Lestarikan Warisan Leluhur, 27 Kontingen Meriahkan Festival Gejog Lesung Tingkat Kabupaten di Cawas Klaten

Angga Purenda • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 12:44 WIB
Penampilan salah satu kontingen dalam Festival Gejog Lesung tingkat Kabupaten Klaten di Alun-alun Barepan, Kecamatan Cawas, Sabtu (18/7/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)
Penampilan salah satu kontingen dalam Festival Gejog Lesung tingkat Kabupaten Klaten di Alun-alun Barepan, Kecamatan Cawas, Sabtu (18/7/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM-Suara berirama benturan alu dan lesung kayu menggema di Alun-alun Barepan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Sabtu (18/7/2026) malam.

Sebanyak 27 kontingen dari berbagai kecamatan di Kabupaten Klaten unjuk gigi dalam gelaran Festival Gejog Lesung Tingkat Kabupaten Klaten 2026.

Acara yang berlangsung meriah tersebut digelar khusus dalam rangka menyongsong Hari Jadi ke-222 Kabupaten Klaten.

Sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.

Baca Juga: Kolaborasi Internasional Tingkatkan Kesadaran Ibu Hamil terhadap Tanda Bahaya Kehamilan di Pucangsawit

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang biasa dimulai sejak pagi hari, festival kali ini membawa suasana baru yang lebih semarak.

Terlebih lagi digelar pada sore hingga malam hari dengan permainan sorot lampu yang apik.

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo memberikan apresiasi yang luar biasa atas terselenggaranya acara tersebut.

Menurutnya, festival dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang sangat positif.

"Alhamdulillah penyelenggaraan dari tahun ke tahun saya apresiasi luar biasa dan tahun ini sangat meriah. Jika biasanya dimulai dari pagi atau siang, sekarang kita start dari sore sehingga finalnya bisa sampai malam. Alhamdulillah bisa ramai luar biasa," ujar Hamenang dalam sambutannya.

Baca Juga: Tradisi Cethik Geni ke-8 Digelar, Bupati Hamenang Puji Eksistensi Kuliner Lompya Duleg Khas Gatak Klaten di Tengah Gempuran Makanan Kekinian

Bupati mengingatkan pentingnya gejog lesung sebagai warisan leluhur di tengah gempuran era digital.

Di mana generasi muda saat ini cenderung lebih akrab dengan gawai.

"Kita tidak boleh melupakan jati diri bangsa dan sejarah kita. Gejog lesung yang awalnya hanya alat menumbuk padi, kini berkembang luar biasa menjadi kesenian. Event ini adalah wujud nyata kita untuk nguri-nguri kebudayaan leluhur," tambahnya.

Camat Cawas Joko Purwanto menjelaskan, festival tahun ini merupakan penyelenggaraan yang kedelapan kalinya.

Setelah sempat tersendat akibat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.

Baca Juga: ICE Autonation Surakarta 2026 Ramaikan NEO Solo Grand Mall dengan 140 Kendaraan Modifikasi dari Seluruh Indonesia

Di sisi lain, kesenian gejog lesung sendiri kini telah ditetapkan sebagai kesenian asli yang berasal dari Kecamatan Cawas.

Joko memaparkan ada empat kriteria utama dalam penilaian lomba dalam Festival Gejog Lesung tingkat kabupaten tersebut.

Yakni irama, gerakan, kreativitas seni dan koreografi budaya.

"Tujuan utama kami adalah mengenalkan sejarah kepada anak-anak muda. Jangan sampai mereka kehilangan sejarah bahwa nasi yang mereka makan hari ini, awalnya berasal dari gabah yang ditumbuk di dalam lesung oleh nenek moyang kita. Karena perkembangan teknologi, sekarang lesung kita angkat fungsinya sebagai sebuah karya kesenian," urai Joko.

Meskipun kesenian ini identik dengan para orang tua, Festival Gejog Lesung 2026 juga diramaikan oleh generasi muda.

Salah satunya adalah Akhila Lutfi Al-Akbari, 24, atau yang akrab disapa Akbar, pemuda asal Dukuh Brangkal, Desa Barepan, Kecamatan Cawas.

Membawa 13 anggota kelompok yang terdiri dari 4 penyanyi, 3 penari, dan sisanya penabuh lesung.

Kontingen Kecamatan Cawas itu tampil memukau dengan membawakan lagu wajib "Lesung Jumengglung" dan lagu pilihan "Buto-Buto Galak".

"Persiapan kami sekitar 1 bulan dengan latihan intensif seminggu tiga kali. Kebetulan kami berkolaborasi dengan ibu-ibu yang sudah terbiasa ikut lomba, lalu kami buat mode kreasi baru," kata Akbar.

Baca Juga: Sukoharjo Spektakuler Run 2026 Jadi Magnet Baru Sport Tourism Jateng, Gubernur Luthfi: Aktif Gerakkan UMKM Daerah

Mahasiswa ini mengaku jatuh cinta pada gejog lesung karena bisa menjadi hiburan yang ampuh di tengah penatnya aktivitas perkuliahan.

"Bagi saya ini hiburan dan obat stres kuliah. Untuk di Desa Barepan, setiap dusun punya anak muda yang aktif mengembangkan gejog lesung, bahkan sering dilombakan setiap perayaan 17 Agustus,” ujarnya.

Dirinya berharap kesenian gejog lesung tidak hanya dikenal di kancah nasional, tapi bisa mendunia agar warisan leluhur tersebut tidak punah.

Sementara itu, penilaian dewa juri yang ketat, pemenang dalam festival gejog lesung tingkat kabupaten itu, yakni:

Para pemenang kompetisi ini berhak membawa pulang hadiah berupa uang pembinaan, piagam, piala serta kain lurik khas Cawas.(ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
Cawas klaten Festival Gejog Lesung Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo tradisi