RADARSOLO.COM-Kabupaten Klaten membuktikan diri layak sejajar dengan Kota Solo dan Yogyakarta dalam urusan penyelenggaraan acara berskala internasional.
Keberhasilan ini ditandai dengan suksesnya gelaran Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 yang berlangsung selama delapan hari, mulai 17-24 Mei 2026.
Rangkaian festival akbar ini menghadirkan dua agenda prestisius dunia, yakni 35th International Cycling History Conference (ICHC).
Baca Juga: Belanja Pegawai Ambyar Tembus 36 Persen, Pemkot Solo Stop Rekrutmen Baru dan Hitung Ulang ABK
Klaten mencatatkan sejarah sebagai tuan rumah perdana di Indonesia.
Termasuk menjadi tuan ruman untuk gelaran The 44th Annual Event International Veteran Cycle Association (IVCA) 2026.
Sedangkan kemeriahan KLIC Fest mencapai puncaknya pada Minggu (24/5/2026) melalui gelaran Parade Sepeda Kostum Internasional.
Acara yang dipusatkan di kawasan Candi Sewu, Kompleks Candi Prambanan, Klaten itu sukses menyedot perhatian dunia.
Peserta memadati kawasan cagar budaya tersebut yang berasal dari sejumlah daerah di Indonesia sera berbagai negara Eropa, Amerika dan Asia.
Ketua Komite Nasional KLIC Fest sekaligus Former President Bike To Work (B2W) Indonesia Fahmi Saimima memberikan apresiasi tinggi atas capaian Klaten.
Baca Juga: Polres Klaten Gelar Donor Darah, Sukses Kumpulkan 1.019 Kantong Darah
Menurutnya, operasional dan manajemen event yang berjalan mulus menjadi bukti kematangan Klaten.
"Rangkaian gelaran internasional ini menjadi bukti bahwasanya secara persiapan, operasional dan evaluasi, Klaten sudah siap menasbihkan diri menjadi kota yang siap bersaing dengan Jogja dan Solo. Terutama dalam urusan event internasional," ujar Fahmi di sela-sela acara, Minggu (24/5/2026).
Fahmi memaparkan, dari total delapan hari pelaksanaan, empat hari pertama difokuskan pada konferensi ilmiah.
Sementara empat hari berikutnya dipenuhi dengan kegiatan bersepeda.
Baca Juga: Jalan-jalan Sembari Eksplor Sisa Bangunan Benteng Kolonial dan Kamar Bola di Klaten
Pada hari pamungkas, tercatat sekitar 8.000 peserta dari berbagai genre, komunitas, dan usia memadati area Candi Sewu.
"Ini sebuah langkah bagus sebagai awal budaya bersepeda kembali bangkit di Indonesia setelah sempat turun pascapandemi. Jika ditarik lebih jauh, gerakan ini turut membantu menjadi solusi di tengah langkanya dan mahalnya bahan bakar di Indonesia saat ini," imbuhnya.
Salah satu warisan penting dari ICHC 2026 adalah lahirnya Piagam Klaten.
Dokumen strategis ini diinisiasi oleh para akademisi, peneliti sejarah dan penggiat literasi sepeda yang berkumpul selama konferensi.
Fahmi menegaskan bahwa Piagam Klaten harus disikapi sebagai produk soft diplomacy Klaten dan Indonesia dalam upaya menumbuhkembangkan budaya bersepeda di tingkat global.
"Selama ini orang bergerak di bidang komunitas sepeda untuk olahraga, senang-senang, konten, atau sekadar weekend," ujar Fahmi yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Asosiasi BMX dan Founder Penny Farthing Indonesia.
Baca Juga: Persis Solo Terdegradasi, Pasoepati Sindir Owner: Bom Waktu Tidak Pernah Berisik
"Namun, dengan konsep Piagam Klaten yang mengangkat nilai sejarah, edukasi, dan budaya, ini akan mendorong banyak orang bersepeda dengan peduli untuk banyak manfaat. Dorongan akademisi inilah yang membuat nilai piagam ini lebih bermakna," lanjut dia.
Kesuksesan KLIC Fest 2026 kian lengkap dengan impresi positif dari para delegasi internasional yang hadir.
Fahmi menyebutkan, para delegasi asing merasa sangat terhormat dan takjub dengan sambutan hangat serta budaya bersepeda di Indonesia.
"Mereka tidak menyesal datang ke Indonesia. Setiap hari banyak orang bersalaman, berfoto, dan mengajak berbincang. Mereka merasa antusiasme bangsa Indonesia dalam meninggikan daya bersepeda jauh melebihi antusiasme di Eropa maupun Amerika," ungkapnya.
Ke depan, kesuksesan event berbasis sepeda ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi pemanfaatan potensi lokal Klaten lainnya. Fahmi menilai, kekuatan budaya adalah sektor yang paling dihormati dan menarik perhatian masyarakat internasional, khususnya Eropa.
"Ke depannya, nilai budaya lokal bisa dikembangkan lagi untuk menjadi menu internasional. Optimisme baru bagi Klaten bisa datang dari industri lurik, batik, wisata air atau potensi lainnya. Ketika negara barat kehilangan budaya, mereka justru mencari budaya-budaya unik yang belum mereka temui di negaranya," ujar Fahmi. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono