RADARSOLO.COM - Gunung Wijil di Desa Kupang, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, hingga kini masih dikenal sebagai lokasi ziarah yang kerap dikaitkan dengan berbagai mitos, termasuk cerita pesugihan.
Meski demikian, pengelola dan juru kunci setempat menegaskan kawasan tersebut lebih banyak dimanfaatkan masyarakat untuk berdoa, mencari ketenangan, maupun menjalani laku spiritual daripada melakukan ritual pesugihan seperti yang selama ini berkembang di masyarakat.
Berada sekitar 30 kilometer di sebelah timur pusat Kota Klaten, Gunung Wijil sebenarnya merupakan bukit kapur dengan ketinggian sekitar 200 meter. Kawasan yang dipenuhi pepohonan jati, mahoni, dan beringin itu kini mulai dikembangkan sebagai objek wisata desa. Di bagian bawah bukit telah dibangun taman, gazebo, serta beberapa fasilitas sederhana untuk mendukung aktivitas wisata dan pemberdayaan masyarakat.
Di puncak Gunung Wijil terdapat tiga kompleks makam yang kerap menjadi tujuan peziarah, yakni makam Syekh Joko, Ki Ageng Lokojoyo, dan Raden Ayu Yudorono atau Nyai Sedah Merah.
Ketiga tokoh tersebut dipercaya masih memiliki kaitan dengan sejarah penyebaran Islam serta lingkungan Keraton Surakarta dan Kartasura.
Baca Juga: Efek Suhu Ekstrem bagi Kesehatan, Bisa Picu Heat Stroke dan Gagal Ginjal
Peziarah biasanya datang untuk berdoa dengan berbagai harapan, mulai dari memohon kelancaran usaha, kewibawaan, hingga kemudahan dalam memperoleh jabatan atau derajat.
Kawasan ini umumnya ramai dikunjungi pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon dalam penanggalan Jawa.
Menjelang bulan Ruwah, jumlah peziarah juga meningkat. Selain berasal dari Klaten, pengunjung datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah maupun luar daerah. Sebagian besar menjalankan tradisi ziarah sesuai keyakinan masing-masing.
Di balik aktivitas tersebut, Gunung Wijil sejak lama juga dikenal karena cerita-cerita mistis yang berkembang di masyarakat.
Salah satunya berkaitan dengan Watu Boyo, sebuah batu kapur di sisi selatan bukit yang bentuknya menyerupai punggung buaya. Lokasi ini kerap dikaitkan dengan mitos pesugihan dan sosok Buto Ijo. Beredar pula cerita bahwa sejumlah orang datang membawa sesaji untuk memohon kekayaan atau keberuntungan melalui ritual tertentu.
Namun, juru kunci Gunung Wijil membantah anggapan bahwa kawasan tersebut merupakan tempat pesugihan.
Menurutnya, selama lebih dari dua dekade menjaga kawasan itu, mayoritas peziarah datang untuk menjalankan ritual permohonan seperti mencari kelancaran rezeki, pelarisan usaha, kewibawaan, atau peningkatan derajat, bukan membuat perjanjian gaib sebagaimana cerita yang berkembang.
Seiring berkembangnya kawasan sebagai destinasi wisata, citra Gunung Wijil perlahan mulai bergeser.
Selain menjadi lokasi ziarah, bukit ini kini juga menawarkan panorama alam yang menarik bagi pengunjung. Meski berbagai mitos masih hidup sebagai bagian dari tradisi lisan masyarakat, Gunung Wijil tetap menjadi salah satu warisan budaya Klaten yang memperlihatkan bagaimana sejarah, kepercayaan, dan pengembangan wisata dapat berdampingan dalam
satu kawasan.
Editor : Kabun Triyatno