RADARSOLO.COM-Pemkab Klaten menunjukkan komitmen serius dalam menekan angka stunting melalui penguatan kolaborasi lintas sektor.
Langkah tersebut ditegaskan dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) Kabupaten Klaten Tahun 2026 yang berlangsung di Pendapa Pemkab Klaten, Kamis (4/6/2026).
Acara dihadiri sekira 250 peserta, mulai dari Tim Penggerak (TP) PKK kabupaten hingga kecamatan, Dharma Wanita Persatuan (DWP) dan organisasi profesi.
Baca Juga: Kurangi Beban TPA Putri Cempo, Pemkot Gandeng Kampus Kelola Sampah dari Hulu
Begitu juga perguruan tinggi, dunia usaha, Baznas, para Camat, ahli gizi Puskesmas, penyuluh KB hingga kader Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Dalam laporannya, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3APPKB) Klaten Puspo Enggar Hastuti menyampaikan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Klaten per April 2026 berada di angka 13,39%.
"Kita masih di angka dua digit. Belum bisa mewujudkan apa yang menjadi target Bapak Bupati yaitu satu digit. Oleh karena itu, melalui program Genting ini kita terus pacu. Saat ini, wilayah dengan prevalensi tertinggi masih bertahan di Kecamatan Bayat karena kondisi geografis, disusul oleh Polanharjo," ujar Puspo dalam laporannya.
Lebih lanjut, Puspo menyegarkan kembali pemahaman bahwa sasaran program Genting berfokus pada keluarga berisiko stunting dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Yakni ibu hamil, ibu menyusui dan bayi usia 0-23 bulan (baduta).
Intervensi yang diberikan pun tidak melulu soal pemenuhan nutrisi atau Makanan Bergizi Gratis (MBG). Melainkan juga bantuan non-nutrisi seperti pembangunan jamban, rumah layak huni serta akses air bersih dan sanitasi.
Berdasarkan data yang dipaparkan, program Genting di Klaten mencatatkan capaian luar biasa. Pada tahun 2025, dari target 4.612, Klaten mampu merealisasikan bantuan kepada 7.353 sasaran.
Baca Juga: Disdikbud Wonogiri Minta Sekolah Bantu Orang Tua Siswa yang Kesulitan Daftar SPMB Online
Keberhasilan yang melampaui target ini memicu optimisme baru untuk tahun 2026. Hal ini menjadikan target dinaikkan menjadi 6.046 sasaran dengan Kecamatan Bayat memegang target tertinggi sebanyak 506 sasaran.
Sementara itu, cakupan layanan program 3B (Balita, Bumil, Busui) yang mendapatkan makanan bergizi juga melonjak tajam dari 3.759 jiwa di 2025 menjadi 6.869 jiwa pada 2026.
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Setda Klaten Joko Istianto yang hadir membacakan sambutan tertulis Bupati Klaten memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, TP PKK dan mitra strategis yang mengawal program Genting.
Baca Juga: 10 Pejabat Baru Pemkab Karanganyar Dilantik, Bupati Minta segara Tancap Gas
Joko menegaskan bahwa stunting bukan sekadar masalah tinggi badan, melainkan ancaman nyata terhadap masa depan kecerdasan anak bangsa dan ketahanan daerah.
"Tahun 2026 ini harus menjadi momentum pembuktian bahwa dengan gotong royong kita bisa menurunkan angka stunting secara signifikan. Kita tidak boleh lagi bekerja secara biasa-biasa saja. Kita butuh gerakan luar biasa yang mengakar dari bawah," tegas Joko.
Ia juga menjelaskan alasan kuat di balik penekanan konsep Orang Tua Asuh.
Penanganan stunting adalah tanggung jawab moral setiap pihak yang memiliki kelebihan rezeki, bukan hanya tugas dinas terkait.
"Saya ingin mendengar laporan berkala dari gerakan Genting ini dan kita akan lakukan evaluasi bersama setiap triwulan," tambahnya.
Sebagai bentuk apresiasi, dalam acara ini Pemkab Klaten juga menyerahkan piagam penghargaan kepada sejumlah organisasi dan dunia usaha yang dinilai paling berkontribusi dan memberikan bantuan terbanyak dalam program Genting.
Penghargaan diserahkan oleh Staf Ahli Bupati bersama Ketua TP PKK Kabupaten Klaten.
Baca Juga: Serangan Tikus dan Penggerek Mengganas di Boyolali, Lahan Pertanian yang Terdampak Meluas
Rangkaian rakor kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi panel yang menghadirkan narasumber berkompeten, yaitu Ketua TP PKK Kabupaten Klaten Farani Hamenang serta Nasri Yastiningsih selaku Ketua Tim Kerja Hubungan Antar Lembaga dan Advokasi/KIE di perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono