Pikat Pasar Ekspor, Kerajinan Miniatur Asal Blanceran Klaten Tembus Fiji hingga Uni Emirat Arab

Angga Purenda • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 12:48 WIB
Perajin miniatur asal Desa Blanceran, Kecamatan Karanganom, Klaten, Sofyan saat menunjukan produk yang diminati pembeli luar negeri, Senin (20/7/2026) (Angga Purenda/Radar Solo)
Perajin miniatur asal Desa Blanceran, Kecamatan Karanganom, Klaten, Sofyan saat menunjukan produk yang diminati pembeli luar negeri, Senin (20/7/2026) (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Industri kerajinan tangan (handicraft) miniatur di Sentra Kerajinan Desa Blanceran, Kecamatan Karanganom, Klaten, perlahan kembali menggeliat pasca sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Memanfaatkan limbah kayu jati dari pabrik mebel, para perajin lokal mampu menghasilkan karya miniatur otomotif hingga kapal layar.

Tidak hanya diminati di dalam negeri, tetapi juga menembus pasar internasional.

Salah seorang perajin miniatur asal Desa Blanceran, Sofyan, 46, mengungkapkan optimisme dan pengalamannya dalam mempertahankan bisnis kerajinan yang telah ia rintis sejak 2001 tersebut.

Meski sempat berhenti berproduksi selama hampir satu tahun saat puncak pandemi Covid-19, Sofyan terbukti mampu membawa produknya bertahan dan bersaing di pasar ekspor.

"Kami rutin mengerjakan pesanan ekspor berdasarkan purchase order (PO). Biasanya durasi pengerjaan dua sampai tiga bulan untuk kapasitas rata-rata 1.500 unit miniatur, dengan nilai omzet sekira Rp 50 - Rp 60 juta," ujar Sofyan saat ditemui di sela-sela Klaten Fair pada Senin (20/7/2026)

Pasar ekspor utama produknya dipasok melalui distributor di Jakarta. Kemudian dikirim ke berbagai negara seperti Fiji, Selandia Baru, hingga Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

Kemitraan ekspor tersebut bahkan telah terjalin secara konsisten sejak tahun 2015 melalui mekanisme repeat order. Saat ini juga tengah merintis penetrasi pasar ke Jepang.

“Produk Kerajinan miniatur yang kami buat meliputi otomotif dan transportasi. Seperti sepeda motor, mobil, pesawat dan kapal layar.Tapi yang paling diminati para pembeli luar negeri yakni produk kapal layar,” tambahnya.

Produknya dibandrol mulai Rp 30.000-Rp 50.000 untuk ukuran yang kecil. Sedangkan yang berukuran sedang di harga Rp 75.000- Rp 100.000. Sementara untuk ukuran besar, mulai dari Rp 250.000-Rp 500.000.

Sofyan menegaskan bahwa kunci utama keberhasilannya menembus pasar luar negeri terletak pada komitmen menjaga kualitas. Begitu juga fleksibilitas dalam mengikuti tren pasar internasional.

"Saya selalu memproduksi barang sesuai permintaan buyer. Apa yang sedang tren di negara tujuan ekspor, itu yang kita ikuti dan inovasikan. Berbeda dengan pasar lokal yang terkadang masih memakai model-model lama," jelasnya.

Selain itu, Sofyan juga mulai melakukan kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan nilai tambah produknya.

Salah satunya memadukan kerajinan kayu jati dari Klaten dengan elemen perak dari perajin di Yogyakarta.

Keikutsertaan dalam pameran lokal seperti Klaten Fair menjadi angin segar bagi para perajin miniatur seperti dirinya.

Menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali produk handicraft Klaten kepada masyarakat luas serta membuka potensi pasar baru.

Di sisi lain, sektor kerajinan miniatur asal Blanceran masih menghadapi tantangan serius terkait penurunan jumlah tenaga kerja pasca pandemi.

Banyak perajin yang terpaksa gulung tikar dan beralih profesi menjadi buruh pabrik di sekitar Karanganom, Klaten.

“Kalau di dusun kami, dari sekitar 20 perajin kini hanya tersisa 14 perajin yang aktif. Kalau se-Desa Blanceran, dari 40-an perajin kini jumlahnya menyusut drastis,” ucapnya.

Sentra kerajinan miniatur Desa Blanceran juga menghadapi terbatasnya ketersediaan tenaga kerja berbakat yang menguasai teknik pembuatan produk secara detail.

Terlebih lagi, untuk saat ini ruang produksi masih menyatu dengan rumah tinggal sehingga belum memiliki tempat khusus skala industri.

Melalui usahanya yang kini mempekerjakan lima orang karyawan, Sofyan berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat memberikan perhatian lebih berkelanjutan bagi para pelaku industri kecil menengah (IKM) di Klaten.

"Harapan kami kepada pemerintah, baik daerah, provinsi, maupun pusat, agar selalu memperhatikan perkembangan usaha kami. Terutama memberikan kemudahan-kemudahan dalam hal perizinan dan urusan administratif pendukung lainnya," pungkas Sofyan.(ren)

Editor : Nur Pramudito
Sumber : Radar Solo
karanganom klaten kerajinan miniatur desa blanceran