RADARSOLO.COM — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten mulai melakukan langkah dalam mengantisipasi dampak musim kemarau tahun 2026.
BPBD Klaten menjadwalkan asesmen menyeluruh guna memetakan kebutuhan air bersih di daerah rawan kekeringan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten Anjung Darojati Nuruzzaman mengungkapkan, proses asesmen akan dimulai pada minggu ini hingga pekan depan.
Baca Juga: Balap Liar Jadi Target, Puluhan Motor Berknalpot Brong Diamankan di Solo
"Kami berencana baru mau mulai asesmen untuk kebutuhan air bersih menghadapi musim kemarau mungkin di minggu ini atau minggu depan," ujar Anjung belum lama ini.
"Jika hasil asesmen menunjukkan adanya kebutuhan penanganan, kami akan segera merapatkan hal tersebut untuk pembuatan SK Bupati terkait status siaga meteorologi," imbuhnya.
Untuk tahun anggaran 2026, BPBD Klaten telah mengalokasikan anggara sekira Rp 300 juta melalui APBD yang diproyeksikan untuk pengadaan dan penyaluran air bersih (dropping).
Target awal dari penganggaran ini adalah pemenuhan 1.000 tangki air bersih.
Meski demikian, Anjung mengakui ada kekhawatiran mengenai realisasi jumlah tangki tersebut.
Faktor fluktuasi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi menjadi tantangan utama karena armada truk pemadam dan tangki BPBD wajib menggunakan bahan bakar nonsubsidi seperti Pertamax atau Dexlite.
Baca Juga: SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Sabet Nilai TKA Tertinggi Se-Kota Solo, Dua Siswa Raih Nilai 100!
“Untuk realisasinya sangat bergantung pada dinamika harga BBM ke depan,” tambah Anjung.
Berdasarkan pemetaan BPBD, wilayah yang menjadi potensi utama kerawanan air bersih masih didominasi oleh wilayah lereng Gunung Merapi.
Khususnya di Kecamatan Kemalang. Beberapa titik di antaranya Desa Tlogowatu, Desa Tangkil dan Desa Tegalmulyo
Meskipun secara umum BPBD belum menetapkan status darurat kekeringan secara resmi, distribusi air bersih secara stimulan sudah mulai berjalan berdasarkan permintaan mendesak dari warga.
Baca Juga: Perwali Sampah Segera Terbit, Warga Solo Diminta Mulai Pilah dari Rumah
Salah satunya terjadi di Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang. Pihak Pemerintah Desa setempat telah mengajukan bantuan air bersih untuk fasilitas ibadah.
Perangkat Desa Tegalmulyo, Subur membenarkan bahwa kawasan lereng Merapi di desanya mulai merasakan dampak kemarau.
Saat ini, prioritas dropping air diarahkan untuk tempat ibadah, khususnya di wilayah dataran tinggi seperti Dusun Sapuangin.
"Beberapa hari yang lalu sudah mulai dropping air bersih untuk kebutuhan tempat ibadah, masjid terutama. Beberapa hari tidak ada hujan, ini sudah pesanan dari beberapa titik masjid," kata Subur.
Subur menambahkan, secara umum cadangan air milik warga Tegalmulyo sebenarnya masih mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun, tidak menampik bahwa sebagian kecil masyarakat yang cadangannya menipis sudah mulai berinisiatif membeli air bersih secara swadaya demi memenuhi kebutuhan harian mereka.(ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono