RADARSOLO.COM - Kabupaten Klaten menyimpan banyak destinasi bersejarah yang masih bertahan hingga kini, salah satunya Makam Raden Ngabehi Ronggowarsito di Desa Palar, Kecamatan Trucuk.
Tak hanya dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir pujangga besar Keraton Surakarta, kompleks makam ini juga memiliki keunikan yang telah menarik perhatian pengunjung selama puluhan tahun, yakni keberadaan ribuan kelelawar yang menghuni cungkup makam.
Baca Juga: Eks Pelatih Persika Karanganyar Resmi Jadi Asisten Pelatih Timnas U-17
Koloni kelelawar tersebut telah menjadi bagian dari identitas Makam Ronggowarsito.
Menjelang senja, ribuan kelelawar terlihat keluar secara bersamaan dari atap bangunan makam untuk mencari makan. Menurut cerita juru kunci, hewan-hewan itu baru kembali ke dalam cungkup menjelang dini hari dan tetap bertahan di lokasi hingga sekarang.
Juru kunci makam, Dayat, mengatakan koloni kelelawar mulai menghuni kompleks makam sekitar tahun 1970-an. Sebelum itu, bangunan cungkup diketahui hanya menjadi tempat bersarang burung gereja. Namun, tanpa diketahui penyebabnya, ribuan kelelawar datang dan menetap hingga kini.
"Entah dari mana sekitar tahun 1970-an datang rombongan kelelawar itu, dan sampai sekarang. Tidurnya bergelantungan di kayu atap, penuh," ujar Dayat.
Baca Juga: Ringin Kembar Sewurejo, Penunjuk Jalan Gerilyawan Karanganyar di Masa Agresi Militer Belanda
Ia menjelaskan, kelelawar memiliki pola yang unik.
Sekitar pukul 17.30 WIB, seluruh koloni keluar hampir bersamaan dengan arah terbang yang sama. Mereka baru kembali ke kompleks makam sekitar pukul 04.00 WIB.
Jumlahnya yang sangat banyak membuat kotoran kelelawar terus menumpuk dan rutin dibersihkan. Dalam sepekan, kotoran yang terkumpul bahkan bisa mencapai satu karung dengan berat sekitar 50 kilogram dan dimanfaatkan sebagai pupuk.
Keunikan tersebut juga dibenarkan oleh perangkat Desa Palar, Didit Agung Prihantoro. Menurutnya, keberadaan koloni kelelawar sudah ada sejak dirinya masih kecil. Meski beberapa kali diupayakan untuk diusir, kelelawar selalu kembali menghuni bangunan makam.
Di balik keunikan itu, Makam Ronggowarsito memiliki nilai sejarah yang besar.
Ronggowarsito, yang lahir dengan nama Bagus Burham pada 1802, dikenal sebagai pujangga terakhir Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Namanya dikenang melalui berbagai karya sastra Jawa, salah satunya Serat Kalatida yang memuat ungkapan "zaman edan", istilah yang hingga kini masih sering digunakan untuk menggambarkan kondisi sosial masyarakat.
Kompleks makam seluas sekitar 500 meter persegi itu juga menjadi tempat peristirahatan sejumlah kerabat Ronggowarsito, termasuk penerjemah asal Belanda, Carel Frederick Winter, beserta istrinya. Selain menjadi tujuan ziarah, kawasan ini kerap dikunjungi pelajar, mahasiswa, peneliti, hingga pecinta budaya yang ingin mengenal lebih dekat sosok Ronggowarsito dan warisan pemikirannya.
Keberadaan ribuan kelelawar yang bertahan selama puluhan tahun menjadikan Makam Ronggowarsito memiliki daya tarik yang berbeda dibandingkan situs sejarah lainnya di Klaten. Di tengah suasana yang tenang dan sarat nilai budaya, koloni kelelawar tersebut menjadi pengingat bahwa sebuah tempat bersejarah tidak hanya menyimpan kisah masa lalu, tetapi juga keunikan alam yang terus hidup berdampingan hingga sekarang.
Editor : Kabun Triyatno