RADARSOLO.COM-Komunitas Tuli Klaten (KTK) bersama tim Program Pengabdian kepada Masyarakat dari dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta serta perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK) sukses menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Batik Cap Mix Batik Ciprat, Sabtu-Minggu (30–31/5/ 2026)
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang berjudul “Inovasi Seni Inklusif Difabel Tuli Klaten melalui Festival Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026”.
Kegiatan yang diikuti 20 peserta remaja dari komunitas tuli itu dilaksanakan di Sekretariat PPDK Klaten, Kelurahan Bareng Lor, Klaten.
Baca Juga: Karya Desainer Asal Riau Terpilih Jadi Logo Resmi Hari Jadi ke-222 Klaten, Ini Keistimewaannya
Pelatihan menghadirkan inovasi berupa perpaduan antara teknik batik cap dan batik ciprat.
Jika selama ini batik ciprat telah menjadi media ekspresi kreatif yang akrab bagi anggota Komunitas Tuli Klaten, maka teknik batik cap diperkenalkan untuk memperkaya ragam visual.
Di sisi lain, melalui teknik batik cap dapat membangun identitas kolektif yang lebih kuat melalui motif khas komunitas.
Selama pelatihan, Juru Bahasa Isyarat menjadi jembatan untuk komunikasi antara tim dengan mitra sasaran.
Kegiatan dibuka langsung oleh tim pelaksana program yang terdiri dari akademisi dan praktisi seni.
Yakni Angga Kusuma Dawami, Danang Priyanto dan Wisnu Samodro.
Ketua PPDK Klaten Qoriek Asmarawati menyampaikan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya ruang belajar dan berkarya yang inklusif ini.
"Kami sangat mengapresiasi ruang belajar ini. Melalui perpaduan teknik ini, teman-teman Tuli tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga memperkuat rasa percaya diri serta kebanggaan terhadap identitas komunitas mereka," ujar Qoriek.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai teknik pembuatan batik cap, pengembangan desain motif dan penerapan cap pada kain.
Termasuk mengintegrasikan dengan teknik ciprat yang selama ini menjadi ciri khas karya teman-teman Tuli.
Baca Juga: Bentrok di Pengging Boyolali Dipicu Masalah Sepele, Polisi Buru Kelompok yang melakukan Penyerangan
Selain aspek teknis, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam proses membatik. Khususnya terkait penggunaan malam panas dan peralatan pendukung lainnya.
Pendampingan dilakukan secara intensif untuk memastikan seluruh peserta dapat mengikuti proses kreatif dengan aman dan nyaman. Mulai dari pembuatan pola, pembuatan cap, pengecapan pada kain serta finishing batik.
”Salah satu capaian penting dalam kegiatan ini adalah dimulainya proses perancangan motif dan desain cap yang merepresentasikan identitas Komunitas Tuli Klaten. Berbagai ide visual yang berangkat dari pengalaman hidup, budaya dan semangat inklusivitas dikembangkan secara partisipatif,” jelas Qoriek.
Untuk selanjutnya diwujudkan dalam bentuk cap berbahan plat tembaga. Motif tersebut diharapkan menjadi identitas visual khas yang membedakan karya-karya Komunitas Tuli Klaten.
Qoriek menjelaskan, antusias peserta terlihat sepanjang pelatihan. Banyak peserta Tuli mengaku memperoleh pengalaman baru karena untuk pertama kalinya mempelajari dan mempraktikkan teknik batik cap yang dipadukan dengan batik ciprat.
Karya yang dihasilkan akan dikembangkan menjadi busana artistik yang akan digunakan dalam pertunjukan pantomim pada Festival Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026.
Oleh karena itu, pada akhir pelatihan peserta juga diperkenalkan pada latihan dasar pantomim sebagai bagian dari integrasi antara seni rupa, desain busana, dan seni pertunjukan. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono