Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Atasi Krisis Lahan Sawah, Gita Pertiwi dan AQUA Klaten Kick Off Program Pertanian Berkelanjutan Wilayah Tengah-Hilir Sub DAS Pusur

Angga Purenda • Jumat, 29 Mei 2026 | 20:17 WIB
Gita Pertiwi bersama PT Tirta Investama (AQUA Klaten) resmi menggelar kick off keberlanjutan program pertanian berkelanjutan di Balai Desa Keprabon, Kecamatan Polanharjo, Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
Gita Pertiwi bersama PT Tirta Investama (AQUA Klaten) resmi menggelar kick off keberlanjutan program pertanian berkelanjutan di Balai Desa Keprabon, Kecamatan Polanharjo, Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Kabupaten Klaten menghadapi tantangan serius dalam keberlanjutan sektor pertanian. 

Mulai dari penurunan kesuburan tanah akibat ketergantungan pupuk kimia, keterbatasan air, perubahan iklim, laju alih fungsi lahan yang cepat hingga ancaman krisis regenerasi petani.

Merespons kondisi tersebut, LSM Gita Pertiwi bersama CSR PT Tirta Investama (AQUA Klaten) Klaten resmi menggelar kick off keberlanjutan program pertanian berkelanjutan di Balai Desa Keprabon, Kecamatan Polanharjo, Klaten pada Jumat (29/5/2026).

Program itu berfokus pada pengembangan usaha beras sehat berbasis pertanian regenerative. 

Termasuk penguatan kelembagaan petani di wilayah tengah dan hilir Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Pusur.

Baca Juga: Wujud Kepedulian Sosial, BRI Cabang Klaten Distribusikan 180 Paket Daging Kurban ke PKL hingga Lapas Kelas IIB Klaten

Direktur Program Gita Pertiwi Titik Eka Sasanti mengungkapkan, fokus utama program tersebut diarahkan pada komoditas padi untuk mempertahankan status Klaten sebagai lumbung beras. 

Sekaligus membenahi ekosistem pertanian dari hulu ke hilir.

"Tantangan di Sub DAS Pusur ini cukup kompleks. Hasil pengamatan kami menunjukkan rata-rata kandungan bahan organik tanah sawah di Klaten berada di bawah dua persen,” jelas Titik saat ditemui di Balai Desa Keprabon.

Selain itu, mayoritas pelaku pertanian di sini adalah petani penggarap dan penyewa yang usianya sudah tua. 

Dikarenakan bukan pemilik lahan, orientasinya adalah mengejar produksi instan dengan input kimia tinggi,

Melalui program tersebut, Gita Pertiwi mendorong pemulihan kualitas tanah dengan menambah pasokan bahan organik, serta memangkas penggunaan pupuk serta pestisida kimia sintetis.

Manajemen air juga diubah dari sistem genangan penuh menjadi sistem irigasi berselang untuk menghemat air yang kian terbatas. 

Terkait sebaran wilayah, penerapan pertanian regeneratif ini mencakup empat kecamatan dari wilayah tengah hingga hilir, yakni Tulung, Polanharjo, Delanggu dan Juwiring.

"Untuk wilayah tengah Sub DAS Pusur, luasan lahan yang dikembangkan mencapai 40 hektar. Sementara di wilayah hilir, program menyasar seluas 451 hektar," papar Titik.

Ada beberapa varietas padi pilihan yang hendak dikembangkan karena kesesuaian lahan dan tingginya preferensi pasar. 

Baca Juga: Percepat Pengentasan RTLH, Pemkab Klaten Salurkan Bantuan Rehab Senilai Rp 3,7 Miliar untuk 250 Unit Rumah

Di antaranya Mentik Susu, Mentik Wangi, C4/IR hingga varietas lokal legendaris Rojolele Srinuk.

"Mentik Susu jadi salah satu unggulan karena pasarnya sangat loyal. Harganya di tingkat konsumen berkisar Rp 18.000 per kilogram, atau lebih mahal Rp 1.500-Rp 2.000 dibanding beras biasa. Keunggulannya, varietas ini sangat cocok untuk daerah dengan air terbatas dan umur panennya hanya selisih 10-15 hari lebih lama dari padi biasa," tambah Titik.

Koordinator CSR PT Tirta Investama Klatena tau AQUA Klaten Joko Santosa menegaskan, program tersebut merupakan wujud nyata komitmen perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan di sekitar area operasional pabrik.

"Komitmen kami jelas, kesuksesan perusahaan tidak boleh berhenti di dalam pagar pabrik saja. Tapi harus membawa manfaat nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Baik di hulu melalui konservasi, maupun di wilayah tengah dan hilir melalui sektor pertanian," kata Joko.

Program tahun ini direncanakan menyasar lima desa utama, yakni Keprabon, Wangen, Ponggok, Polanharjo dan Delanggu. Serta wilayah yang tergabung dalam Forum Komunikasi Paguyuban Petani Pengguna Air (FK-P3A).

"Kami ingin mereplikasi kesuksesan di Juwiring, di mana kolaborasi melalui Peraturan Bersama Kepala Desa (Perkades) di 7 desa mampu membuat aliran irigasi menjadi lancar kembali," tutur Joko.

Harapannya, kata dia, sistem kelembagaan yang kuat bisa terbentuk di wilayah FK-P3A Ceper, Keprabon, Wangen maupun Ponggok.

Apresiasi Pemkab Klaten

Apresiasi datang dari Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten Lilik Nugraharja. 

Menurutnya, dibutuhkan program yang diselenggarakan oleh pihak ketiga untuk membantu Pemkab Klaten dalam rangka mengembalikan ke potensi alam.

Baca Juga: Percepat Pengentasan RTLH, Pemkab Klaten Salurkan Bantuan Rehab Senilai Rp 3,7 Miliar untuk 250 Unit Rumah

“Karena selama ini sudah banyak menggunakan bahan tambahan kimia. Maka itu ini diharapkan nanti lebih ke organik, artinya biar ada pengurangan penggunaan bahan kimia untuk pertanian kita,” ujarnya.

Ke depan, pihaknya mengharapkan semakin banyak pihak swasta yang mengadakan program serupa. 

Di samping itu, DKPP juga terus berupaya dan mendorong petani untuk menggunakan pupuk organik dan pestisida nabati melalui pelatihan serta menggunakannya di lahan persawahan masing-masing. (ren/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#LSM Gita Pertiwi #DAS Pusur #aqua klaten #pertanian #csr