Menguak Makam KH Imam Rozi Berjuluk Singo Manjat di Tempursari Klaten, Jadi Sosok Garda Terdepan Perang Diponegoro

Angga Purenda • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 11:20 WIB
Makam KH Imam Rozi berjuluk Singo Manjat di Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Klaten, Rabu (22/7/2026) (Angga Purenda/Radar Solo-Mistik)
Makam KH Imam Rozi berjuluk Singo Manjat di Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Klaten, Rabu (22/7/2026) (Angga Purenda/Radar Solo-Mistik)

RADARSOLO.COM – Suasana tenang dan sarat magis menyelimuti kompleks pemakaman di sebelah barat Masjid Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Klaten.

Hanya berjarak sekitar 100 meter dari Pondok Pesantren Singo Manjat, berdiri sebuah cungkup kayu bercat hijau muda yang memayungi dua makam kuno bernisan era Mataram Islam.

Di situlah peraduan terakhir KH Imam Rozi. Seorang tokoh spiritual, ulama, sekaligus sosok penuh misteri yang diyakini masyarakat setempat memiliki karamah luar biasa saat mendampingi perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825–1830).

Jejak KH Imam Rozi sejatinya tercatat dalam panggung sejarah nasional.

Dalam buku Sisi Lain Diponegoro karya sejarawan Inggris Peter Carey yang merujuk pada Babad Diponegoro dan Babad Kedung Kebo.

Nama Haji Imam Rozi muncul sebagai penghulu pengganti Kiai Mojo pada rentang 1826-1828.

Posisi tersebut disandangnya setelah pertempuran berdarah di Gawok pada Oktober 1826 yang memicu perselisihan antara Pangeran Diponegoro dan Kiai Mojo. Hal itu diutarakan oleh Pegiat sejarah asal Klaten Hari Wahyudi.

Ia menjelaskan bahwa dari kacamata dokumen sejarah, status KH Imam Rozi adalah seorang pemimpin laskar santri atau ulama terpandang.

"Dari gelarnya Haji Imam Rozi, tentu beliau seorang ulama. Kalau untuk identik sebagai panglima perang, secara dokumen formal tentu belum terbukti. Namun, gelar Singo Manjat itu adalah bentuk patriotisme lokal. Penghormatan masyarakat atas keberanian beliau membantu perjuangan Pangeran Diponegoro," ungkap Hari kepada radarsolo.com pada Kamis (23/7/2026).

Hari menambahkan, penyebutan bernuansa hewani seperti Singo (Singa) kerap digunakan masyarakat Jawa tempo dulu untuk menggambarkan sosok yang memiliki ketangkasan layaknya panglima perang (senopati).

Sedangkan nama Desa Tempursari sendiri diduga kuat berkaitan erat dengan riwayat pertempuran sengit Laskar Diponegoro di wilayah sekitar Jukarek, Karang Anom, dan Gedaren.

Di balik catatan literatur sejarah, cerita tutur yang diwariskan secara turun-temurun justru menyimpan dimensi mistis yang amat kental.

Salah satu keturunan KH Imam Rozi, Muhammad Subhan, 53, menceritakan bahwa sang leluhur dibekali ilmu kanuragan serta kesaktian yang tinggi.

Subhan juga menjelaskan, bahwa julukan Singo Manjat memberikan gambaran atas kelebihan supranatural yang dimiliki KH Imam Rozi.

“Mbah Imam Rozi dikisahkan mampu memanjat pohon kelapa atau pohon tinggi lainnya dengan kecepatan ekstrem yang tidak masuk akal bagi manusia biasa. Berkat kelebihannya itu, beliau dipercaya menjadi garda terdepan atau telik sandi (mata-mata) Pangeran Diponegoro,” ucapnya.

Dikarenakan kesetiaan dan kemampuannya, beliau menjadi salah satu ulama kesayangan Pangeran Diponegoro.

Hingga akhirnya dianugerahi tanah perdikan di Tempursari, Kecamatan Ngawen, Klaten tersebut.

Meskipun memendam ilmu kanuragan yang tinggi, KH Imam Rozi dikenang sebagai sosok yang amat bersahaja dan irit bicara.

Subhan menuturkan, kewibawaan lahir dan batin sang Kiai begitu merasuk hingga para santri menaruh hormat dan takut yang luar biasa.

Hingga saat ini, area pemakaman kuno di Tempursari masih menjadi magnet spiritual bagi masyarakat maupun peziarah dari berbagai daerah. Khususnya pada malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon.

"Yang datang ke sini (makam KH Imam Rozi) rata-rata mencari kedamaian hati dan membawa berbagai hajat hidup. Namun kami selalu mengingatkan, peziarah berdoa meminta hanya kepada Allah SWT, bukan kepada makam. Ziarah ini adalah sarana kepada Yang Maha Kuasa melalui keberkahan para ulama," pungkas Subhan.(ren)

Editor : Nur Pramudito
Sumber : Radar Solo
Makam KH Imam Rozi Singo Manjat Tempursari perang diponegoro klaten