Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Gurihnya Sop Ayam Kampung Sor Pelem Pak Slamet, Jaga Resep Warisan Sejak 1970 dari Jualan Pikulan hingga Jadi Legenda Kuliner Klaten

Angga Purenda • Sabtu, 11 Juli 2026 | 08:12 WIB
Gurihnya Sop Ayam Kampung Sor Pelem Pak Slamet, Jaga Resep Warisan Sejak 1970 dari Jualan Pikulan hingga Jadi Legenda Kuliner Klaten (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
Gurihnya Sop Ayam Kampung Sor Pelem Pak Slamet, Jaga Resep Warisan Sejak 1970 dari Jualan Pikulan hingga Jadi Legenda Kuliner Klaten (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Aroma kaldu ayam kampung yang gurih nan segar langsung menyergap hidung saat melintas di Jalan Mriwis, Tegal Kepatihan, Kelurahan Bareng, Klaten Tengah.

Tepat di bawah rindangnya pohon mangga yang tumbuh kokoh sejak setengah abad lalu, sebuah warung sederhana berdiri.

Inilah Sop Ayam Kampung Sor Pelem Pak Slamet, salah satu legenda kuliner Klaten yang sukses merawat cita rasa otentik sejak era 1970-an.

Menyambangi warung ini di pagi hari, kepulan asap dari kuali besar siap menyambut para pencinta kuliner.

Di balik meja racik, Suminah, 60, sebagai generasi kedua yang kini meneruskan estafet usaha sang ayah.

Ia tampak cekatan memotong bagian ayam hingga menuangkan kuah bening yang menjadi andalan warungnya.

Aktivitas menyiapkan Sop Ayam Kampung Sor Pelem di warung setempat (Angga Purenda/Radar Solo)
Aktivitas menyiapkan Sop Ayam Kampung Sor Pelem di warung setempat (Angga Purenda/Radar Solo)

Perjalanan Sop Ayam Kampung Sor Pelem Pak Slamet hingga menjadi jujukan kuliner legendaris dilalui dengan proses panjang penuh perjuangan. Suminah mengisahkan, sang ayah, mendiang Slamet merintis usaha tersebut dari nol sekitar tahun 1970-an.

"Zaman dulu kan belum modal pakai gerobak, masih dipikul keliling. Pakainya mangkuk dawet yang kecil itu, harganya masih Rp 25 perak per porsi. Sambil mikul, bapak membunyikan mangkuk, ting-ting-ting, untuk menarik pembeli," kenang Suminah sembari tersenyum saat ditemui radarsolo.com, Jumat (10/7/2026).

Rute pikulan, Slamet menyisir pertokoan hingga masuk ke daerah Pasar Gedhe. Setelah lelah berkeliling, ia biasanya mangkal di sekitar Jalan Pemuda.

Kerja keras itu membuahkan hasil hingga pada tahun 1975, Slamet mampu membeli rumah di Jalan Mriwis dan menetap jualan di sana hingga wafat pada tahun 2019 lalu.

"Dulu terkenalnya Sop Pak Slamet. Tapi karena di sini ada pohon mangga (dalam bahasa jawa disebut pelem) besar dari saya kecil. Bahkan mungkin sebelum saya lahir sudah ada. Pelanggan yang malah sering menyebutnya Sop Sor Pelem, sampai sekarang melekat," kata Suminah.

Meski kini persaingan warung sop ayam di Klaten kian menjamur dengan datangnya pelaku usaha dari luar daerah, Sop Ayam Kampung Sor Pelem Slamet tak pernah sepi pelanggan. Rahasianya terletak pada konsistensi resep warisan yang dijaga ketat.

Jaga Cita Rasa Sejak 1970, Dari Berjualan Pikulan hingga Warung di Bawah Rindangnya Pohon Mangga (Angga Purenda/RADAR SOLO)
Jaga Cita Rasa Sejak 1970, Dari Berjualan Pikulan hingga Warung di Bawah Rindangnya Pohon Mangga (Angga Purenda/RADAR SOLO)

Suminah mengaku semua takaran bumbu rahasia dari orang tuanya selalu ditimbang agar rasanya tidak berubah. Kunci kelezatan utama sop ini ada pada penggunaan ayam kampung asli.

"Ayam kampung itu kaldunya beda, gurihnya alami. Kalau ayam kampungnya kurang gajih (lemak) saja, rasanya kurang mantap. Jadi kualitas ayam benar-benar kami perhatikan," jelas anak ketiga dari lima bersaudara ini.

Seporsi Sop Ayam Kampung Sor Pelem Pak Slamet (Angga Purenda/Radar Solo)
Seporsi Sop Ayam Kampung Sor Pelem Pak Slamet (Angga Purenda/Radar Solo)

Diferensiasi lain yang membedakan Sop Ayam Kampung Sor Pelem Slamet dengan lainnya adalah karakteristik kuahnya. Kuah sop menggunakan kaldu bening tanpa tambahan apa pun.

Jika pelanggan memesan Sop Ayam Kampung campur biasa maka komposisinya nasi, mie suun, kubis, suwiran ayam kampung, seledri dan taburan bawang goreng.

Tetapi kini pelanggan bisa memilih bagian ayam secara spesifik yang disajikan terpisah. Mulai dari sayap, kepala, dada, brutu, uritan, kulit, hingga paha.

Menariknya, warungnya juga menyediakan menu unik bagi pencinta kuliner yaitu Sop Ayam Kampung kering.

Isiannya sama seperti Sop Ayam Kampung campur biasa, namun disajikan tanpa kuah. Memberikan perpaduan rasa manis kecap, gurih, dan pedas sambal yang pekat.

Harga yang ditawarkan sangat ramah kantong. Seporsi sop biasa atau sop ayam kampung kering dibanderol hanya Rp 10.000 per porsi.

Sementara untuk menu sop ayam kampung pisahan berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 28.000 per porsi. Menu paling favorit pelanggan adalah pisah paha dan sayap.

Sebagai pendamping sop ayam kampung, tersedia aneka lauk-pauk. Seperti tahu, tempe, perkedel dan risol. Termasuk aneka sate ayam, telur puyuh, naget, ati, dan usus.

Warung Sop Ayam Kampung Sor Pelem sendiri  buka setiap hari pukul 05.00-13.30. Pelanggannya tak hanya dari Klaten saja tetapi juga Jogja dan Solo.

"Banyak pelanggan lama yang sudah pindah ke Jakarta atau Surabaya, kalau mudik ke Klaten pasti mampir ke sini," tutur Suminah dengan bangga.

Bagi Suminah, melestarikan usaha tersebut bukan sekadar mencari nafkah, melainkan merawat warisan perjuangan orang tua.

"Bapak dulu berjuang dari bawah cari pelanggan. Pesan Bapak, orang tua yang merintis, anak-anak tinggal meluruskan dan menjaga. Makanya besok usaha ini juga akan diteruskan oleh anak saya," pungkasnya.(ren)

Editor : Nur Pramudito
#Sop Ayam Kampung Sor Pelem Pak Slamet #kuliner klaten #klaten