Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Jalan-jalan Sembari Eksplor Sisa Bangunan Kolonial dan Kamar Bola di Klaten

Angga Purenda • Senin, 25 Mei 2026 | 15:50 WIB
Kegiatan walking tour yang digelar oleh Komunitas Klaten Lampau yang mulai diminati anak muda. (Angga Purenda/Radar Solo)
Kegiatan walking tour yang digelar oleh Komunitas Klaten Lampau yang mulai diminati anak muda. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM-Tren berupa walking tour atau jelajah sejarah dengan berjalan kaki kini mulai digandrungi oleh generasi muda di Kota Klaten.

Fenomena ini dimotori oleh komunitas pencinta sejarah lokal, Klaten Lampau, yang secara konsisten mengajak masyarakat untuk menyelami kembali rekam jejak masa lalu kota bersinar.

Terbaru, Klaten Lampau sukses menggelar jelajah sejarah episode ketujuh bertajuk Titik Nol Kilometer dan Sekitarnya.

Baca Juga: Persis Solo Terdegradasi, Pasoepati Sindir Owner: Bom Waktu Tidak Pernah Berisik

Kegiatan yang diikuti oleh belasan anak muda itu berfokus menyusuri kawasan historis di sepanjang Jalan Pemuda, Kampung Kanjengan, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Tengah.

Koordinator Klaten Lampau Airell Luthfan Ababiel menjelaskan, konsep dasar dari jelajah tersebut adalah mengeksplorasi narasi sejarah serta sisa-sisa bangunan kolonial yang ada di pusat kota.

Rute kali ini dirancang untuk membuka sejarah pusat pemerintahan Klaten pada masa lampau yang dimulai dari depan Masjid Raya Klaten.

"Pada era Hindia-Belanda, area Masjid Raya ini dulunya pernah menjadi Benteng Engelenburg," ujar Aierell belum lama ini. 

"Dari sana, kami menyusuri Jalan Bali, di mana terdapat kantor pegadaian yang pada masa kolonial merupakan pandhuis (pegadaian era Belanda)," imbuhnya.

Perjalanan berlanjut menuju daerah yang bernama Kamar Bola.

Baca Juga: Dari Luar Negeri, Eks Bek Asing Persis Solo Kirim Pesan Menyentuh Usai Laskar Sambernyawa Terdegradasi

Menariknya, salah satu bangunan yang kini menjadi kantor militer tersebut menyimpan cerita unik sebagai pusat hiburan malam para ekspatriat Eropa di Klaten.

"Dulu namanya Societeit de Club, tempat perkumpulan dan hiburan orang-orang Eropa. Dari situ kami bergerak ke Kampung Kanjengan yang kini menjadi area Dinas Perpustakaan dan Kearsipan," terang Airell. 

"Lokasi ini dulunya merupakan kediaman Bupati Gunung Polisi, sebuah jabatan pemerintahan sebelum akhirnya dipindahkan ke area RSPD pada tahun 1917," lanjut dia.

Puncak dari walking tour ini adalah mengunjungi titik nol kilometer Klaten yang terletak di Jalan Pemuda.

Baca Juga: Dari Klaten, 57 Bhikkhu Thudong Terpaksa Naik Bus untuk Kejar Waktu Bertemu Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengkubuwono X

Menurut Airell, pemilihan lokasi titik nol ini sengaja dikorelasikan dengan keberadaan rumah Kanjengan Bupati, mengingat posisinya yang menjadi pusat geopolitik dan pemerintahan Klaten pada zamannya.

Klaten Lampau juga mengajak peserta singgah ke kuliner legendaris Susu Segar Utomo yang sejarahnya ditarik dari bisnis transportasi Bus Eva yang eksis sejak tahun 1927.

Hingga akhirnya perjalanan berakhir di Pasar Gedhe Klaten.

Animo anak muda Klaten terhadap kegiatan ini terbilang sangat tinggi.

Airell menyebutkan, demi menjaga kualitas penyampaian materi, kuota peserta sengaja dibatasi hanya untuk 15 hingga 20 orang per acara.

Namun, jumlah pendaftar selalu melebihi kapasitas yang disediakan.

Baca Juga: Viral Isu Teror Pocong Bawa Senjata Tajam di Ngemplak Boyolali, Polisi Pastikan Itu Hoax

"Antusiasme dan rasa penasaran peserta luar biasa. Setiap kali kami berhenti di satu titik, selalu ada diskusi dan pertanyaan kritis. Bahkan menariknya, banyak peserta yang sifatnya repeat order, alias ikut lagi dan lagi di episode-episode berikutnya," kata Airell.

Salah satu peserta walking tour, Bella, 33, mengaku sangat terkesan dengan pengalaman menjelajahi sudut Kota Klaten secara mendalam.

Perempuan asal Muntilan, Magelang  yang sudah delapan tahun menetap di Klaten ini mengaku mendapatkan banyak perspektif baru dari walking tour bersama Klaten Lampau.

"Seru banget. Walaupun saya sudah lama di Klaten, saya merasa belum menikmati detail kota ini," katanya.

Baca Juga: SD Unggulan Bukan Sekadar Label, Etik: Tak Kalah Dengan Sekolah SwastaPendidikan Terbaik

"Ikut walking tour membuat saya bisa menghargai setiap sudut Klaten. Banyak hal baru yang saya tahu, misalnya tentang Kamar Bola yang ternyata tidak ada hubungannya sama sekali dengan olahraga bola, lalu perpustakaan daerah yang ternyata sekaya itu sejarahnya," sambung Bella.

Bella yang datang tanpa ekspektasi awal mengaku rasa penasarannya terjawab.

Terutama mengenai alasan geografis mengapa titik nol kilometer Klaten berada di tengah kota, bukan di ujung wilayah.

Ia pun berharap Klaten Lampau terus memperkaya narasi sejarah dan memperbanyak pilihan rute di masa mendatang.

Mengingat masih banyak bangunan lawas di seputaran stasiun dan kawasan lainnya yang potensial untuk dikulik.

"Jujur saya sangat tertarik untuk ikut lagi. Klaten ini punya banyak bangunan peninggalan sejarah, ada yang masih aktif dan ada yang terbengkalai. Kalau sejarah tempat-tempat itu dikupas lebih dalam lagi, pasti akan jauh lebih mengasyikkan," ucapnya. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#eksplor benteng kolonial di klaten #kamar bola di klaten #jejak masa lalu #Walking Tour