RADARSOLO.COM-Bagi masyarakat Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, khususnya warga RT 16 dan RW 06 Dusun Sidorejo, menjaga kelestarian alam Gunung Merapi tidak hanya dengan menanam pohon semata.
Warga di lereng Merapi tersebut punya cara tersendiri untuk menyuarakan koservasi alam, yakni melalui penguatan seni dan budaya tradisional.
Berpusat di Kampung Siluman yang memiliki area seluas 15 hektare pada kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), warga RT 16 Desa Sidorejo berhasil membangkitkan kembali gariah berkesenian generasi muda.
Baca Juga: Sambut Hari Bhayangkara, Polsek Wonogiri Gelar Bakti Religi di Vihara Sradha Dhamma
Gerakan pemberdayaan ini dikemas secara apik melalui agenda budaya tahunan bertajuk Kirab Pager Banyu. Anak-anak dan pemuda desa tidak hanya sekadar menjadi penonton, melainkan melebur sebagai pelaku seni. Mereka dilatih mengekspresikan rasa syukur atas melimpahnya mata air Merapi.
Kirab Pager Banyu yang digelar pada Minggu (14/6/2026) menjadi panggung unjuk gigi bagi kekayaan tari tradisional kawasan lereng Merapi. Menyuguhkan rentetan tarian eksotis yang dibawakan secara kolosal oleh anak-anak.
Seperti Tari Langur, Tari Suko Pari Suko, Tari Satrio Mleto Kathok Amoh, Tari Othok Obral dan Tari Gedruk Merapi. Dari deretan karya seni tersebut, Tari Gedruk Merapi kini menjadi kebanggaan besar bagi masyarakat Sidorejo.
Seni tari yang menggambarkan kegagahan budaya lokal tersebut telah resmi tercatat dalam Surat Pencatatan Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal Ekspresi Budaya Tradisional (EBT).
Perlindungan hukum dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) ini mengacu pada UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Menegaskan bahwa kesenian tari lereng Merapi Klaten ini diakui dan dilindungi negara dari klaim pihak luar.
Selain Tari Gedruk Merapi, potensi aktivitas wisata Jelajah Kampung Siluman juga telah diakui secara nasional dengan menyabet Juara 1 Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2025 pada kategori Olahraga dan Petualangan.
Kendati mengantongi penghargaan bergengsi, warga Sidorejo memilih bersikap bijak. Mereka enggan mengeksploitasi Kampung Siluman menjadi panggung komersial massal demi materi semata.
“Memang belum dibuka untuk wisata (secara umum). Apalagi kami merasa belum siap, kami masih mencari pola. Kami juga siapkan terlebih dahulu SDM-nya,” ujar Ketua RT 16 Desa Sidorejo Jenarto saat ditemui radarsolo.com beberapa waktu lalu.
Seperti diketahui di Sidorejo sendiri sudah terdapat wisata Deles Indah yang dikenal dengan kegiatan trekking di lereng Merapi. Jenarto enggan buru-buru untuk menetapkan konsep yang hendak diusung di Kampung Siluman setelah nantinya dibuka untuk umum.
“Jika nantinya dibuka wisata, akan kami tawarkan terkait cerita sejarah Kampung Siluman. Begitu juga mengedepankan terkait konservasi alamnya,” ujar Jenarto.
Baca Juga: Siapkan Pernikahan Sehat, Dinkes Boyolali Imbau Calon Pengantin Lakukan Vaksinasi HPV
Secara geografis, Kampung Siluman berada di ketinggian sekira 1.100 meter di atas permukaan laut (Mdpl) dan hanya berjarak 5 kilometer dari puncak aktif Gunung Merapi.
Kawasan seluas kurang lebih 15 hektare tersebut dulunya merupakan permukiman padat penduduk yang lenyap tak bersisa setelah tersapu dahsyatnya erupsi Merapi pada tahun 1930.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo yang sempat hadir di Kampung Siluman dalam Kirab Pager Banyu beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa izin pemanfaatan kawasan untuk aktivitas wisata masih dalam proses.
Dirinya mendorong kegiatan konservasi alam berbalut seni dan budaya itu terus diadakan secara rutin setiap tahunnya. Termasuk digelar beragai event di lokasi tersebut sehingga bisa menjadi pembeda dari desa wisata sekitarnya. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono