RADARSOLO.COM - Musim kemarau kembali memicu lonjakan kasus kebakaran di Kabupaten Klaten.
Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Klaten mencatat tren peningkatan kasus yang cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Sepanjang 2026 telah menembus 131 kejadian kebakaran.
Kabid Damkar Satpol PP dan Damkar Klaten Sumino mengungkapkan, peningkatan frekuensi kebakaran sangat terasa dalam kurun satu pekan belakangan.
Dalam waktu tersebut, tercatat terjadi puluhan kali peristiwa kebakaran di berbagai tempat, dengan rata-rata 2-4 kejadian setiap harinya.
Baca Juga: Dramatis! Sapi Bunting 9 Bulan Terperosok Sumur Tua di Ngadirojo Wonogiri Berhasil Dievakuasi
"Rentang waktu di satu pekan terakhir ini ada peningkatan yang cukup lumayan. Bahkan kemarin terjadi enam kejadian kebakaran dalam satu hari," ujar Sumino di Kantor Damkar Klaten, Minggu (19/7/2026)
Sumino menjelaskan, dari 131 kasus kebakaran yang terjadi hingga pertengahan tahun ini, sebanyak 25 kejadian di antaranya terjadi sepanjang bulan Juli.
Jenis objek yang terbakar didominasi oleh lahan kosong, tempat tinggal hingga bangunan kandang ternak.
"Untuk risiko terbesar kemarin terjadi pada kebakaran kandang ayam dan ternak di Krajan, Kalikotes. Selain itu, kemarin juga ada kejadian kebakaran kandang sapi di Desa Pogung, rumah warga di dua lokasi, serta dua lokasi lahan kosong," jelasnya.
Dari hasil evaluasi di lapangan, mayoritas pemicu utama timbulnya amukan si jago merah adalah faktor kelalaian manusia.
Khususnya kebiasaan masyarakat yang membakar sampah dan dedaunan kering sembarangan tanpa pengawasan.
"Penyebabnya sementara ini masih dominan faktor manusia, yaitu membakar sampah atau membakar lahan kosong. Karena situasi cuaca saat ini sudah cukup panas dan kering, perambatan serta penyalaan api menjadi sangat cepat dan sukar dikontrol," tambahnya.
Mengantisipasi puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga September mendatang, Damkar Klaten mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan bersama.
Merujuk pada data dalam lima tahun terakhir, bulan Juli-September selalu menjadi periode dengan kerawanan kebakaran tertinggi.
Mengenai pengelolaan sampah domestik, Sumino mengajak warga Klaten untuk tidak lagi mengandalkan cara pembakaran terbuka.
Pihaknya mendorong masyarakat untuk mengikuti petunjuk pengelolaan dan pemilahan sampah yang diprogramkan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Klaten.
Baca Juga: MGN Pastikan Kawal Sidang, Sebut Jokowi Siap Hadir sebagai Pelapor
"Sebenarnya tanpa harus dibakar itu bisa. Pembakaran sampah yang tidak terkontrol dampaknya sangat merugikan bersama. Mulai dari polusi asap, panas, hingga risiko api merambat ke bangunan dan harta benda seperti kejadian kandang ternak yang roboh terbakar di Cawas," kata Sumino.
Guna mengoptimalkan penanganan musibah kebakaran serta tugas penyelematan di wilayah Klaten, Damkar saat ini menyiagakan lima unit armada utama. Terdiri dari unit mobil pompa dan unit penyuplai air.
Selain itu, disiagakan pula kendaraan operasional pendukung untuk evakuasi non-kebakaran seperti penanganan ular dan sarang tawon.
Adapun kekuatan personel penanganan musibah ditopang oleh 44 personel Damkar Klaten yang disiagakan bergantian.
Untuk memperluas jangkauan penanganan di lapangan, Damkar Klaten bersinergi erat dengan potensi relawan serta masyarakat.
"Kekuatan kami sangat dibantu oleh keberadaan masyarakat dan organisasi relawan di Klaten. Sinergi dan kesiapsiagaan bersama ini penting agar risiko kebakaran dapat kita minimalisir sedini mungkin," pungkasnya. (ren)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com