RADARSOLO.COM-Pengurus Indonesia Esports Association (IESPA) Klaten masa bakti 2026–2030 resmi dilantik oleh Ketua Umum Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Provinsi Jawa Tengah Edi Purwanto.
Prosesi pelantikan berlangsung di Pendapa Pemkab Klaten, Minggu (31/5/2026).
Berdasarkan SK yang dibacakan, struktur kepengurusan harian IESPA Kabupaten Klaten periode 2026-2030 diisi oleh kolaborasi tokoh muda berbakat.
Ketua IESPA Kabupaten Klaten dipimpin oleh Yohanes Febri Dwi Atmaja.
Baca Juga: Ingatkan Peristiwa Glamping Temanggung, Polres Boyolali Perketat Pengawasan Aturan Pendakian
Pria yang akrab dipanggil Jojo ini mengungkapkan bahwa industri mobile game di Klaten sebenarnya tumbuh sangat pesat dengan animo masyarakat yang tinggi.
Sayangnya, selama ini belum ada wadah resmi yang mengarahkannya dengan baik.
"Kehadiran IESPA di Klaten diharapkan bisa benar-benar mewadahi dan mengarahkan teman-teman yang sudah menjadi pro player maupun atlet. Secara prestasi, Klaten ini luar biasa, bukan hanya di Jawa Tengah tapi hingga tingkat nasional," ujar Jojo, Minggu (31/5/2026).
Tingginya antusiasme ini terlihat dari komunitas lokal. Jojo membeberkan, dalam satu kali turnamen di tingkat kecamatan saja, rata-rata ada 400 anak yang berkumpul.
Kisaran usia pemain didominasi oleh kalangan produktif dan pelajar. Mulai dari jenjang SMP hingga umum.
Baca Juga: Daftar Drakor Terbaru Tayang Juni 2026, Ada Doctor on the Edge hingga Agent Kim Reactivated
Menatap agenda terdekat, IESPA Klaten langsung memasang target tinggi.
Mereka membidik medali emas dalam ajang Festival Olahraga Masyarakat Daerah (Forda) Jawa Tengah yang rencananya akan digelar di Kota Semarang tahun ini.
Untuk mencapai target tersebut, IESPA Klaten akan menjalankan program kerja.
Langkah awal yang akan diambil adalah melakukan scouting secara masif melalui sistem liga lokal dan kompetisi.
"Rencana tahun ini kita harus melahirkan tim yang memiliki lapis 1, lapis 2, lapis 3, hingga lapis 4 karena kompetisinya cukup banyak. Pemain-pemain hasil scouting ini nantinya akan kita bina dan masukkan ke dalam training camp untuk dipersiapkan menjadi atlet profesional," tambahnya.
Dirinya tidak menampik, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia esports saat ini adalah stigma negatif dari orang tua yang menganggap bermain game hanya membuang-buang waktu.
Menjawab tantangan tersebut, IESPA Klaten berkomitmen masuk ke dunia pendidikan guna memberikan edukasi dan workshop.
IESPA ingin mengubah pola pikir masyarakat bahwa esports bukan lagi sekadar hobi. Melainkan olahraga prestasi yang menjanjikan.
"Kami akan ke sekolah-sekolah untuk edukasi. Bahkan, kalau memungkinkan tahun ini kami akan membentuk Duta Game yang isinya adalah para guru di sekolah," kata Jojo.
"Tujuannya agar ketika kami memprogramkan esports ke tingkat prestasi, pihak sekolah dan guru bisa memberikan dukungan penuh karena murid-murid mereka juga banyak yang bermain game," imbuhnya.
Demi mendukung ekosistem esports yang sehat di Klaten, IESPA sangat mengharapkan kehadiran pemerintah dalam penyediaan fasilitas penunjang.
Mengingat para pemain di Klaten kerap kesulitan mendapatkan akses sarana yang mumpuni.
"Kami sangat berharap dukungan pemerintah hadir. Khususnya terkait fasilitas seperti koneksi internet yang memadai serta penyediaan tempat atau Game House bersama," harapnya. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono