Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Angkat Potensi Lokal Kebondalem Kidul, Hadirkan 12 Gunungan hingga Kesenian di  Festival Candi Sojiwan Klaten

Angga Purenda • Senin, 13 Juli 2026 | 19:09 WIB
Penampilan kesenian dari setiap RW dan gunungan yang dikirab jadi rebutan di Festival Candi Sojiwan ke-8. (Angga Purenda/Radar Solo)
Penampilan kesenian dari setiap RW dan gunungan yang dikirab jadi rebutan di Festival Candi Sojiwan ke-8. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM- Kemeriahan melingkupi Lapangan Barat Candi Sojiwan, Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Klaten dalam gelaran Festival Candi Sojiwan ke-8. Festival yang digelar, Minggu (12/7/2026) sore itu sukses menyedot perhatian masyarakat dengan menampilkan kekayaan budaya lokal, potensi UMKM, hingga suguhan kesenian.

Ketua Panitia Festival Candi Sojiwan ke-8 Guntur Andi Pamungkas mengungkapkan bahwa esensi utama dari festival tersebut adalah memperkenalkan sekaligus melestarikan kebudayaan yang ada di Desa Kebondalem Kidul, khususnya dari setiap RW.

"Maksud dan tujuannya untuk mengenalkan budaya yang ada di Desa Kebondalem Kidul. Kami juga ingin terus mengenalkan wisata Candi Sojiwan sebagai ikon utama dari desa kami," ujar Guntur di sela-sela acara.

Baca Juga: Balik Dolanan Solo, Ruang Bermain yang Menghidupkan Kembali Tawa di Tengah Dunia Digital

Salah satu daya tarik utama festival tahun ini adalah Kirab Budaya Gunungan.

Diikuti oleh 11 kontingen dari seluruh RW di Desa Kebondalem Kidul. Kirab ini menempuh rute kurang lebih 1,5 kilometer.

Dimulai dari Lapangan Kridosakti, menuju ke timur arah stasiun, berbelok ke selatan, hingga berakhir di venue utama Lapangan Barat Candi Sojiwan.

Setiap kontingen tampil totalitas dengan melibatkan sekitar 100 warga per RW.

Total ada 12 gunungan yang dikirab. Uniknya, gunungan tersebut tidak hanya berisi hasil bumi, melainkan produk-produk UMKM khas lokal.

Mulai dari aneka sayur, telur asin, jajanan pasar hingga komoditas jualan warga seperti telur dan dawet.

Baca Juga: Satgas Res-Q Solo Mulai Kejar Penunggak Pajak Reklame dan Retribusi Pasar

“Ciri khas produk dari wilayah kami yakni kuliner tradisional seperti sagon dan apem. Menjadi produk khas yang wajib ada di gunungan tahun ini,” tambahnya.

Setelah prosesi kirab selesai, belasan gunungan tersebut langsung diperebutkan oleh warga yang hadir.

Seperti diketahui, Festival Candi Sojiwan ke-8 ini dikemas padat sejak pagi hingga malam hari dengan menghadirkan musisi lokal hingga pertunjukan seni pertunjukan Sendratari Ramayana dari Candi Prambanan. Termasuk dimeriahkan dengan Lomba Tari se-DIY Jateng.

Guntur berharap, melalui festival berkala seperti ini, generasi muda di Desa Kebondalem Kidul dapat terus terpacu untuk mengembangkan potensi desa.

“Harapan kami festival ini bisa terus berkembang lebih besar," tambahnya.

Baca Juga: Jangkau Daerah 3T di Indonesia, BPJS Kesehatan Luncurkan Layanan Ujung Negeri Secara Serentak

Acara tersebut diapresiasi langsung oleh Pemerintah Kabupaten Klaten melalui Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Setda Klaten Joko Istianto.

Dalam sambutannya, Joko menyampaikan bahwa festival tersebut merupakan dari rangkaian Hari Jadi ke-222 Klaten tahun ini yang mengangkat tema Sahita Hamemayu Raharja.

"Tema ini bukan sekadar deretan kata tanpa makna, melainkan refleksi visi sekaligus komitmen pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. Festival Candi Sojiwan adalah representasi konkret dari implementasi tema tersebut," ujar Joko Istianto.

Ia menambahkan, melalui festival ini, seluruh pihak mulai dari pemerintah, budayawan, pelaku wisata, hingga masyarakat dapat saling bergandengan tangan untuk merawat kemegahan sejarah Candi Sojiwan.

Demi kelestarian budaya dan kesejahteraan bersama di Desa Kebondalem Kidul.

Baca Juga: Optimalkan Pendapatan Daerah, BPKPAD Klaten Andalkan Aplikasi Sengkuyung Mobile untuk Sisir Piutang Pajak

Salah satu pengunjung Festival Candi Sojiwan, Wijiati, 51, asal desa setempat mengaku berdesakan demi mendapatkan bagian dari gunungan yang sebelumnya dikirab.

"Agak susah, harus berebut sama yang lain. Saya dapat padi, kacang dan wortel," cerita perempuan yang akrab disapa Wiji tersebut.

Ia menjelaskan bahwa sayuran yang didapat seperti kacang dan wortel rencananya akan dibawa pulang untuk dimasak agar mendatangkan berkah.

Baca Juga: Jejak Peternakan Belanda: Menelusuri Asal-usul Nama Kampung Kandang Sapi di Jebres Solo

Sementara itu, untuk padi yang rencananya hanya sebagai simbolis harapan rezeki melimpah.

"Bagus sekali, bisa mengenal budaya sendiri. Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang melestarikan kebudayaan Indonesia? Harapannya festival ini terus diadakan setiap tahun, semakin maju, dan semakin jaya," ungkapnya. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#festival candi sojiwan klaten #kebondalem kidul #event #potensi lokal #gunungan