Museum Besalen Koripan Klaten: Menelusuri Jejak Para Empu dan Geliat Pandai Besi di Desa Kranggan

Angga Purenda • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 10:40 WIB
Pengunjung melihat berbagai koleksi di Museum Besalen Koripan, Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)
Pengunjung melihat berbagai koleksi di Museum Besalen Koripan, Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM-Desa Kranggan,Kecamatan Polanharjo, tidak hanya menyimpan keasrian khas pedesaan di Klaten.

Desa ini menyimpan narasi panjang tentang jejak keahlian mengolah besi yang diwariskan lintas generasi.

Kondisi tersebut terasa makin hidup dengan hadirnya Museum Besalen Koripan.

Sebuah destinasi wisata edukasi yang mengajak wisatawan menelusuri tradisi pandai besi lokal.

Baca Juga: Gudang Rosok di Juwiring Klaten Kembali Terbakar, Diduga Dipicu Percikan Las

Mengambil tempat di bangunan joglo yang dahulunya merupakan kediaman Lurah ketiga Desa Kranggan.

Museum ini berdiri atas kolaborasi erat masyarakat setempat. Termasuk BUMDes dan Karang Taruna bersama Tim PPK Ormawa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sejak 2025.

Memasuki area museum, nuansa otentik langsung menyapa.

Di sisi kiri pintu masuk, pengunjung dapat melihat besalen lengkap dengan gandon (tempat penampakan atau tungku) serta peralatan tradisional penempa besi.

Memperkuat nilai historisnya, di tembok timur besalen terpasang papan silsilah salah satu empu dari Sri Sultan Hamengku Buwana VIII.

Baca Juga: Akankah Bigmo Kembali Tersandung Masalah Hukum Pasca Mengajak Anak Bawah Umur Promosikan Liquid Vape?

Yakni Empu Soepodirjo yang membentang dari zaman Kerajaan Majapahit hingga era Mataram Islam.

Sedangkan pada tiang-tiang kayu area besalen, terpajang foto-foto dokumentasi arsip kolonial yang merekam geliat para pandai besi Koripan saat beraktivitas di masa lalu.

Melangkah ke bangunan joglo induk yang difungsikan sebagai ruang pajang utama, pengunjung disuguhi prototipe pakaian khas empu berupa kain putih yang tersimpan rapi di dalam etalase kaca.

Di sekitarnya, berjejer etalase berisi keris-keris bersejarah beserta warangka-nya.

Baca Juga: Ika Yuanita Sukses Kembangkan Kopi Kingkaf: Bangkit Lewat Reseller dan Rumah BUMN BRI Semarang

Tak hanya artefak kuno, ruangan tersebut juga memamerkan ragam alat rumah tangga dan pertanian berbahan besi hasil karya warga Koripan masa kini.

Ketua Karang Taruna Desa Kranggan Hanif menjelaskan, tradisi mengolah besi di wilayah sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Terkait tahunnya tak lagi terlacak secara pasti.

"Dulu di sini memang sentra pengolahan besi, hampir setiap rumah memiliki besalen tersendiri. Sampai hari ini pun, geliatnya masih sangat terasa," ujar Hanif ditemui di museum belum lama ini. 

"Untuk di Desa Kranggan saja masih ada sekitar 130 perajin aktif. Belum termasuk di desa tetangga seperti Segaran dan Keprabon," imbuh dia.

Seiring berjalannya waktu, fungsi produksi mengalami transformasi.

Baca Juga: Tabrak Regulasi Batas Usia 21+, Aksi Streamer Suruh Anak Bawah Umur Promosi Liquid Vape Dikecam, Perusahaan Langsung Putus Kerja Sama

Keris yang dahulunya diproduksi sebagai senjata, kini telah beralih fungsi menjadi benda pusaka dan koleksi seni.

Mayoritas perajin saat ini berfokus pada alat-alat rumah tangga dan pertanian.

Tak hanya fungsi produk, proses pembuatannya pun mulai bertransisi menuju standar profesional di era modern.

"Kalau dulu buat pisau sembelih sapi misalnya, sembarang pisau bisa dipakai. Tapi di era modernisasi sekarang, bahan menentukan bentuk, bahkan sampai bobot beratnya pun kami timbang secara presisi," jelasnya.

Hadirnya Museum Besalen Koripan juga sejalan dengan komitmen pemerintah daerah dan provinsi dalam mendorong pariwisata berbasis edukasi dan berkelanjutan.

Baca Juga: Benarkah "First" Selalu Punya Tempat Tersendiri?

Menariknya, museum tersebut terkoneksi dalam jejaring perjalanan wisata lokal atau walking tour yang menghubungkan beberapa titik bersejarah dan budaya di kawasan sekitar.

Seperti Omah Rajolele di Delanggu hingga Kampung Dolanan.

Potensi ini terbukti mulai menyedot perhatian kalangan akademisi dan pecinta sejarah.

Pada momen tertentu, seperti bulan Ramadan lalu, museum ini telah menerima kunjungan rombongan walking tour dari para peneliti dan ahli sejarah.

Bagi wisatawan atau komunitas yang tertarik berkunjung, untuk saat ini tidak dipungut biaya masuk.

Namun, pengunjung disarankan untuk melakukan konfirmasi atau pemesanan terlebih dahulu melalui kontak pengelola yang ada di media sosial museum.

"Beberapa koleksi sengaja kami simpan demi keamanan dan perawatan artefak. Jadi bagi pengunjung yang ingin datang, bisa reservasi terlebih dahulu agar dapat disiapkan dan didampingi secara maksimal," pungkas Hanif. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
museum besalen koripan pandai besi klaten desa kranggan empu