RADARSOLO.COM-Suasana Objek Wisata Rowo Jombor, Taman Nyi Ageng Rakit, Bayat, Klaten tampak riuh dan meriah, Minggu (26/7/2026).
Ratusan peternak antusias memadati lokasi untuk mengikuti Kontes Kambing Kaligesing dan Domba Tingkat Regional Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Ajang yang digelar tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Jadi ke-222 Klaten.
Sebanyak 350 peserta dari berbagai wilayah di Jateng-DIY hadir membawa ternak-ternak unggulan mereka.
Baca Juga: Jelang Hari Jadi Ke-222 Klaten, Hamenang Anjangsana ke Kediaman Tiga Bupati Terdahulu
Panitia Penyelenggara Dwi Joko Murwanto menyebut gelaran tersebut sebagai lebarannya para peternak.
Selain menyemarakkan ulang tahun Klaten, misi utama kegiatan itu adalah menyelamatkan stabilitas harga kambing dan domba yang tengah merosot tajam.
"Tujuannya untuk menstabilkan harga, karena harga kambing dan domba saat ini sedang hancur-hancuran. Lewat kontes ini, kambing dan domba kualitas terbaik keluar semua. Harapannya bisa mendongkrak harga peternak breeding (pembibitan) agar kembali naik," ujar Dwi, Minggu (26/7/2026).
Dwi menjelaskan, ajang tersebut melombakan total 19 kelas.
Untuk kategori Kambing Kaligesing terdiri dari 10 kelas seperti E, D, C, B, dan A jantan-betina.
Baca Juga: Ajang Promosi Produk Unggulan Daerah, Bupati Hamenang Resmi Buka Klaten Fair 2026
Sementara kategori domba membuka sembilan kelas mulai dari non-poel, poel 1, poel 2, ekstrem domba hingga kelas ekstrem bebas yang membebaskan berbagai jenis ras ternak untuk bertanding dari segi bobot dan ukuran.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo yang hadir langsung di lokasi memberikan apresiasi tinggi.
Ia menegaskan bahwa agenda tahunan yang kini memasuki pelaksanaan tahun keempat tersebut sengaja diselenggarakan di destinasi wisata untuk memberikan dampak ganda.
"Tahun pertama kita di Kemalang, kedua di Jatinom, ketiga di Trucuk dan tahun keempat ini kita geser ke Rowo Jombor. Konsepnya sekaligus promosi wisata Klaten," tutur Hamenang.
Menurutnya, gelaran tersebut tidak hanya memotivasi para peternak untuk terus membiakkan bibit berkualitas.
Tetapi juga menggairahkan sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
"Semoga ajang ini semakin meriah dan menjangkau tingkat nasional. Dampak perekonomian bagi para peternak pun diharapkan bisa dirasakan secara luar biasa," imbuhnya.
Dampak positif kontes ini diakui langsung oleh para peserta.
Salah satunya Adi, 39, peternak asal Semarang berhasil memboyong juara tiga di kategori non-poel jantan dan betina.
Ia mengaku harus melakukan persiapan ekstra selama satu bulan penuh.
Termasuk memberikan pakan racikan khusus seperti ampas, kleci, konsentrat buatan sendiri serta kangkung kering untuk menjaga kualitas fisik dan bobot dombanya.
"Kontes seperti ini kalau bisa diadakan setiap bulan. Dampaknya sangat terasa untuk merangsang harga pasar," ungkap Adi, yang membawa domba jantan berbobot 90 Kg dan betina 60,5 Kg tersebut.
Adi membeberkan, jika dijual secara harian di kandang, domba biasa dihargai sekitar Rp90.000 per Kg.
Namun, begitu masuk dan berprestasi di ajang kontes, harganya bisa melonjak hingga Rp150.000 per Kg.
"Kenaikan harga ini bahkan berdampak pada kenaikan nilai jual keturunan (anakan) maupun indukan bunting di kandang asalnya," tambahnya. (ren)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com