RADARSOLO.COM- Sebuah warung di sisi timur Kabupaten Klaten ramai dikunjungi pembeli dari berbagai daerah sejak pertama kali dibuka setahun lalu.
Bukan sekadar menawarkan lokasi yang unik, destinasi kuliner ini memikat hati pengunjung berkat konsep menu sarapan ala hotel berbintang yang disajikan di tengah suasana pedesaan yang syahdu.
Warung itu bernama Lokal Bersinar. Terletak di tepi Jalan Lingkar Timur Delanggu, Desa Tlobong, Kecamatan Delanggu.
Tempat nongkrong yang mengusung label slow living area ini menempati bekas bangunan SDN 2 Tlobong yang telah mangkrak sejak tahun 2019.
Tetapi di tangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Manunggal Karya Tlobong, aset desa yang telantar dan sempat tak dialiri listri dan air itu disulap menjadi unit usaha kuliner yang produktif.
Pengunjung dapat menikmati hidangan di dalam bekas ruang kelas hingga halaman sekolah yang luas.
Sembari memandang hamparan persawahan yang mengapit kanan-kiri lokasi.
Kenyamanan suasana kian lengkap dengan guratan narasi motivasi yang tertulis di dinding-dinding bangunan lama yang tetap terjaga keamanannya.
Ide warung Lokal Bersinar itu lahir dari tangan dingin Direktur BUMDes Manunggal Karya Tlobong Yohanes Toni Purwanto.
Pria yang akrab disapa Toni ini bukanlah orang baru di dunia hospitality. Ia memiliki rekam jejak mumpuni selama 15 tahun bekerja di kapal pesiar dan 7 tahun di manajemen hotel berbintang.
Memanfaatkan waktu luangnya di pagi hari, Toni tertantang untuk mendobrak kebiasaan sarapan lokal yang selama ini identik dengan menu soto.
"Mindset masyarakat di sini kalau pagi itu sarapannya soto. Tantangan kami adalah bagaimana caranya tampil beda, anti-mainstream. Selain itu, tujuan saya sejak awal adalah pemberdayaan, jadi saya tidak mau membuka warung yang mematikan rezeki warung-warung soto milik warga sekitar," ujar Toni saat ditemui langsung di lokasi, Jumat (12/6/2026).
Lokal Bersinar beroperasi setiap hari mulai pukul 06.00-10.00. Menu sarapan yang dihadirkan mengadopsi konsep Continental, American hingga Asian breakfast ala hotel.
Pengunjung bisa menikmati nasi goreng, sup iga, omelet sosis kentang, croissant hingga dimsum.
Menu andalannya adalah nasi goreng, sebuah menu nostalgia masa kecil yang jarang ditemui di warung pagi hari sekitaran Delanggu, mengingat baru buka saat siang atau malam.
Meski menyajikan menu kelas hotel, harganya sangat ramah kantong pedesaan. Makanan dipatok maksimal Rp18.000.
Sedangkan minuman berkisar di harga Rp 4.000- Rp 10.000. Khusus akhir pekan, variasi menu akan bertambah dan rutin diinformasikan melalui media sosial.
Menariknya, Lokal Bersinar tidak dibangun menggunakan modal awal dari Pemerintah Desa (Pemdes) maupun penyertaan modal awal BUMDes.
"Modal awal total dari pribadi. Sewaktu usaha ini mulai berkembang, antusiasme bagus, saya gandeng adik saya sebagai investor untuk menambah modal penataan aset yang dulunya mangkrak. Baru setelah berjalan, ada suntikan dana beberapa juta dari Pemdes untuk menambah aset fisik seperti tenda," kenang Toni.
Untuk pengunjung, pada hari biasa terdapat 100-200 orang. Sedangkan untuk akhir pekan melonjak 300-500 pengunjung.
Banyak komunitas sepeda hingga pelancong dari Semarang, Jogja, Magelang hingga Bekasi sengaja datang ke Lokal Bersinar.
Prinsip utama Lokal Bersinar adalah kemandirian ekonomi warga. Pengelolaan kuliner di warung ini tidak menggunakan sistem dapur tunggal, melainkan dibagi menjadi 6 sampai 7 stan (outlet) yang diserahkan sepenuhnya kepada warga desa.
Toni merangkul pemuda, warga yang menganggur hingga korban PHK pabrik yang sama sekali tidak memiliki latar belakang sebagai koki (chef).
Mereka dididik langsung oleh Toni mulai dari proses pembelanjaan, manajemen suplai, penghitungan Harga Pokok Penjualan (HPP), hingga standar rasa resep hotel.
"Untuk di Lokal Bersinar ini, BUMDes maupun saya pribadi tidak mengambil profit uang secara langsung dari penjualan makanan warga. Hasil jualan murni milik warga. Manajemen hanya memotong retribusi per porsi, misalnya Rp1.000 untuk minuman dan Rp1.500 untuk makanan. Uang potongan itu dikelola manajemen lokal untuk operasional bersama seperti membeli tisu, sabun cuci piring dan menggaji petugas kebersihan," jelas Toni.
Sebagai bentuk kontribusi pemanfaatan aset desa, setiap stan dikenakan retribusi sewa tempat yang sangat ringan, yakni Rp 5.000 per hari, yang disetorkan ke kas pemerintah desa. Hal ini bisa menjadi Pendapatan Asli Desa (PAD) sekitar Rp 750.000- Rp 1 juta per bulannya.
"Harapan saya ekonomi warga jalan. Warga yang tadinya menganggur punya kesibukan positif dan berkarya di desanya sendiri. Kalau masyarakat produktif, suasana desa akan rukun dan gotong-royong kembali tercipta," pungkasnya.(ren)
Editor : Nur Pramudito