RADARSOLO.COM - Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi. Badan Geologi melaporkan terjadi awan panas guguran pada Sabtu (4/7/2026) pukul 03.51 WIB dengan estimasi jarak luncur mencapai 1.700 meter ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Boyong dan Kali Krasak.
Berdasarkan hasil pemantauan, awan panas guguran tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 32,01 mm dan durasi 177,78 detik. Masyarakat diimbau tidak beraktivitas di kawasan rawan bencana serta menjauhi alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Sebelumnya, pada Jumat (3/7/2026) pukul 23.07 WIB, Merapi juga meluncurkan awan panas guguran dengan jarak luncur sekitar 2.000 meter ke arah barat daya atau hulu Kali Sat/Putih. Peristiwa itu memiliki amplitudo maksimum 42,26 mm dengan durasi mencapai 202,75 detik.
Dalam laporan aktivitas periode pengamatan 3 Juli 2026, BPPTKG mencatat satu kali awan panas guguran sejauh 2.000 meter serta 29 kali guguran lava yang mengarah ke Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Boyong dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Selain itu, aktivitas kegempaan Merapi masih tergolong tinggi. Tercatat 124 gempa guguran, 101 gempa hybrid/fase banyak, satu gempa vulkanik dangkal, serta dua gempa tektonik jauh. Kondisi ini menunjukkan suplai magma ke permukaan masih berlangsung dan berpotensi memicu awan panas guguran berikutnya.
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga).
BPPTKG mengingatkan potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas masih mengancam sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong hingga lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga tujuh kilometer.
Di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer. Jika terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak.
Masyarakat juga diminta mewaspadai ancaman lahar saat hujan turun di sekitar Merapi, mengantisipasi dampak abu vulkanik, dan tetap mematuhi seluruh rekomendasi resmi dari Badan Geologi serta BPPTKG. (nik)
Editor : Niko auglandy