RADARSOLO.COM-Peringatan Hari Jadi ke-222 Kabupaten Klaten yang digelar di Alun-alun Klaten pada Selasa (29/7/2026) menjadi momen bersejarah bagi penguatan sinergi antardaerah.
Dalam momen istimewa tersebut, Pemkab Klaten dan Pemkab Gayo Lues, Provinsi Aceh, secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama lintas sektor.
Penandatanganan kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari payung kesepakatan tingkat provinsi antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Aceh.
Dalam keterkaitannya, Kabupaten Klaten ditunjuk mewakili Jawa Tengah. Sementara Kabupaten Gayo Lues hadir mewakili Provinsi Aceh.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menyampaikan bahwa pada fase awal penandatanganan MoU kali ini, fokus utama kesepakatan diarahkan pada pengembangan sektor pertanian dan perkebunan.
"Nanti ke depan mungkin bisa kita kembangkan di bidang-bidang yang lain. Selama dua hari kemarin, Bapak Bupati Gayo Lues kita ajak berkeliling di Kabupaten Klaten untuk melihat potensi-potensi yang ada sebelum memutuskan poin kerja sama ini." Ujar Bupati Hamenang, Selasa (28/7/2026)
Bupati Hamenang menambahkan bahwa Gayo Lues dikenal secara nasional sebagai salah satu produsen kopi Arabika terbaik.
Sinergi ini diharapkan mampu membangkitkan kembali kejayaan sejarah kopi Klaten di masa lalu.
"Kita tahu tren minum kopi saat ini terjadi di seluruh Indonesia. Ini pangsa pasar yang sangat luas yang harus bisa kita manfaatkan melalui kolaborasi antardaerah," tambah Hamenang.
Baca Juga: Pasca Kebakaran, Bupati Klaten Siapkan Pasar Darurat dan Bantuan Modal Pedagang Pasar Bayat
Sementara itu, Bupati Gayo Lues Suhaidi menyatakan kekagumannya atas kemajuan Kabupaten Klaten yang dinilainya jauh lebih berpengalaman dan mandiri di usianya yang ke-222 tahun.
Dalam kunjungannya, Suhaidi sempat meninjau langsung beberapa lokasi penting di Klaten, termasuk unit pengolahan beras dan kawasan lereng Gunung Merapi.
"Klaten ini kabupaten yang sudah berhasil di berbagai bidang, tentu kami dari Gayo Lues yang baru berusia 24 tahun harus banyak belajar," ujar Suhaidi.
"Kemarin kami mengunjungi badan usaha pengolahan beras di Klaten yang produktivitasnya sangat tinggi untuk kami adopsi dan bawa ke Gayo Lues. Selain itu, kami juga melihat potensi besar perkebunan kopi di kawasan Lingkar Merapi,” lanjutnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata bagi pengembangan kopi Klaten, Pemkab Gayo Lues memberikan bantuan sebanyak 25.000 benih kopi bersertifikat.
Selain pertanian dan perkebunan, Bupati Gayo Lues Suhaidi menegaskan bahwa kerja sama ke depan juga akan diperluas ke sektor pariwisata.
Keberhasilan Klaten dalam memajukan desa wisata seperti Desa Ponggok telah menjadi inspirasi nasional, termasuk bagi daerah-daerah di Aceh.
"Klaten berhasil membina desa-desa menjadi tujuan wisata yang terkenal hingga seluruh Indonesia. Di Aceh sendiri sudah banyak yang belajar ke Desa Ponggok. Potensi Gayo Lues sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Klaten, tinggal bagaimana fokus tata kelolanya yang perlu diperkuat bersama," ucap Suhaidi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten Iwan Kurniawan merinci bahwa bantuan benih kopi tersebut akan ditanam dan dikembangkan oleh kelompok petani milenial di kawasan Desa Balerante, Kecamatan Kemalang.
"Sektor perberasan kita memang unggul sehingga Gayo Lues belajar produktivitas beras dari Klaten. Sebaliknya, untuk perkebunan kopi, Gayo Lues jauh lebih maju dan kita yang banyak belajar," terang Iwan.
"Bantuan 25 ribu benih kopi bersertifikat dari Pak Bupati Gayo Lues akan dikembangkan di wilayah atas seperti Kecamatan Kemalang sangat cocok untuk komoditas kopi Arabika,” imbuhnya.
Iwan menambahkan, pengembangan kopi di kawasan Lingkar Merapi akan memanfaatkan pola tumpang sari. Tepatnya di bawah naungan pohon keras untuk memaksimalkan ruang lahan yang belum tergarap optimal. (ren)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com