Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Pesanan Celana Dalam Ikut Lesu, Begini Isi Doa Pelaku Usaha Konveksi Rumahan di Ngawen Klaten

Angga Purenda • Rabu, 3 Juni 2026 | 18:16 WIB

Pekerja memproduksi pakaian dalam di Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Pekerja memproduksi pakaian dalam di Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM- Situasi global yang tidak pasti membuat lonjakan harga bahan baku konveksi.

Kondisi itu memukul puluhan pelaku usaha konveksi di Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Klaten.

Sentra konveksi yang dikenal sebagai Kampung Celana Dalam itu harus atur strategi untuk bertahan.

Baca Juga: Hasil Seleksi SMP PK Solo, 150 Siswa Lolos Dengan IQ Tertinggi Tembus 136

Desa Tempursari merupakan pusat konveksi rumahan yang menaungi sekitar 60 pelaku usaha.

Mayoritas memproduksi pakaian dalam, baik untuk laki-laki, perempuan hingga anak-anak secara turun-temurun sejak era 1960-an.

Salah satu pelaku usaha yang terdampak adalah Fakhrudin, 58.

Pemilik konveksi rumahan merek Nafisah di Desa Tempursari ini mengungkapkan, kenaikan harga bahan baku sudah mulai terasa sejak Februari lalu, tepatnya sebelum momen Lebaran.

"Terutama bahan baku plastik ini, tinggi sekali kenaikannya. Sebelum Lebaran harga plastik masih Rp30 ribu per kilogram (kg), sekarang sudah melonjak jadi Rp52 ribu per kg. Ada kenaikan Rp22 per kguntuk plastik," ujar Fakhrudin ditemui di rumah produksinya, Selasa (2/6/2026).

Baca Juga: Penampakan Dadan Hindayana Pakai Rompi Pink, Ditahan Kejagung Usai Sehari Dicopot dari Jabatan Kepala BGN

Tidak hanya plastik, harga kain yang menjadi bahan baku utama pun ikut melambung. Kenaikan kain rata-rata mencapai Rp10 ribu per kg. 

Kain jenis Polyethylene (PE) yang saat ini paling diminati pasar dibanding katun—sebelumnya dibanderol Rp44 ribu. Kini merangkak naik ke angka Rp54 ribu.

"Selain kain dan plastik, benang dan elastik (karet) juga naik semua. Informasinya karena dampak situasi global, perang, dan kondisi ekonomi yang tidak menentu. Kami tidak tahu kondisi ini akan sampai kapan," keluhnya.

Situasi ini membuat para pelaku usaha berada di posisi dilematis. Di satu sisi, mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual produk ke pasar secara drastis karena takut kehilangan konsumen.

Baca Juga: Ruang Publik Solo Dikepung Isu Asusila: DPRD Desak Integrasi CCTV ke Central Room yang Bisa Diintip Warga

Alhasil, para pelaku usaha memilih mengorbankan margin keuntungan mereka agar roda produksi tetap berputar.

Fakhrudin mengaku, keputusannya untuk bertahan membuat keuntungan bersihnya terpangkas hingga 50 persen.

Jika biasanya per lusin ia bisa mengantongi keuntungan hingga Rp10 ribu, kini ia harus rela hanya mendapatkan separuhnya.

"Kalau mengurangi pegawai sih tidak, kami tetap pertahankan. Yang jelas mengurangi untung sampai separonya. Sekarang per bulan paling rata-rata untung bersih sekitar Rp 1 jutaan. Bagi kami yang penting jalan dulu, ekonomi berputar. Masalah keuntungan dipikir sambil jalan," urai dia.

Himpitan luar biasa bagi konveksi Fakhrudin yang khusus memproduksi pakaian dalam ini kian lengkap dengan melemahnya daya beli masyarakat.

Pasar lokal seperti Klaten, Solo, Boyolali, Yogyakarta, Semarang, hingga luar daerah seperti Jawa Barat, Jakarta, dan Surabaya tengah lesu.

Baca Juga: Gol Tendangan Bebas Joko Pur Selamatkan Persebi Boyolali dari Kekalahan Kontra Persika 1951 di Liga 4 Piala Presiden

Penurunan omzet penjualan dirasakan sangat drastis sejak dua bulan terakhir.

Fakhrudin membeberkan, dalam kondisi normal, dirinya mampu menjual sekitar 500-600 lusin celana dalam per bulan.

"Sekarang untuk dapat separonya saja berat. Penurunan permintaan pasar otomatis terjadi karena daya beli yang memang sedang turun," jelasnya.

Saat ini, kapasitas produksi harian konveksi Nafisah berkisar antara 40-50 lusin dengan harga jual berkisar antara Rp30 ribu-Rp100 ribu per lusin. Tergantung ukuran dan bahan. 

Dalam proses produksi, Fakhrudin dibantu oleh enam orang pekerja, meski saat ini beberapa di antaranya sering libur karena musim hajatan di desa setempat.

Baca Juga: Idul Adha 1447 Hijriah Sukoharjo Sembelih 20.752 Ekor Kurban, Meningkat Dibanding 2025

Ketidakpastian harga bahan baku di pasaran diakui sangat mengganggu stabilitas usaha konveksi legendaris di Tempursari.

Fluktuasi harga yang terjadi terlalu cepat menyulitkan para pelaku usaha untuk membuat kalkulasi bisnis dan menentukan harga jual ke pedagang grosir.

"Sangat mengganggu sekali. Kami mau jual (dengan harga baru) juga tidak bisa karena kepastian harga bahan baku belum jelas. Takutnya kita naikkan harga sekarang, besok bahan bakunya naik lagi," kata Fakhrudin.

Mewakili puluhan pelaku usaha konveksi rumahan di Desa Tempursari, ia berharap kondisi perekonomian bisa segera normal kembali.

Pemerintah diharapkan mampu mengendalikan stabilitas harga bahan baku industri tekstil rumahan agar memiliki patokan yang jelas.

Baca Juga: Namanya Disebut-Sebut dalam Pledoi Nadiem Makarim, Jokowi Buka Suara: Semua Kebijakan Memang dari Presiden

"Harapan kami yang penting harganya menentu dan pasti. Kalau naik sekian persen tapi jelas, kami menghitungnya juga enak. Sekarang mau menaikkan harga jual Rp10 ribu saja belum pasti, karena tahu-tahu harga bahan di pasar naiknya sudah Rp20 ribu. Semua pelaku usaha di sini sekarang cuma bisa bertahan sambil berdoa semoga normal kembali," bebernya

Salah satu tenaga kerja konveksi pakaian dalam di Desa Tempursari, Ngawen, Mulyantini, 55, mengaku hanya menggantungkan nasibnya pada pekerjaan tersebut.

Maka itu, dirinya berharap dunia industri konveksi rumahan bisa bangkit kembali.

“Saya sudah 15 tahun bekerja di konveksi rumahan. Senangnnya itu, kalau setiap Sabtu pasti dapat bayaran. Soalnya sangat membantu untuk pemasukan keluarga,” jelasnya. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#usaha konveksi rumahan #produk celana dalam #ngawen klaten #plastik #bahan baku