Menjaga Warisan Kuliner Khas Delanggu, Ini Rahasia Lompya Duleg Tetap Eksis di Tangan Generasi Ke-4

Angga Purenda • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 17:35 WIB
Ketua Paguyuban Lompya Duleg di Desa Gatak, Delanggu, Klaten Didik Bowo Saputro berpose di depan gunungan Lompya Duleg, Sabtu (18/7/2026). Foto kanan,
penampakan Lompya Duleg lengkap dengan kuah kental manis dan gurih dibuat dari gula jawa. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
Ketua Paguyuban Lompya Duleg di Desa Gatak, Delanggu, Klaten Didik Bowo Saputro berpose di depan gunungan Lompya Duleg, Sabtu (18/7/2026). Foto kanan, penampakan Lompya Duleg lengkap dengan kuah kental manis dan gurih dibuat dari gula jawa. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM-Kuliner Lompya Duleg khas Desa Gatak, Delanggu, Klaten mencoba eksis di tengah gempuran aneka jajanan kekinian. Saat ini ada sekira 15 pelaku usaha  memproduksi kuliner yang diadapatasi dari lumpia Sematang.

Kuliner yang diboyong oleh Mbah Karto Purno ke Desa Gatak sekira 1950-an coba dimodifikasi agar lebih terjangkau dan diterima oleh masyarakat lokal. Kini telah menjadi penompang ekonomi warga desa setempat.

Salah satu pelaku usaha Lompya Duleg di Desa Gatak, Didik Bowo Saputro, 48, yang juga menjabat sebagai Ketua Paguyuban Lompya Duleg ini menuturkan bahwa kunci utama untuk tetap bertahan di tengah kemunculan aneka kuliner terletak pada konsistensi rasa.

Baca Juga: LDA Bakal Buka Akses Keraton, Kubu PB XIV Purbaya: Jangan Pakai Ancaman

"Secara adonan dan rasa memang tidak bisa diubah-ubah. Karakter dasarnya ya seperti ini sejak dulu. Biarpun jajanan sekarang makin aneka ragam seperti cilok atau pentol, kami tetap konsisten mempertahankan resep aslinya," ujar Didik saat ditemui di kediamannya, Sabtu (18/7/2026).

Berbeda dengan lumpia Semarang yang menggunakan rebung, lompya duleg memanfaatkan adonan pati onggok dan tepung gandum untuk kulitnya.

Ditambah dengan isian berupa tauge. Racikan bumbunya pun tetap mempertahankan resep turun temurun berupa garam, bawang, dan penyedap rasa.

Keunikannya makin terasa saat dinikmati bersama kuah siraman manis-gurih berbahan gula jawa dan kecap.

Lompya duleg yang dicocol dengan kuah tersebut menyajikan sensasi gurih dan segar dalam sekali gigit.

Didik sudah menekuni usaha pembuatan lompya duleg selama hampir 18 tahun sejak 2009.

Ia menyebutkan bahwa pelaku usaha setiap rumah mampu mengolah hingga 2 Kg adonan per hari yang menghasilkan sekitar 800 hingga 900 biji lompya duleg.

Dijual dengan harga Rp1.000 dapat tiga biji, pemasaran dilakukan secara mandiri menggunakan sepeda motor atau moda transportasi lainnya.

Menjangkau pasar-pasar tradisional hingga daerah pelosok di Delanggu dan sekitarnya seperti Boyolali dan Sukoharjo.

"Penikmatnya rata-rata kalangan dewasa hingga lansia, mulai dari usia sekolah menengah ke atas. Kalau ada keramaian seperti pagelaran wayang kulit, omzetnya biasanya melonjak tajam," tambahnya.

Saat ini, terdapat sekira 15 rumah produksi aktif di Desa Gatak yang menggantungkan mata pencaharian dari usaha Lompya Duleg.

Meski menghadapi tantangan berupa regenerasi tetapi keberadaan kuliner khas ini terbukti menjadi jaring pengaman ekonomi warga desa.

Baca Juga: Tagih Angsuran Utang, Petugas Koperasi Dibacok Suami Nasabah di Klaten Selatan

Kepala Desa (Kades) Gatak Walino menegaskan, potensi UMKM Lompya Duleg berdampak signifikan dalam menekan angka pengangguran lokal.

Pemdes Gatak secara konsisten mengalokasikan dukungan nyata melalui penyaluran Dana Desa.

"Kami dari Pemdes sangat mendukung penuh keberlanjutan UMKM ini. Dukungan alokasi Dana Desa dialihkan untuk bantuan sarana produksi perajin, seperti peralatan memasak, kompor, hingga tabung gas. Tujuan utamanya agar usaha Lompya Duleg ini terus berkembang,” urai Walino.

Upaya pelestarian kuliner legendaris ini kian diperkuat oleh langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten yang telah mendaftarkan dan mematenkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas Lompya Duleg sebagai makanan khas dari Klaten.

Walino berharap dengan adanya pengakuan resmi serta fasilitasi promosi dari pemerintah daerah, Lompya Duleg tidak hanya bertahan di ranah lokal. Tetapi makin dikenal secara luas di seluruh pelosok Jawa Tengah dan nasional. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
Lompya Duleg umkm kuliner khas delanggu