Viral Disebut Sabana Hijau, Petani Jagung di Sengon Prambanan Klaten Resah

Angga Purenda • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 19:17 WIB
Pengunjung di lahan persawahan milik petani di Sengon, Prambanan, Klaten, Rabu (29/7/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)
Pengunjung di lahan persawahan milik petani di Sengon, Prambanan, Klaten, Rabu (29/7/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM-Fenomena pemandangan hamparan rumput hijau bak sabana di Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Klaten viral di media sosial.

Sayangnya, kepopuleran lokasi tersebut justru menuai keluhan dari para petani pemilik lahan.

Lahan persawahan yang siap ditanami jagung pada musim kemarau ini justru rusak terinjak-injak pengunjung hingga dipenuhi tumpukan sampah.

Baca Juga: Sisa Pembakaran Sampah Diterpa Angin, Gudang Rongsok di Sambi Boyolali Terbakar

Lokasi yang sejatinya merupakan lahan pertanian milik pribadi dari sekira 10 petani tersebut mendadak dipadati warga luar daerah.

Pengunjung yang penasaran berbondong-bondong datang untuk berswafoto.

Mereka menikmati pemandangan lahan hijau dengan latar belakang perbukitan tanpa menyadari dampak kerugian yang dialami para petani lokal.

Kepala Desa Sengon Agus Sumaryono membenarkan bahwa sejumlah petani telah mendatangi Balai Desa untuk mengadukan keresahan mereka.

Lahan seluas lebih dari 1 hektare tersebut selama ini sangat bergantung pada musim kemarau untuk bisa digarap.

"Sudah banyak petani yang laporan ke balai desa. Intinya mereka merasa dirugikan. Sebab, area persawahan itu kalau musim hujan tergenang air seperti rawa. Begitu masuk kemarau dan air surut, ini momen satu-satunya bagi petani untuk bisa menanam jagung malah viral banyak pengunjung," ujar Agus, Rabu (29/7/2026).

Baca Juga: Persebaya Surabaya vs PSMS Medan, Berapa Prediksi Skornya di Laga Piala Presiden 2026 Malam Ini?

Agus menjelaskan, sebagian lahan sebenarnya sudah dibajak dan ditanami jagung oleh petani.

Bahkan, beberapa pemilik lahan telah memasang pembatas tali rafia serta papan imbauan agar pengunjung tidak menerobos.

Namun, arus kedatangan wisatawan yang masif dari luar daerah membuat imbauan tersebut diabaikan.

"Sebagian lahan sudah dibajak, ada yang sudah diberi rafia dan tulisan imbauan, tapi tetap diinjak-injak orang banyak. Kita mau menegur keras juga sungkan karena pengunjung datang dari jauh, seperti Jogja dan Solo. Kerumunan massanya sulit dibendung," tambah Agus.

Pihak Pemerintah Desa Sengon pun mengimbau masyarakat maupun pengunjung yang datang untuk memiliki kesadaran.

Baca Juga: Sudah Bersabar selama 3 Tahun, Pedagang Desak Pembangunan Pasar Slogohimo Wonogiri Segera Dimulai

Yakni harus menjaga kebersihan dan tidak memasuki area sawah yang sudah dibajak agar para petani tetap bisa menyambung hidup dari hasil panen mereka.

Sementara itu, terkait masalah ketergenangan air di kawasan tersebut saat musim hujan memang sudah berlangsung lama.

Agus membeberkan bahwa drainase yang tersumbat dan tertutup di area timur menjadi pemicu utama sawah di wilayahnya berubah menjadi rawa saat musim hujan.

Berbagai usulan perbaikan drainase telah disampaikan ke dinas terkait, namun hingga kini masalah belum terselesaikan secara menyeluruh.

Ngatijo, 66, petani setempat mengungkapkan, kehadiran pengunjung tak sekadar mengganggu pengolahan tanah.

Tetapi juga menyisakan persoalan sampah yang berserakan di lahan sawah.

"Masalah utamanya sampah, banyak sekali sampah plastik yang tertinggal. Petani terpaksa harus mengumpulkan sampah dulu sebelum menggarap sawah. Selain itu, tanah yang siap ditanami malah dipakai main-main dan diinjak-injak," ungkap Ngatijo.

Ngatijo menceritakan, menanam di lahan tersebut bak adu peruntungan bagi petani setempat. 

Sawah tersebut bisa terendam banjir hingga 7-8 bulan saat musim hujan.

Baca Juga: Dengar Tiga Kali Letupan, Rumah Warga Kebakkramat Karanganyar Ludes Dilalap Si Jago Merah

Praktis, petani hanya bisa memanfaatkan masa tanam satu kali dalam setahun dengan durasi sekitar 100 hari saat musim kemarau tiba.

"Sistemnya untung-untungan. Kalau kemarau basah dan hujan turun terus, ya tidak bisa menanam sama sekali. Begitu airnya surut, baru kita bisa tanam jagung," jelasnya.

"Harapan kami buangan air saluran drainase diselesaikan supaya lancar dan lahan kami tidak dirusak saat masa tanam," pungkas Ngatijo. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
sabana hijau sengon prambanan viral petani jagung