Panen dilakukan di lahan demplot seluas sekitar 30 hektare yang mendapat pendampingan dari PT Langgeng Asri Makmur (LAM), Pupuk Indonesia, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) serta Komisi IV DPR RI.
Dipimpin langsung oleh Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto atau yang akrab disapa Titiek Soeharto. Didampingi Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Abdul Kharis Al Masyhari serta sejumlah anggota Komisi IV.
Dalam kesempatan itu, ia turut memanen padi secara manual dan mencoba mengoperasikan combine harvester, sebuah mesin panen multifungsi yang digunakan petani.
Rombongan legislatif memuji produktivitas padi di Trucuk yang melonjak signifikan hingga menembus angka ubinan atau produktivitas padi di atas 10 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.
"Hadir di sini untuk melakukan panen raya yang hasilnya luar biasa. Ubinannya bisa 10 ton lebih per hektarenya. Selamat untuk para petani di sini," ujar Titiek Soeharto saat memberikan sambutan di lokasi panen.
Politikus Partai Gerindra tersebut menegaskan, peningkatan hasil panen dari yang semula rata-rata 8 ton menjadi 10 ton per hektare ini tidak lepas dari intervensi.
Mulai dari bantuan bibit unggul, optimalisasi pupuk, pengolahan tanah yang baik serta dedikasi tinggi para petani di tengah cuaca yang tidak menentu.
Titiek menekankan bahwa Presiden RI telah menetapkan swasembada pangan sebagai agenda strategis nasional.
Provinsi Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Klaten, memegang peranan penting sebagai penopang pasokan beras nasional.
Namun, tantangan seperti alih fungsi lahan dan melonjaknya biaya produksi harus dijawab melalui modernisasi infrastruktur dan jaminan harga yang adil bagi petani.
"Bagi Komisi IV DPR RI, keberhasilan swasembada pangan harus berjalan seiring dengan meningkatnya kesejahteraan petani. Petani yang sejahtera adalah kunci kedaulatan pangan. Petani harus menjadi pihak pertama yang merasakan manfaatnya," tegas putri Presiden ke-2 RI Soeharto tersebut.
Ia optimistis, jika produktivitas di atas 10 ton per hektare ini mampu dipertahankan dan diperluas, gudang Bulog akan terpenuhi. Terlebih lagi, Indonesia berpeluang menjadi eksportir beras di masa depan.
Titiek juga mengingatkan petani agar tidak cepat puas. Ia meminta, untuk terus meningkatkan produktivitas dari hasil panen.
"Jangan berhenti di 10 ton, pasti bisa 12 ton kalau lebih rajin lagi," tambahnya.
Untuk mendukung keberlanjutan tersebut, Komisi IV bersama mitra kerja menyerahkan beragam bantuan.
Di antaranya bantuan alat mesin pertanian (alsintan), pupuk dari Pupuk Indonesia, 100 ton pupuk petroganik dari PT LAM untuk tiga kelompok tani setempat guna persiapan musim tanam berikutnya.
Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo memaparkan tantangan besar pertanian Klaten di tengah masifnya perkembangan sektor pariwisata dan perumahan yang memicu risiko alih fungsi lahan.
Guna mengamankan instruksi presiden terkait kedaulatan pangan, Pemkab Klaten telah mengambil langkah tegas lewat regulasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
"Alhamdulillah, Klaten menaati aturan. Kami sudah menyepakati berkaitan dengan lahan LP2B, sehingga 87 persen dari semua lahan baku sawah yang ada di Kabupaten Klaten ini terkunci sebagai LP2B," jelas Hamenang.
Hamenang merinci, saat ini Klaten memiliki Luas Baku Sawah (LBS) sebesar 29.670 hektare.
Pada tahun anggaran ini, Pemkab menargetkan luas panen padi mencapai 67.303 hektare dengan target produksi gabah kering giling (GKG) sebesar 370.426 ton.
Adapun target Luas Tambah Tanam (LTT) dipatok sebesar 99.401 hektare, di mana per hari ini realisasinya telah sukses menembus angka 87.023 hektare.(ren)
Editor : Nur Pramudito