Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Warga Jogonalan Klaten Keluhkan Tenggorokan Gatal dan Batuk setelah Konsumsi MinyaKita Bau Minyak Tanah

Angga Purenda • Kamis, 25 Juni 2026 | 14:16 WIB
Bantuan MinyaKita yang ditukar warga Desa Prawatan, Kecamatan Jogonalan, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)
Bantuan MinyaKita yang ditukar warga Desa Prawatan, Kecamatan Jogonalan, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Program bantuan pangan berupa MinyaKita di Desa Prawatan, Kecamatan Jogonalan, Klaten memicu keluhan warga setempat.

Sejumlah penerima manfaat melaporkan adanya bau minyak tanah dan solar.

Tidak hanya bau tak sedap, kesehatan warga pun mulai terganggu. 

Seperti diungkapkan Partini, 81, warga Desa Prawatan, Jogonalan, Klaten.

Baca Juga: Produsen Tarik MinyaKita Bau Minyak Tanah di Klaten, Siap Tanggung Biaya Kesehatan Bila Ada Warga Terdampak

Ia mengaku langsung batuk-batuk tak lama setelah menyantap makanan yang digoreng menggunakan MinyaKita bau minyak tanah.

"Warnanya agak hitam. Terus kalau diteteskan di air itu seperti minyak tanah, ngambang (mengapung) mengembang begitu. Tapi baunya kayak bau solar," ujar Partini saat ditemui di halaman Kantor Desa Prawatan, Rabu (24/6/2026) sore.

Partini menggunakan MinyaKita bau minyak tanah untuk menggoreng tahu dan tempe.

Setelah dikonsumsi bersama keluarga, rasa masakan terasa aneh.

Gangguan kesehatan langsung dirasakan Partini dan keluarga lainnya pasca-mengonsumsi gorengan tersebut.

Baca Juga: Tak Mau Ambil Risiko, Bulog Langsung Instruksikan Penarikan Minyakita di Karanganyar

"Efeknya di tenggorokan gatal, kering, kayak ada lendir tapi tidak bisa keluar. Jadi inginnya keluar dahak tapi tidak bisa, batuk terus. Ternyata tetangga saya juga banyak yang merasakan hal sama, bahkan sampai ada yang berobat ke dokter karena takut kena apa-apa," urai Partini.

Keluhan serupa ternyata merata di berbagai wilayah. Hingga akhirnya warga berinisiatif melaporkan temuan tersebut kepada ketua RW dan perangkat Desa Prawatan agar segera ditindaklanjuti.

Merespons laporan dari warga, Pemerintah Desa Prawatan bergerak cepat.

Kepala Desa Prawatan Sabiq Muhammad mengonfirmasi adanya gangguan kualitas pada komoditas MinyaKita yang didistribusikan kepada 667 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di wilayahnya.

Baca Juga: MinyaKita Berbau Minyak Tanah Meluas, Tersebar di Wonogiri hingga Klaten: Hasil Gorengan Jadi Hitam

"Kami buka posko aduan lewat Kepala Dusun (Kadus) pada 18 Juni lalu. Ternyata hampir di semua wilayah ada laporan keluhan, meskipun awalnya kurang dari 10 laporan," tutur Sabiq. 

"Setelah kami telusuri, sebagian besar MinyaKita yang digunakan oleh warga memang bermasalah," imbuh kades.

Rata-rata, warga merasakan rasa menu yang digoreng menggunakan MinyaKita bau minyak tanah, aneh.

Guna menghindari risiko kesehatan lebih luas, Pemdes Prawatan menarik seluruh paket minyak goreng tersebut, termasuk sisa minyak yang sudah digunakan dan dipindahkan ke wadah lain.

"Baru hari ini (Kamis (25/6/2026) kami mendapatkan laporan resmi terkait masalah kesehatan seperti batuk-batuk akibat mengonsumsi makanan yang digoreng pakai minyak tersebut," jelas Sabiq. 

"Karena itu, untuk menghindari masalah kesehatan yang lebih fatal, semua komoditas dari dropping awal kami tarik, baik yang sudah dibuka maupun yang belum," lanjut dia.

Baca Juga: Sampel MinyaKita Bau Minyak Tanah di Kismantoro Wonogiri Masih Diteliti di BPOM Surakarta, Kapan Hasilnya Keluar?

Pemdes Prawatan langsung berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten serta Perum Bulog selaku penyalur pada 19 Juni 2026.

Pada hari yang sama, tim dari DKPP dan Bulog langsung turun ke lapangan untuk mendiskusikan mekanisme penggantian barang.

Hingga saat ini, proses penggantian minyak goreng baru yang layak konsumsi telah mencapai kisaran 70 persen.

Sabiq menegaskan, seluruh warga penerima manfaat dipastikan mendapatkan penggantian secara utuh sesuai dengan jumlah yang diterima di awal, tanpa memandang apakah minyak tersebut sudah dibuka atau belum.

"Meskipun ada yang belum dibuka atau belum tercium aroma aneh, kalau produsen atau distributornya sama, tetap saya minta diganti semua untuk meminimalkan risiko. Kebijakan terbaru hari ini menegaskan seluruh penerima manfaat mendapatkan komoditas pengganti sesuai jumlah awal penyerahan," pungkas kades. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#minyakita bau minyak tanah #desa prawatan klaten #tenggorokan gatal #MinyaKita #batuk