RADARSOLO.COM- Unik dan kreatif. Itulah yang dilakukan petani muda di Kabupaten Klaten dalam menyemarakkan Hari Jadi ke-222 Klaten.
Berbekal perpaduan seni dan teknik bertani, Prihatnyo Ruli Hermawan, 39, petani milenial asal Desa Juwiring, Kecamatan Juwiring, melukis hamparan sawahnya dengan karya tanbo art atau seni melukis di atas sawah.
Di atas lahan kas desa seluas 1.700 meter persegi, Ruli membentuk pola visual raksasa bergambar Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo lengkap dengan tulisan tema Hari Jadi Klaten, Sahita Hamemayu Raharja.
Untuk memunculkan kontras warna gambar, Ruli mengombinasikan dua varietas padi yang berbeda.
Yakni varietas Cibatu untuk warna daun hijau dan varietas Black Madras untuk warna daun ungu gelap.
"Kami mencoba turut serta memeriahkan ulang tahun Klaten yang ke-222 ini dengan memberikan sentuhan seni di sawah," ujar Ruli ditemui di Desa Juwiring, Senin (27/7/2026).
"Alasan memilih sosok Mas Hamenang sebagai objeknya karena beliau merupakan ikon Klaten saat ini sekaligus lambang representasi anak muda yang bisa menjadi pemimpin dan teladan," lanjutnya.
Lewat karya seni ini, Ruli yang baru terjun penuh ke dunia pertanian dalam beberapa tahun terakhir ini membawa misi besar.
Yakni mengampanyekan regenerasi petani muda di Klaten.
Baca Juga: Wonogiri Jadi Daerah Terbanyak Penutupan Perlintasan Liar, 17 Titik Ditutup Sejak 2023
Menurutnya, sektor pertanian saat ini masih sangat didominasi oleh generasi tua.
Di sisi lain, Ia juga menekankan pentingnya mengajarkan pemuda tentang menghargai proses.
Hal yang sering kali diabaikan oleh generasi serba instan saat ini.
"Kami ingin mengajak anak-anak muda untuk kembali menyukai dan terjun ke dunia pertanian. Saat ini pertanian masih didominasi petani tua," kata Ruli.
"Melalui pendekatan kreatif ini, kami ingin memperlihatkan bahwa bertani itu asik, bisa menambah relasi dan berpotensi viral serta dikenal," imbuh dia.
Selain membawa pesan regenerasi, Ruli juga menyuarakan harapannya terhadap masa depan sektor pertanian di Kabupaten Klaten yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Tengah maupun nasional.
Baca Juga: Buka Penilaian Ombudsman 2026, Sekda Jateng Sumarno Minta ASN Tidak Antikritik dan Komplain
Ia berharap Pemkab Klaten dapat makin memperketat perlindungan terhadap lahan pertanian agar tidak tergerus oleh alih fungsi lahan menjadi bangunan.
Sementara itu, proses pembuatan tanbo art cukup rumit dan membutuhkan ketelitian tinggi.
Ruli menjelaskan, persiapan dan pengerjaan penanaman dimulai sejak 16 Juni 2026.
Pembuatan pola mengandalkan skala koordinat vertikal dan horizontal menggunakan patok-patok khusus di sawah agar posisi padi ungu Black Madras dan padi hijau Cibatu presisi saat ditanam.
"Proses penanamannya saja memakan waktu sekitar 10 hari karena harus menyocokkan titik koordinat gambar ke lahan. Jam kerjanya pun hanya dari pagi sampai siang. Supaya hasil visualnya estetik dan rapi saat dilihat. Seluruh patok koordinat kami cabut setelah penanaman selesai," terangnya.
Saat ini, usia tanaman padi tersebut sudah memasuki sekitar 40 Hari Setelah Tanam (HST). diperkirakan siap panen pada usia 100 HST. Hasil panen padi Cibatu akan dijual seperti biasa.
“Sementara varietas Black Madras beras yang kaya manfaat untuk penderita diabetes, sebagian akan disisihkan sebagai bibit dan sebagian lainnya dipasarkan untuk beras konsumsi khusus,” ucapnya. (ren)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com