Geliatkan Minat Petani Muda, Lomba Balap Traktor di Karangduren Klaten Sedot Peserta Terjauh dari Jawa Timur

Angga Purenda • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 18:17 WIB
Para joki tampak adu kesepatan dan keterampilan dalam Lomba Balap Traktor di Desa Karangduren, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Minggu (26/7/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)
Para joki tampak adu kesepatan dan keterampilan dalam Lomba Balap Traktor di Desa Karangduren, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Minggu (26/7/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM-Lahan persawahan di Dusun Bakal, Desa Karangduren, Kecamatan Kebonarum, Klaten berubah menjadi arena adu ketangkasan yang riuh pada Minggu (26/7/2026).

Sebanyak 16 joki traktor saling adu kecepatan dan keterampilan mengendalikan mesin pembajak sawah dalam ajang tahunan Lomba Balap Traktor edisi kelima kali ini.

Kegiatan seru tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Karangduren sekaligus dalam rangka menyongsong Hari Jadi ke-222 Klaten.

Kepala Desa (Kades) Karangduren yang juga Penanggungjawab Kegiatan Sumarna menjelaskan, ajang balap traktor tersebut bukan sekadar hiburan masyarakat. Melainkan sarana edukasi dan ajakan untuk memantik minat generasi muda di bidang pertanian.

Baca Juga: Sisa Pembakaran Sampah Ditinggal Kerja Bakti, Gudang Rosok di Ngawen Klaten Ludes Terbakar, Kerugian Rp120 Juta

"Event ini sudah memasuki tahun kelima dan menjadi agenda tahunan di Dusun Bakal, Desa Karangduren. Harapan saya, kegiatan ini bisa membangkitkan dan menggairahkan kembali minat kaum muda terhadap dunia pertanian yang selama ini kurang," ujar Sumarna saat ditemui di lokasi persawahan Desa Karangduren, Minggu (26/7/2026).

Sumarna mengungkapkan, minimnya minat generasi muda menjadi tantangan berat bagi keberlanjutan sektor pangan.

Untuk di Desa Karangduren, total luas persawahannya  mencapai lebih dari 50 hektar.

Terbagi dalam tiga kelompok tani yakni Manunggal Setyo, Lokatani, dan Karya Tani.

Mayoritas mereka adalah petani penggarap yang sudah berusia lanjut.

Baca Juga: Update Pemain Baru PSM Makassar di Liga 1: Nostalgia Darije Kalezic Dimulai Lagi, Gelombang Besar Pindah ke Persebaya Surabaya

"Rata-rata petani generasi tua usianya sudah di atas 60-70 tahun. Sementara untuk regenerasi muda sangat kurang, bahkan yang garap lahan kebanyakan sudah disewakan atau ke sistem bagi hasil," tambahnya.

Tak hanya persoalan regenerasi, sektor pertanian setempat juga sedang diuji oleh ancaman hama pada tahun ini.

Sumarna membeberkan bahwa para petani di wilayahnya terpaksa gigit jari akibat serangan hama tikus yang merata sepanjang tahun ini.

"Tahun 2026 ini petani sangat menangis karena serangan tikus merata hampir di seluruh lahan 50 hektar itu. Hasil panen kemarin praktis tidak ada, rugi karena biaya pengolahan tanah dan pembajakan tidak tertutup," ungkap Sumarna.

Meski di tengah tantangan tersebut, kemeriahan lomba balap traktor tetap menyedot perhatian luar biasa.

Dari total 16 peserta yang berlaga, enam di antaranya merupakan perwakilan lokal Klaten.

Baca Juga: Kasus Miras Lokananta Terus Berlanjut, DPRD Dorong Pencabutan Izin Permanen

Sementara sisanya datang dari berbagai daerah seperti Sragen, Ngawi hingga peserta terjauh dari Ponorogo, Jawa Timur.

Para joki memperebutkan total hadiah uang pembinaan sebesar Rp6 juta beserta piala dan paket dari sponsor. 

Untuk juara pertama berhak membawa pulang hadiah senilai Rp3 juta.

Perlombaan menggunakan sistem gugur mulai dari babak 16 besar hingga babak final.

Tentunya dengan jumlah putaran dan sistem tukar lintasan yang telah disepakati untuk menjaga keadilan.

Salah satu joki muda asal Klaten, Taufik, 24, mengaku selalu antusias mengikuti ajang tersebut sejak 2022.

Pemuda yang sehari-hari bekerja mengoperasikan traktor pembajak sawah ini sebelumnya pernah menyabet Juara 2 dan Juara 3 pada edisi 2022 dan 2023.

"Sangat seru dan bagus sekali untuk meramaikan serta untuk menarik minat petani muda lainnya. Untuk lintasan kali ini tantangannya cukup berat, terutama di tikungan karena lahannya lumayan dalam dan lawan-lawannya kencang," kata Taufik usai merampungkan putarannya.

Demi menghadapi kompetisi tahun ini, Taufik mengaku telah melakukan persiapan fisik dan kendaraan selama satu minggu penuh.

Baca Juga: Wahana Berdiri di Alun-alun Utara, Kubu PB XIV Purboyo Ancam Tempuh Jalur Hukum

Termasuk merombak dan melakukan pembongkaran mesin traktornya.

Taufik tak menampik bahwa menjadi petani muda di era sekarang memiliki tantangan tersendiri.

Mulai dari modal hingga ancaman gagal panen akibat serangan hama.

Namun, ia mengaku tetap menekuni profesi ini karena merasa tertantang dan ingin melestarikan tradisi bertani.

"Menjadi petani muda itu menantang. Harapannya lewat acara-acara seperti ini, anak muda makin bangga dan tidak malu turun ke sawah," pungkasnya. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
karangduren klaten Kebonarum balap traktor Petani Muda