Tradisi Cethik Geni ke-8 Digelar, Bupati Hamenang Puji Eksistensi Kuliner Lompya Duleg Khas Gatak Klaten di Tengah Gempuran Makanan Kekinian

Angga Purenda • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 11:43 WIB
Prosesi sakral guyangan lembu suralaya dilakukan Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, Sabtu (18/7/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)
Prosesi sakral guyangan lembu suralaya dilakukan Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, Sabtu (18/7/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM-Kuliner khas lompya duleg berpadu riuhnya tabuhan seni tradisi memenuhi atmosfer Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten pada Sabtu (18/7/2026). Ratusan warga berkumpul dengan penuh antusias untuk menyaksikan gelaran tahunan Festival Cethik Geni ke-8.

Dalam bahasa Jawa, cethik geni memiliki arti memantik api. Gelaran tersebut bukan sekadar rutinitas seremoni, melainkan sebuah simbolisasi dari awal kehidupan, penghidupan serta pemantik harapan bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

Lebih dari itu, tradisi yang konsisten dihelat sejak tahun 2019  menjadi benteng kelestarian lompya duleg. Kuliner legendaris yang telah menjadi identitas dan urat nadi perekonomian Desa Gatak.

Baca Juga: Sambung Rasa di Pusat Kota, Bupati Klaten Tekankan Kolaborasi Atasi Masalah Sampah dari Hulu hingga Hilir

Perayaan tahun ini berlangsung meriah dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Ketua Panitia Cethik Geni ke-8, Albertus mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas konsistensi warga dalam menjaga tradisi tersebut hingga memasuki tahun kedelapan.

"Semoga kita masih bisa terus berlanjut sampai entah nanti kapan. Semoga acara ini selalu didukung oleh teman-teman warga di Desa Gatak sehingga desa kita semakin kaya akan berdayanya," ujar Albertus.

Rangkaian acara diawali dengan kenduri bersama yang melibatkan doa lintas agama sebagai simbol kerukunan dan toleransi warga Desa Gatak yang hidup berdampingan dalam keberagaman.

Kemudian prosesi sakral guyangan lembu suralaya, yang dilakukan oleh panitia, kepada desa dan bupati. Dilanjutkan dengan tausiah keagamaan yang diiringi oleh grup hadroh setempat.

Puncak acara berupa kirab budaya yang mengelilingi desa setempat. Salah satunya membawa gunungan lompya duleg sebanyak 5.000 biji yang sudah dikemas dengan plastik dan dilengkapi dengan juruh.

Di balik kemegahan budaya yang ditampilkan, fokus utama tradisi tersebut memang lompya duleg.

Baca Juga: Wujudkan Hunian Layak, Bupati Klaten Tinjau Langsung Realisasi Bantuan RTLH di Pedan

Kuliner khas ini lahir dari tangan kreatif Mbah Karto Purno pada tahun 1950-an. Sepulang merantau dan mempelajari pembuatan lumpia Semarang, ia memodifikasi resep tersebut menggunakan bahan-bahan lokal agar lebih terjangkau bagi masyarakat desa.

Kini warisan tersebut telah bertahan hingga empat generasi. Kepala Desa Gatak Walino menjelaskan bahwa lompya duleg kini menjadi roda penggerak ekonomi mikro yang sangat masif.

Terdapat lebih dari 50 pelaku UMKM di desa tersebut yang menjadikan pembuatan lumpia sebagai industri rumahan. Pemasarannya pun tidak hanya di wilayah Delanggu atau wilayah Klaten saja. Melainkan sudah merambah ke luar kota melalui sistem pesanan paket.

"Pesanan itu bahkan sampai luar Jawa. Warga Delanggu yang merantau ke Jakarta sering sekali minta dikirimkan karena rindu masakan tradisional khas kita. Alhamdulillah, dengan adanya potensi makanan tradisional ini, angka pengangguran di desa kami berkurang drastis karena warga yang dulunya menganggur sekarang bisa berjualan," kata Walino.

Gunungan lompya duleg yang jadi perhatian warga dalam trasidi Cethik Geni di Desa Gatak, Delanggu, Klaten, Sabtu (18/7/2026). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
Gunungan lompya duleg yang jadi perhatian warga dalam trasidi Cethik Geni di Desa Gatak, Delanggu, Klaten, Sabtu (18/7/2026). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Pemerintah Desa Gatak pun berkomitmen penuh dalam mendukung keberlanjutan UMKM tersebut. Walino menyebutkan bahwa Pemdes secara aktif memberikan bantuan sarana memasak seperti kompor, gas, dan perangkat lainnya melalui alokasi dana desa demi mendukung eksistensi paguyuban lompya duleg.

Sementara itu, dalam sambutannya, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh stakeholder Desa Gatak atas perjuangan konsisten mereka selama delapan tahun terakhir dalam nguri-nguri kebudayaan melalui Cethik Geni tersebut.

"Kabupaten Klaten ini kaya akan kesenian dan kebudayaan turun-temurun, namun belum banyak yang konsisten seperti Desa Gatak yang tetap bisa bertahan merawat tradisi. Semuanya harus patut berbangga menjadi warga Desa Gatak," tutur Hamenang.

Baca Juga: Serap Aspirasi Warga Lereng Merapi, Bupati Hamenang Komitmen Kembangkan Potensi Lokal Bawukan Klaten

Bupati Hamenang juga memberikan catatan khusus untuk Lompya Duleg yang dinilainya sebagai produk inovasi yang sangat ikonik. Menurutnya, di tengah gempuran tren jajanan kekinian, lompya duleg terbukti tidak lekang oleh waktu dan tetap laris manis di pasaran.

Keunggulan kuliner khas tersebut kian diperkuat dengan adanya dukungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten yang telah memfasilitasi kepemilikan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sebagai makanan khas Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, Klaten.

Bupati Hamenang berharap agar Festival Cethik Geni terus diselenggarakan secara berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat dan masa depan generasi penerus.

"Harapan kita bersama, tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan warga Desa Gatak. Sekaligus, kita pertahankan tradisi seni budaya ini agar generasi penerus ke depan tidak hanya melihat dari video saja. Melainkan masih bisa ikut melaksanakan apa yang diturunkan oleh leluhur kita," pungkasnya. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
desa gatak delanggu klaten tradisi cethik geni ke-8 Lompya Duleg Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo kuliner khas