RADARSOLO.COM–. Sebanyak 57 bhikkhu dari empat negara tengah menjalani perjalanan spiritual bertajuk Walk For Peace.
Para Bhikkhu Thudong itu resmi dilepas untuk melanjutkan perjalanan mereka dari Vihara Bodhivamsa oleh Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo.
Klaten menjadi etape terakhir di wilayah Jawa Tengah sebelum rombongan memasuki Jogja.
Mereka akan menghadiri undangan ramah tamah bersama Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Baca Juga: Viral Isu Teror Pocong Bawa Senjata Tajam di Ngemplak Boyolali, Polisi Pastikan Itu Hoax
Ritual jalan kaki yang dimulai dari Singaraja, Bali ini menempuh jarak hampir 400 Km.
Dari total 58 bhikkhu Sangha, mayoritas berasal dari Thailand sebanyak 46 bhikkhu, disusul Malaysia 5 bhikkhu, Laos 4 bhikkhu dan 2 dari Indonesia.
Sebelum prosesi pelepasan, para bhikkhu terlebih dahulu menjalani tradisi Pindapata di sekitar wilayah Klaten.
Tradisi ini menarik antusiasme umat Buddha dan warga sekitar yang hadir untuk berdana.
Ketua Koordinator Wilayah Jawa Tengah dan DIY untuk Walk For Peace Adi Wiryo Alex Fernando menjelaskan, melalui tradisi tersebut umat mendapatkan kesempatan untuk memberikan dana berupa makanan, obat-obatan hingga keperluan mandi untuk menunjang kesearian para bhikkhu.
Baca Juga: SD Unggulan Bukan Sekadar Label, Etik: Tak Kalah Dengan Sekolah SwastaPendidikan Terbaik
"Tujuan utama kegiatan ini selaras dengan semboyan Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Kita berbeda-beda tetapi tetap sama, yaitu harus menjaga perdamaian. Kita berdamai dengan diri sendiri, lingkungan, dan negara. Dunia akan terasa sangat damai kalau kita saling berdamai," ujar Adi Wiryo, Senin (25/5/2026)
Terkait kondisi fisik para peserta, Adi tidak menampik adanya beberapa bhikkhu yang sempat mengalami penurunan kesehatan akibat faktor cuaca dan kelelahan.
"Kemarin di Klaten ada dua yang sakit dan sempat kami bawa ke RS Siloam. Namun, semua sudah ditangani dengan baik berkat kerja sama tim dokter dan rumah sakit yang ditunjuk. Jadi hari ini mereka bisa kembali mengikuti perjalanan," tambahnya.
Setelah dilepas dari Vihara Bodhivamsa, para bhikkhu bergerak menuju Taman Makam Pahlawan (TMP) Ratna Bantala Klaten untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta menggunakan bus.
Baca Juga: Rahasia Membuat Bakso Daging Kurban Idul Adha Kenyal dan Tahan Lama untuk Stok Keluarga
Penggunaan moda transportasi ini terpaksa dilakukan demi ketepatan waktu.
"Kami mengejar waktu karena sudah dijadwalkan bertemu Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X di Bangsal Kepatihan, Jogja. Jika berjalan kaki, waktunya tidak akan terkejar," jelas Adi.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Klaten Khumaidin memberikan apresiasi mendalam atas kehadiran para bhikkhu.
Ia mengingatkan bahwa perbedaan yang ada di tengah masyarakat harus dijadikan sebuah kekuatan yang harmonis.
"Mari kita jaga harmoni, toleransi dan saling menghormati bersama-sama. Kita memang berasal dari latar belakang yang berbeda," jelas Khumaidin.
"Oleh karena itu, mari kita kuatkan perbedaan ini menjadi kekuatan yang luar biasa untuk memberikan pelajaran kepada dunia bahwa kita bisa hidup bersama-sama," lanjutnya.
Baca Juga: Store hingga Mes Kena Vandalisme Usai Persis Solo Terdegradasi, Ini Respons Manajemen
Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menyampaikan rasa bangganya karena Klaten menjadi salah satu wilayah yang disinggahi oleh pembawa misi kemanusiaan dunia.
Hamenang merefleksikan nilai toleransi ini lewat sejarah panjang situs-situs candi yang ada di Klaten.
Seperti Candi Prambanan, Candi Sewu dan Candi Plaosan yang merekam keharmonisan umat Hindu dan Buddha sejak abad ke-7 dan ke-8.
"Ini adalah momen spesial bagi kami di Kabupaten Klaten karena kehadiran tokoh-tokoh luar biasa yang membawa pesan perdamaian dunia," ujar bupati.
Baca Juga: Komisi IV DPRD Boyolali Desak Disdikbud Segera Teliti Temuan Objek Diduga Cagar Budaya di Desa Nepen
"Di tengah situasi global saat ini, gerakan Indonesia World Peace ini membuktikan bahwa sejatinya tidak ada warga dunia yang sepakat dengan perang. Semua mendambakan cinta dan kedamaian," lanjut Hamenang.
Bupati juga mendoakan agar seluruh bhikkhu senantiasa diberikan kesehatan dan kelancaran hingga mencapai titik akhir perjalanan suci di Candi Borobudur, Magelang. Guna merayakan puncak Hari Raya Waisak. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono