Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kerap Picu Banjir, Warga Desa Pesu Desak Renovasi Jembatan Balong Peninggalan Belanda

Angga Purenda • Rabu, 10 Juni 2026 | 14:01 WIB
Jembatan Balong di Desa Pesu, Kecamatan Wedi, Klaten yang mendesak untuk direvitalisasi. (Angga Purenda/Radar Solo)
Jembatan Balong di Desa Pesu, Kecamatan Wedi, Klaten yang mendesak untuk direvitalisasi. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM- Warga Desa Pesu, Kecamatan Wedi, Klaten mendesak pemkab segera merenovasi Jembatan Balong yang membentang di atas alur anak Sungai Bengawan Solo.

Usulan perbaikan infrastruktur vital penghubung antarkecamatan ini telah diajukan berulang kali selama beberapa tahun terakhir.

Namun hingga kini realisasinya masih menemui jalan buntu.

Jembatan Balong merupakan jalur kabupaten yang terletak di perbatasan antara Desa Pesu, Kecamatan Wedi, dengan Desa Kragilan, Kecamatan Gantiwarno.

Jembatan yang berada di Dusun Balon tersebut memiliki spesifikasi panjang sekitar 7 meter dan lebar 2,5 meter.

Baca Juga: Siasat Perajin Keripik Premium di Mojosongo Boyolali Hadapi Lonjakan Harga Minyak Goreng dan Plastik Kemasan

Akibat lebarnya yang terbatas, akses transportasi menjadi terhambat.

Kendaraan roda empat atau mobil yang hendak melintas dari arah berlawanan harus rela mengantre dan bergantian satu per satu.

Berdasarkan sejarahnya, struktur jembatan tersebut merupakan bangunan peninggalan era kolonial Belanda yang belum pernah tersentuh renovasi modern.

Karakteristik arsitektur lama tersebut ditandai dengan keberadaan satu tiang penyangga berukuran sangat besar yang berdiri kokoh tepat di tengah badan sungai.

Keberadaan tiang penyangga di tengah sungai tersebut kini menjadi persoalan utama bagi warga sekitar.

Kasi Pemerintahan Desa Pesu Ade Sutanto menjelaskan, tiang tersebut secara signifikan menghambat aliran air, terutama saat debit sungai meningkat.

Arus air yang membawa material sampah, eceng gondok, rumpun bambu hingga ranting pohon kerap tersangkut dan menumpuk di bawah jembatan.

Hal itu memicu kedangkalan sungai dan menyumbat aliran air.

"Hampir setiap musim hujan, tidak hanya sekali dua kali, warga harus gotong-royong membersihkan eceng dontok dan ranting yang menyangkut di jembatan. Biaya operasional mandiri untuk gotong-royong itu saja bisa habis lebih dari Rp 500.000 setiap aksi,” ujar Ade kepada radarsolo.jawapos.com.

Dampak dari sumbatan tersebut, Ade mengungkapkan, wilayahnya sempat dilanda bencana banjir besar pada tahun 2020 lalu akibat luapan air jembatan ini.

Baca Juga: Mengulas Format Baru Piala Dunia 2026: Turnamen Lebih Besar dengan Peluang Kejutan Lebih Banyak

Bahkan hingga kini, setiap musim hujan tiba, warga dusun yang tinggal di dekat lokasi selalu menjadi korban terdampak langsung.

“Kalau kita menggunakan tenaga bayaran untuk membersihkan, biayanya bisa membengkak," tambah Ade

Ade menambahkan, Pemerintah Desa Pesu telah menempuh berbagai jalur formal untuk meminta bantuan perbaikan.

Mulai dari usulan melalui anggota DPR beberapa tahun lalu hingga pengajuan berkala ke tingkat kabupaten dan provinsi.

“Aspirasi ini bahkan didukung penuh oleh pemerintah desa tetangga, yakni Desa Kragilan, Kecamatan Gantiwarno. Tapi usulan tersebut selalu gagal dalam tahap tindak lanjut anggaran,” ucapnya.

Aspirasi itu sebenarnya juga disuarakan secara langsung oleh Kepala Desa Pesu Budi Hartono dalam acara Sambung Rasa yang digelar di Gedung Serbaguna Desa Pesu, Jumat (5/6/2026).

Merespons desakan tersebut, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dalam sambutannya mengakui telah menerima usulan renovasi Jembatan Balong.

Namun Hamenang menjelaskan, pada tahun anggaran ini, Pemkab Klaten memprioritaskan perbaikan dua jembatan lain di wilayah Kecamatan Wedi yang kondisinya mengalami kerusakan jauh lebih kritis.

Baca Juga: Jawab Keluhan Warga Soal Naiknya Harga Sembako, Pemerintah Kecamatan Gantiwarno Gelar Gerakan Pangan Murah

Kedua jembatan yang diprioritaskan tersebut adalah Jembatan Gempol I dan Jembatan Gempol IV yang terletak di ruas jalan penghubung Desa Pasung, Kecamatan Wedi, dengan Desa Karangturi, Kecamatan Gantiwarno.

Sebelumnya, kedua infrastruktur jembatan mengalami kerusakan struktural yang sangat parah, bahkan Jembatan Gempol IV sempat ambles pada awal 2026 hingga memutus total akses kendaraan.

"Untuk Jembatan Gempol I dan Gempol IV saat ini sudah mulai dilakukan drop material di lokasi, sehingga pekan depan Insya Allah pelaksanaan konstruksi fisiknya sudah mulai berjalan," ujar Hamenang. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#jembatan balong #desa pesu #kecamatan wedi klaten #desak renovasi #banjir