Gempuran Impor hingga Perang Harga, Pandai Besi Klaten Berusaha Bertahan dengan Menjaga Kualitas Produk

Angga Purenda • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 18:47 WIB
Pandai besi Suprianto asal Desa Padas, Kecamatan Karanganom, Klaten, yang menampilkan berbagai produk dalam Klaten Fair di Alun-alun Klaten, Senin (20/7/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)
Pandai besi Suprianto asal Desa Padas, Kecamatan Karanganom, Klaten, yang menampilkan berbagai produk dalam Klaten Fair di Alun-alun Klaten, Senin (20/7/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM-Industri Kecil dan Menengah (IKM) pandai besi di Kabupaten Klaten terus berjuang menjaga eksistensi di tengah lesunya pasar dan gempuran produk impor.

Salah satu pelaku usaha yang konsisten bertahan adalah Suprianto, 60, asal Desa Padas, Kecamatan Karanganom.

Ia juga turut memamerkan produk-produk unggulannya dalam ajang Klaten Fair di Alun-Alun Klaten, pada Minggu-Kamis (19-23/7/2026).

Suprianto menyambut positif fasilitasi pameran yang digelar oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Klaten tersebut.

Menurutnya, event semacam itu menjadi ruang vital bagi perajin logam lokal untuk memperluas jangkauan pasar.

Baca Juga: Peringati Hari Anak Nasional 2026, BRI Peduli Gelar Kegiatan Edukatif di 6 Sekolah Dasar

"Kami sangat mengapresiasi dinas yang terus berpihak pada IKM. Event pameran seperti Klaten Fair ini menjadi sarana untuk kembali mengangkat dan mengenalkan produk-produk IKM Klaten ke publik yang lebih luas," ujar Suprianto saat ditemui radarsolo.jawapos.com, pada Senin (20/7/2026)

Ia sendiri berfokus pada produksi alat pertanian, khususnya cangkul berbahan logam. Selain cangkul, Suprianto juga melayani pesanan khusus seperti linggis hingga garpu tanah.

Di balik partisipasinya, Suprianto tak menampik bahwa kondisi pasar alat pertanian saat ini tengah lesu.

Selain dipengaruhi daya beli dan kondisi ekonomi pascapanen para petani yang fluktuatif, tantangan berat juga datang dari persaingan harga di tingkat perajin lokal.

Ia mengungkapkan, munculnya perajin muda atau pemain baru yang tidak memperhitungkan Harga Pokok Produksi (HPP) secara matang kerap memicu aksi banting harga.

"Sebagian perajin baru berfokus pada kuantitas tanpa memperhitungkan HPP dan margin secara cermat. Yang penting cangkul jadi dan laku. Kalau kami konsisten menjaga kualitas barang. Meskipun pasar bersaing ketat, kualitas ketajaman dan ketahanan bahan tetap jadi yang utama," jelas perajin yang sudah memproduksi alat pertanian sejak tahun 1989 ini.

Tantangan tak berhenti di situ. Perajin lokal juga harus berhadapan dengan banjir cangkul impor asal Tiongkok yang dibanderol dengan harga jauh lebih murah.

"Masa kejayaan pandai besi lokal itu sekitar era 1990-an saat pemainnya masih sedikit. Sekarang tantangannya bertambah dengan masuknya cangkul impor. Meskipun cangkul impor bahannya tebal, dari segi fungsi sebenarnya belum siap pakai karena masih tumpul dan butuh biaya tambahan untuk penyepuhan,” jelasnya.

Tantangan ekonomi dan kondisi pasar tersebut berdampak nyata pada penyusutan jumlah perajin di Klaten. Suprianto mencatat, dari yang semula terdapat sekitar 45 perajin aktif yang tergabung dalam wadah koperasi, kini jumlahnya menyusut drastis.

Baca Juga: Punya Kenangan Manis di Magny-Cours, Kiandra Ramadhipa Siap Tempur di Moto3 Junior World Championship

"Dulu yang tergabung bisa sampai 45 pengrajin. Namun seiring berjalannya waktu. Ada yang meninggal dunia, beralih profesi, hingga gulung tikar. Sekarang yang bertahan tinggal sekitar 26 perajin," ungkapnya.

Melalui keikutsertaan dalam ajang pameran seperti Klaten Fair, Suprianto berharap dapat membuka peluang pasar dan kemitraan baru. Ia menaruh harapan besar agar pemerintah daerah terus memberikan pendampingan.

“Baik dari segi pemasaran, proteksi pasar lokal hingga edukasi penetapan harga agar regenerasi pandai besi di Klaten tetap berjalan sehat dan berkelanjutan,” harapnya. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
gempuran impor perang harga pandai besi klaten kualitas produk