RADARSOLO.COM— Sebanyak 700 pelari dari berbagai daerah hingga mancanegara memadati objek wisata Watu Prau, Desa Gununggajah, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, pada Minggu pagi (14/6/2026).
Kehadiran ratusan runners ini guna ambil bagian dalam ajang sport tourism bergengsi, Run To Geopark Klaten 2.0.
Baca Juga: Mukhafi Fadli Ditunjuk sebagai Ketua DPC PKB Karanganyar, Bidik Kursi Pimpinan DPRD
Event trail running yang digelar untuk kedua kalinya ini sekaligus menjadi bagian dari momentum peringatan Hari Jadi ke-222 Kabupaten Klaten.
Keindahan alam berbalut tantangan ekstrem perbukitan purba Bayat yang kini tengah diusulkan menjadi kawasan Geopark menjadi magnet utama bagi para peserta.
Dalam event kali ini, panitia membuka dua kategori perlombaan, yakni rute 8 Km dan 15 Km.
Sejak bendera start dikibarkan di Watu Prau, para pelari langsung dihadapkan pada tantangan berat berupa tanjakan terjal dengan tingkat kemiringan mencapai 60 derajat.
Kondisi trek kian menantang lantaran wilayah Klaten sempat diguyur hujan lebat pada Jumat dan Sabtu (12-13/6/2026) sebelumnya.
Jalur tanah yang licin justru memacu adrenalin para pelari dari berbagai daerah. Seperti Karanganyar, Salatiga, Purworejo, Magelang, Sleman, hingga Gunungkidul.
Rasa lelah peserta terbayar tuntas saat mereka disuguhkan pemandangan elok dari puncak bukit Gunung Pendul serta keunikan trek batu di kawah putih yang ikonik.
Baca Juga: Sempat Tertunda Penyesuaian Harga, 26 Paket Proyek DPU Sragen Mulai Diumumkan Senin Sore
Tantangan ini diakui oleh Daniel, seorang pelari asal Kolombia, Amerika Selatan, yang saat ini tengah menempuh studi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Meski sudah sering menjajal jalur trail run di berbagai wilayah Indonesia, Ia mengaku sangat terkesan dengan karakteristik perbukitan Bayat.
"Saya sangat menikmati event ini, trek yang ditempuh cukup menantang. Lumayan licin karena hujan, tapi tetap aman. Tahun depan saya mau coba lagi di sini," ujar Daniel yang turun di kategori 15K dan sempat berbincang langsung dengan Bupati Klaten.
Selain pelari dewasa dan mancanegara, antusiasme juga datang dari pelari belia.
Salah satunya adalah Ali, 10, pelari cilik asal Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk. Siswa yang tergabung dalam klub lari lokal ini sukses menjadi salah satu pelari kategori 8K yang menyentuh garis finish di waktu awal.
"Ini kedua kalinya saya ikut Run To Geopark Klaten. Persiapannya hanya latihan seperti biasa di klub," tutur Ali.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Klaten Pandu Wirabangsa menjelaskan bahwa nama Run To Geopark bukan sekadar tajuk kompetisi.
Istilah tersebut membawa spirit besar pemkab untuk melakukan percepatan dalam mewujudkan legalitas kawasan Geopark Klaten.
"Niatnya Run To Geopark itu ibarat spirit kita untuk mengejar status Geopark. Berlari dalam arti sesungguhnya, sekaligus berlari dalam berproses agar ada percepatan karena jalurnya masih panjang," jelas Pandu.
Saat ini, proses pengajuan terus berjalan sesuai jalurnya.
Pemkab Klaten tengah berproses melengkapi syarat administrasi untuk mendapatkan Surat Gubernur terkait pengusulan Geopark, setelah sebelumnya berhasil menyusun rencana induk dan mendapat verifikasi dari Bappenas
Pemkab menargetkan kawasan tersebut bisa masuk dalam penilaian Kominite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) tahun ini.
Harapannya tahun depan bisa resmi menyandang status Geopark.
"Gol utamanya tentu untuk branding kabupaten sebagai arah pengembangan kawasan Klaten, sekaligus otomatis meningkatkan daya saing daerah," ucapnya.(ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono