Candi Sewu dan Candi Prambanan, ini sangat cantik, klasik dan merupakan warisan yang perlu dijaga untuk masa depan," ujar Osman.
Lebih lanjut, Ia berharap kegiatan tersebut terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang untuk mempererat hubungan peminat sepeda tua.
Kesan mendalam juga dirasakan oleh Adam,16, peserta muda asal Makassar, Sulawesi Selatan. Remaja yang datang jauh-jauh bersama 11 anggota keluarganya ini rela menempuh perjalanan panjang demi berpartisipasi dalam event tersebut.
Rombongannya menyeberang dari Makassar ke Surabaya sejak tanggal 17 Mei 2026. Lalu melanjutkan perjalanan darat bersepeda selama empat hari menuju Klaten.
"Event-nya Alhamdulillah bagus sekali. Di sini kami cepat mendapat saudara dan teman baru. Kebetulan kami difasilitasi sepeda dari Surabaya lalu gowes ke sini," ujar Adam.
Adam mengaku, baru pertama kalinya ke Klaten khusus untuk ikut event parade sepeda kostum internasional. Termasuk berkunjung Candi Sewu sangat menarik dan bagus untuk kunjungan wisata. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono