RADARSOLO.COM-Puncak tradisi tahunan Grebeg Ageng Yaa Qowiyyu Kiai Ageng Gribig akan dilaksanakan di Lapangan Klampeyan, Jatinom, Klaten pada Jumat (31/7/2026).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto direncanakan hadir dalam puncak tradisi sebaran apem tersebut.
Hal itu diungkapkan Ketua Umum Yayasan Pengelola Pelestari Peninggalan Kiai Ageng Gribig (P3KAG) KRAT. Moh Ebta Tricahyo Dwijo Nagoro.
“Iya rencananya beliau akan hadir dalam acara puncak. Terlebih lagi beliau sebagai keturunan, trah dan keluarga besar Kyai Ageng Gribig,” ujar Ebta saat dikonfirmasi radarsolo.jawapos.com, Selasa (28/7/2026).
Baca Juga: Wonogiri Jadi Daerah Terbanyak Penutupan Perlintasan Liar, 17 Titik Ditutup Sejak 2023
Lebih lanjut, Ebta menjelaskan, untuk perhelatan Grebeg Ageng Yaa Qowiyyu tahun ini tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi seperti tahun sebelumnya.
Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak 16 Juli 2026 yang ditandai dengan prosesi Ambuko Songsong Winadi sebagai pertanda masuknya tanggal 1 Safar.
Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan Semakan Al Qur'an Bil Qhoib dan Khataman Al Qur'an pada 22 Juli 2026 bersama para hafiz dari Ponpes Kiai Ageng Gribig dan Pati, Jawa Tengah.
Rangkaian acara turut diisi dengan pembacaan Maulid Al Barzanji, haul dan festival seni budaya selama sepekan di sepanjang Jalan Raya Jatinom.
Termasuk kirab Gunungan Apem dari Kantor Kecamatan Jatinom menuju Masjid Gedhe Jatinom.
Baca Juga: Buka Penilaian Ombudsman 2026, Sekda Jateng Sumarno Minta ASN Tidak Antikritik dan Komplain
"Ada acara Serah Terima Gunungan Apem dari Forkompincam Jatinom kepada Yayasan Kiai Ageng Gribig, Kenduri seni malam Midodaren di amphiteater Klampeyan, sedekah apem dari masyarakat di menara apem dan acara puncak penyebaran apem," tutur Ebta.
Sebagai gambaran kemeriahan, pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, jumlah apem yang dibagikan kepada pengunjung mencapai 55 ribu biji atau setara seberat 5 ton.
Apem tersebut dihimpun dari masyarakat Jatinom maupun luar daerah, termasuk kabupaten tetangga seperti Boyolali.
Selain sarat akan makna spiritual dan budaya, acara tradisi sebaran apem terbukti memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat setempat.
Selama sepekan rangkaian perhelatan, terdapat para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang berjualan makanan khas atau oleh-oleh Jatinom seperti apem.
“Tradisi Yaa Qowiyyu telah mengakar selama berabad-abad bermula dari metode dakwah Ki Ageng Gribig. Sang ulama memanfaatkan apem sebagai media sedekah sekaligus syiar Islam,” jelasnya.
Ebta mengungkapkan bahwa ajaran yang diwariskan oleh Kiai Ageng Gribig diantaranya bersilaturahmi, bersedekah, berdoa dan selalu berserah diri kepada Allah.
Termasuk menggelorakan semangat persatuan dan kesatuan, menghargai keberagaman dan perbedaan, gotong-royong, guyub rukun dan cinta terhadap budaya.
“Itu semua adalah ajaran Eyang Kiai Ageng Gribig yang kita jadikan sebuah prinsip kami untuk diteladani dan jalankan dalam kehidupan sehari-hari," tutup Ebta.(ren)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com