RADARSOLO.COM-Usai memimpin rangkaian upacara Hari Jadi ke-222 Klaten, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo melakukan aksi napak tilas ke sejumlah titik bersejarah di Kota Bersinar pada Selasa (28/7/2026)
Salah satu lokasi utama yang ditinjau langsung oleh Bupati Hamenang adalah penanda Titik 0 Km Klaten yang berlokasi tepat di Jalan Pemuda, Kecamatan Klaten Tengah.
Ditandai dengan keberadaan patok yang lokasinya tak jauh dari Kampung Kanjengan.
Peninjauan dilanjutkan dengan menyusuri kompleks Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Klaten. Lokasinya menyimpan rekam jejak penting masa lalu pemerintahan daerah.
Baca Juga: Kejari Boyolali Eksekusi Pemusnahan Puluhan Gram Sabu, Kasus Narkotika dan Pencurian Mendominasi
Bupati Hamenang mengungkapkan keberadaan Titik 0 Km Klaten tersebut belum banyak diketahui oleh masyarakat luas.
"Ternyata fun fact-nya, tidak hanya saya, tetapi banyak masyarakat yang belum tahu titik 0 Km itu di sebelah mana. Adanya tepat di Jalan Pemuda setelah Gang Kanjengan. Nah, sejarahnya seperti apa nanti kita ke depan kulik bersama-sama," ujar Hamenang Wajar Ismoyo.
Mengingat posisinya yang sangat strategis di pusat kota dan tepat di pinggir jalan raya utama, Bupati Hamenang mengungkapkan apakah perlu dilakukan penataan kawasan tersebut agar masyarakat luas lebih teredukasi.
"Nanti kita diskusikan seperti apa penataannya. Apakah kemudian kita tambahi papan plang penanda agar masyarakat tahu bahwa ini adalah titik 0 Km atau seperti apa. Kami juga membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan ide, gagasan dan usulan ke depan agar warga lebih tahu posisi pastinya," tambah Bupati.
Sementara itu, saat berkunjung ke Kantor Dispersip Klaten, Hamenang mendapatkan penjelasan dari latar belakang historis bangunan kantor tersebut.
Baca Juga: Taman Gesang Bakal Direvitalisasi Jadi Pusat Wisata Musik Keroncong, Jepang Siap Turun Tangan
“Kantor Dispersip ini dulu kemungkinan besar adalah kantor kabupaten atau pusat pemerintahan. Kalau kita hubungkan, kenapa daerah sini dinamakan Kanjengan, nah bisa jadi berkaitan erat dengan sejarah tersebut," paparnya.
Di dalam Kantor Dispersip Klaten, Bupati juga meninjau keberadaan peninggalan unik berupa sendang (mata air tua) serta struktur bangunan kuno era kolonial.
"Di dalam Perpus ini ada sebuah sendang. Nah, sejarahnya seperti apa saya juga belum tahu pasti, nanti akan terus kita gali literasinya. Yang menarik, sebagian bangunan perpustakaan ini masih berupa peninggalan asli era kolonial yang luar biasa dan wajib kita lestarikan bersama," ujar Bupati Hamenang.
Kunjungan napak tilas tersebut mempertegas komitmen Pemkab Klaten dalam menjaga warisan sejarah dan cagar budaya.
Pemkab Klaten sebelumnya telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) khusus tentang pelestarian cagar budaya.
Sebagai langkah awal implementasi perda, penampungan artefak telah disediakan Museum Daerah Klaten yang berada di kompleks Monumen Juang 45 Klaten.
Namun, Bupati mengakui bahwa lokasi tersebut belum sepenuhnya representatif untuk memamerkan seluruh potensi sejarah Klaten.
"Insya Allah ke depan, ketika anggaran sudah mencukupi, kita akan membuat museum yang lebih representatif sehingga dapat menampung berbagai macam artefak peninggalan masa lalu. Sampai hari ini, benda-benda bersejarah terus bermunculan di wilayah Kabupaten Klaten," tutur Hamenang optimistis.
Sementara itu, Koordinator Komunitas Klaten Lampau sekaligus pegiat sejarah asal Klaten Airell Luthfan Ababiel mengungkapkan bahwa Titik 0 Km pada dasarnya berfungsi sebagai penanda geografis titik tengah antara Solo dan Yogyakarta.
"Jika dilihat dari bentuk fisik inskripsi dan struktur tulisannya, pal atau patok penanda 0 km yang ada saat ini merupakan patok buatan era setelah kemerdekaan. Sebab, untuk paal-paal peninggalan era sebelum kemerdekaan, beberapa masih ada yang tersisa di lokasi lain dengan bentuk dan inskripsi tulisan yang berbeda," terang Airell.
Airell juga menegaskan bahwa area Kantor Dispersip memang dahulunya merupakan kompleks bekas Rumah Dinas Bupati Klaten.
“Di areal kompleks Dispersip setidaknya terdapat tiga bangunan yang menjadi komplek dari rumah Bupati Klaten itu. Untuk komponen yang pasti ada pendapa dan rumahnya,” tambahnya. (ren)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com