RADARSOLO.COM-Ada yang unik dalam gelaran tradisi Kirab Pager Banyu yang berlangsung di kawasan lereng Gunung Merapi. Tepatnya di Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, pada Minggu (14/6/2026).
Di balik riuhnya iring-iringan kirab budaya tersebut, tersaji sebuah kuliner yang sarat makna bernama Jenang Manggul.
Sajian khas yang dibuat warga RT 16 RW 06 Dukuh Sidorejo ini menjadi hidangan utama yang dinikmati bersama oleh seluruh peserta kirab.
Jenang Manggul dihadirkan di tengah rute kirab membentang dari Kali Butuh menuju Kali Putih. Menembus kawasan yang dikenal sebagai Kampung Siluman di dalam area Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).
Baca Juga: Luasan Kawasan Kumuh Di Sukoharjo Berkurang 36,36 Hektare
Secara geografis, Kampung Siluman berada di ketinggian sekiRA 1.100 meter di atas permukaan laut (Mdpl) dan hanya berjarak 5 kilometer dari puncak aktif Gunung Merapi.
Kawasan seluas kurang lebih 15 hektare tersebut dulunya merupakan permukiman padat penduduk yang lenyap tak bersisa setelah tersapu dahsyatnya erupsi Merapi pada tahun 1930.
Kini sisa-sisa kehidupan masa lalu berupa jejak pekarangan dan area pemakaman kuno telah tertutup rapat oleh rimbunnya hutan pinus.
Di tempat bersejarah itulah, eksistensi Jenang Manggul menjadi pengikat spiritual warga dengan alam.
Ketua RT 16 Desa Sidorejo Jenarto mengungkapkan, Jenang Manggul merupakan hidangan yang wajib ada dalam tradisi kenduri warga setempat, terutama menjelang momen bulan Suro.
Baca Juga: Masuki Musim Kemarau, Damkar Boyolali Catat 19 Kasus Kebakaran dalam Waktu Sebulan
"Jenang Manggul itu biasa dibuat kenduri oleh warga sekitar sini, khususnya setiap tanggal 8 Suro. Intinya adalah untuk tolak bala, doa supaya kita semua senantiasa terhindar dari marabahaya dan bencana," ujar Jenarto saat ditemui di sela-sela kegiatan kirab.
Secara fisik, Jenang Manggul merupakan sajian bubur beras bercita rasa gurih.
Di atasnya, diberi aneka macam topping tradisonal seperti surendeng kelapa dan suwiran daging ayam, yang menambah kaya rasa.
Jenarto membeberkan, nama dan bentuk kuliner tersebut menyimpan filosofi mendalam tentang kebersamaan dan perlindungan.
Kata jenang atau bubur merupakan makanan bertekstur lembut yang bisa dikonsumsi oleh siapa saja tanpa sekat pembatas.
Baca Juga: Juli, Sekolah Rakyat di Mondokan Sragen Mulai Dibuka untuk Tahun Ajaran Baru
"Secara filosofi, jenang itu adalah makanan yang bisa dinikmati oleh semua umur, mulai dari bayi hingga lansia. Artinya, ketika warga berkumpul lintas generasi, kita bisa saling menikmati jenang secara bersama-sama," jelasnya.
Sementara kata manggul, lanjut Jenarto, merujuk pada simbol benteng atau perlindungan yang kokoh.
"Manggulnya itu bermakna benteng. Sebuah benteng spiritual bagi warga lereng Merapi supaya kita semua terhindar dari bencana dan bahaya," imbuhnya.
Di samping nilai luhur spiritualnya, kehadiran Jenang Manggul dalam kegiatan Kirab Pager Banyu itu juga memiliki sisi praktis yang meringankan beban warga. Terlebih lagi bahan dasar beras dan bumbu yang sederhana, hidangan ini menjadi solusi konsumsi yang sangat ramah di kantong.
"Sebenarnya ini juga cara kami untuk mengefektifkan anggaran kegiatan. Karena menu ini murah dan terjangkau. Warga tidak merasa terbebani secara biaya untuk membuat acara,” ujar Jenarto.
Baca Juga: Diikuti 48 Peserta, Baznas Klaten Gelar Pelatihan Potong Rambut untuk Tingkatkan Kesejahteraan Warga
Namun di sisi lain, nilai kebersamaannya sangat tinggi karena dari anak-anak sampai orang tua bisa duduk dan makan Jenang Manggul secara bersama-sama di alam terbuka di tengah rimbunnya hutan pinus pada Kampung Siluman tersebut.(ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono