RADARSOLO.COM-Hutan Kota Sungkur di Kecamatan Klaten Tengah dikenal sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) di tengah Kota Klaten.
Terlebih lagi dengan luas 5.084 meter persegi terdapat 25 jenis tanaman keras dan 22 tanaman hias yang tumbuh dalam kawasan tersebut.
Namun, di balik rimbunnya pepohonan dan semilir angin, tempat tersebut menyimpan riwayat sunyi yang berbalut misteri.
Jauh sebelum menjadi hutan kota, hamparan tanah tersebut merupakan Kerkof atau kompleks pemakaman warga Belanda dan Eropa.
Baca Juga: Legendaris Sejak 1977, Sego Tumpang Congor Mbok Semi Boyolali Tawarkan Sensasi Makan di Pawon
Dahulunya kompleks pemakaman kolonial tersebut memiliki luas 1.172 meter persegi dengan 146 makam.
Tetapi saat ini tidak ditemukan nisan satu pun di lokasi yang sekarang menjadi Hutan Kota Sungkur.
Ke mana perginya jasad-jasad para petinggi perkebunan dan opsir Belanda yang dulu disemayamkan tersebut?
Koordinator Komunitas Klaten Lampau sekaligus pegiat sejarah asal Klaten Airell Luthfan Ababiel mengungkapkan, keberadaan makam Belanda di Klaten erat kaitannya dengan sejarah berdirinya Benteng Engelenberg pada 1804 serta pemberlakuan Undang-Undang Agraria tahun 1870.
"Kehadiran kolonial Belanda di Klaten memicu peningkatan pertumbuhan penduduk Eropa. Mulai dari dibukanya perkebunan, berdirinya Stasiun Klaten, hingga adanya kantor Asisten Residen," jelas Airell, Kamis (16/7/2026).
Baca Juga: Harga Wuling Aira EV Rp 100 Jutaan? Ini Spesifikasi Lengkapnya Jelang Debut di Indonesia
"Ketika ada yang lahir dan menetap, otomatis ada yang meninggal. Di sinilah kebutuhan akan ruang pemakaman atau Kerkof muncul," imbuh dia.
Berdasarkan peta Belanda tahun 1930, setidaknya ada tiga titik pemakaman Belanda dan Eropa di area Kota Klaten.
Yakni di Kampung Gladak yang sekarang berada di sekitar Apotek Sidowayah, Kecamatan Klaten Tengah.
Kemudian di wilayah Sungkur yang kini menjadi Hutan Kota Sungkur, Pasar Buah Sungkur sampai pemakaman Memento Mori.
Terakhir di wilayah Semangkak, yang berada di Pemakaman Katolik Semangkak, Kecamatan Klaten Tengah.
Airell menyebut, pada tahun 1880-an, koran-koran lokal Hindia Belanda sempat diwarnai keresahan warga Eropa mengenai kondisi makam lama di Kampung Gladak yang hampir penuh.
Sempat muncul wacana memindahkan makam dari Kampung Gladak ke daerah Bareng atau Mlinjon.
Namun rencana itu mendapatkan kritikan karena kawasannya rawan banjir. Baru pada tahun 1900-an, dokumen surat kabar Belanda menyebutkan adanya Nieuwe Kerkof (pemakaman baru) di wilayah Sungkur.
Airell menjelaskan, dari arsip historis yang dimilikinya mencatat perjalanan relokasi terus berlanjut bahkan setelah Indonesia merdeka.
Pada Desember 1953, Pemkab Klaten mengumumkan pemindahan sisa-sisa makam Belanda dari Kampung Gladak (Sidowayah) ke Kerkof Sungkur.
Kala itu, ahli waris diberi waktu tiga bulan untuk melapor sebelum pemindahan paksa dilakukan.
Dalam buku genealogi keluarga Eropa yang diterbitkan tahun 1935 mencatat ada puluhan hingga ratusan jasad yang dimakamkan di Klaten.
Di pemakaman lama terdapat sekitar 70-an makam. Sedangkan di pemakaman baru (Sungkur) jumlahnya mencapai ratusan.
Salah satu tokoh besar yang tercatat dimakamkan adalah seorang administrator perkebunan terpandang era kolonial bernama Bervoets.
Namun, ketika Komunitas Klaten Lampau melakukan penelusuran langsung ke area Sungkur (di Pemakaman Memento Mori), pemandangan kontras justru ditemukan.
"Nisan atau kuburan orang-orang Eropa yang bisa kita tinjau di sana jumlahnya tidak sampai 10. Kemarin hanya ada sekitar lima atau enam nisan saja yang tersisa," ungkap Airell.
Dari hasil analisisnya, Airell menyebut pemakaman Memento Mori merupakan kompleks tersisa dari kerkof.
Kemudian penggunaannya setelah era kemerdekaan yang dijadikan makam umat kristiani. Terdapat beberapa makam veteran dan pejuang di kompleks pemakaman tersebut.
Sementara, pemakaman Belanda dan Eropa di Sungkur terdapat dugaan bahwa makam-makam yang tidak diurus oleh ahli warisnya perlahan dibongkar, tertimbun atau berahlifungsi seiring berjalannya waktu.
Ia mendapatkan informasi yang menyebutkan bahwa kawasan Sungkur mulai berubah rupa menjadi hutan kota sejak awal tahun 2000-an.
“Bahkan, di tahun 1990-an, dari arsip, bahwa trayek angkutan umum sudah menyebut kawasan tersebut sebagai pemberhentian Hutan Sungkur. Ini menandakan bahwa peralihan fungsi lahan sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum itu,” beber dia.
Menariknya, tata ruang kolonial sengaja menempatkan pemakaman Eropa ini berdampingan dengan pemakaman Bumiputera (Pribumi).
Hal ini menunjukan pada pemakaman umum saat ini yakni Tegal Tawangrejo yang berada di sebelah selatannya.
Begitu juga tidak jauh dari pemakaman Tionghoa di sebelah utaranya.
Untuk Pemakaman Umum Tegal Tawangrejo, Airell menduga usianya lebih tua dari Kerkof Sungkur.
Baca Juga: Terjatuh dari Pohon Jati Setinggi 6 Meter, Pria di Jatisrono Wonogiri Meninggal
Konon terdapat makam tokoh penting, salah satunya bupati Klaten terdahulu, meski hal ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
"Keberadaan jejak makam Eropa ini membuktikan bahwa dulu Klaten adalah kota penting yang padat penduduk Eropa," ucapnya.
"Dari makam ini kita belajar bagaimana kota ini meluas dari pusat kota (Gereja Jago dan Sidowayah) hingga melebar ke arah Sungkur. Jejak sejarah ini seharusnya dirawat, agar generasi hari ini tahu proses perkembangan Klaten dari masa ke masa," pungkas Airell. (ren)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com