Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Penyerapan Beras Bulog di Klaten Tembus 10.690 Ton, Stok Melimpah hingga Tahun Depan

Angga Purenda • Kamis, 25 Juni 2026 | 16:43 WIB
Pemimpin Perum BULOG Kantor Cabang Surakarta Nanang Harianto (kanan) cek stok beras di Gudang Bulog Meger, Ceper, Klaten, Kamis (25/6/2026). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
Pemimpin Perum BULOG Kantor Cabang Surakarta Nanang Harianto (kanan) cek stok beras di Gudang Bulog Meger, Ceper, Klaten, Kamis (25/6/2026). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM-Perum Bulog Kantor Cabang Surakarta memastikan ketahanan pangan di wilayah Soloraya, khususnya Kabupaten Klaten, berada dalam kondisi yang  aman dan stabil hingga tahun depan.

Seiring agresifnya penyerapan gabah dan beras petani terus dilakukan guna menjaga stabilitas harga di tingkat produsen maupun konsumen di tengah situasi geopolitik global saat ini.

Pemimpin Perum BULOG Kantor Cabang Surakarta Nanang Harianto menyampaikan hal tersebut saat ditemui di Gudang Bulog Meger, Ceper, Klaten, Kamis (25/6/2026).

Baca Juga: Bawa Modal Finis 5 Besar di Brno, Veda Ega Pratama Siap Lanjutkan Tren Positif Honda Team Asia pada Moto3 Belanda 2026 di Assen

Menurutnya, realisasi penyerapan di wilayah Soloraya telah menunjukkan tren yang positif.

Hingga pertengahan 2026, Bulog Surakarta mencatat progres penyerapan beras yang signifikan.

Khususnya di sentra padi Kabupaten Klaten sudah mencapai 10.690 ton beras. Sedangkan untuk stok khusus di Gudang Meger tersedia 14.000 ton beras.

"Stok kami sangat melimpah, sangat cukup sampai akhir tahun bahkan sampai tahun depan. Mengingat kondisi geopolitik saat ini, ketahanan stok menjadi hal paling utama yang harus kita pertahankan," ujar Nanang.

Saat ini, wilayah Klaten sedang memasuki musim panen di musim kemarau.

Bulog terus bergerak menyerap hasil panen dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) yang ditetapkan sebesar Rp 6.500 per Kg.

Baca Juga: Gencarkan Edukasi Demokrasi, KPU Sukoharjo Gelar Pelatihan Dengan Sasaran Guru dan Pengurus OSIS SMP

"Tugas kami adalah mengamankan harga di tingkat petani. Kami terus melakukan upaya penyerapan sepanjang di tingkat petani jangan sampai ada yang jatuh di bawah Rp 6.500," tegas Nanang.

Untuk menampung hasil panen yang melimpah ini, Bulog Surakarta memaksimalkan dengan mengoperasikan sembilan kompleks gudang induk.

Termasuk menyewa 14 gudang tambahan di Soloraya.

Khusus di Kabupaten Klaten, terdapat 3 gudang induk yakni Banaran, Delanggu; Meger, Ceper, dan Karanganom.

Ditambah empat gudang sewa yang tersebar di Kecamatan Ceper, Trucuk, dan Delanggu.

“Untuk di Soloraya, sudah menyerap 77 persen dari total target tahunan sebesar 93.000 ton. Masih ada sisa waktu enam bulan, Bulog optimis target 100 persen akan terpenuhi sebelum akhir tahun. Sedangkan untuk stok beras di Soloraya mencapai 92.000 ton beras,” tambahnya.

Baca Juga: Pujasera Dibangun Satu Lantai, Bisa Tampung 153 PKL Selter Dan Oprokan

Hasil pantauan Nanang, harga beras di Soloraya terpantau stabil.

Mengingat saat ini sedang berlangsung panen raya, Ia memprediksi akan ada penurunan harga beras di pasar dalam satu hingga dua minggu ke depan.

Senada dengan Bulog, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Klaten Maryanto menyambut baik kehadiran negara melalui Bulog.

Menurutnya, patokan harga Rp6.500 dari Bulog sudah cukup baik dirasakan oleh petani pada tahun 2026 ini.

Terkait adanya pihak swasta yang membeli di atas harga Bulog, Maryanto menilainya sebagai bentuk kompetisi pasar yang sehat.

"Buat petani itu tidak masalah, ini adalah kompetisi yang baik. Kalau pembeli di luar Bulog tidak berani membeli di atas HPP Bulog, otomatis mereka tidak akan mendapatkan suplai barang. Ini membuktikan ada titik perkembangan pada kesejahteraan petani," jelas Maryanto.

Selain urusan serapan pasar, KTNA Klaten juga mengapresiasi langkah pemerintah yang kini tengah melakukan survei dan gerakan perbaikan saluran irigasi desa yang rusak.

"Hampir mayoritas irigasi di desa-desa sudah rusak untuk saluran airnya. Saat ini sudah ada bidang yang menangani itu. Diharapkan dengan perbaikan ini, produksi pertanian ke depan dapat mencukupi dan ketahanan pangan kita terpenuhi," pungkas Maryanto. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#serapan beras #klaten #stok beras #bulog