Metri Bumi Merapi 2026: Wujud Syukur Warga Lereng Merapi, Gelar Kirab Gunungan hingga Doa Lintas Agama di Kalitalang Klaten ​

Angga Purenda • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 17:35 WIB
Warga berebut gunungan hasil bumi yang sebelumnya dikirab dalam Festival Budaya Metri Bumi Merapi di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, Minggu (2/8/2026). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
Warga berebut gunungan hasil bumi yang sebelumnya dikirab dalam Festival Budaya Metri Bumi Merapi di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, Minggu (2/8/2026). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM-Kawasan Ekowisata Kalitalang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten menjadi saksi kemeriahan puncak Festival Budaya Metri Bumi Merapi 2026 pada Minggu (2/8/2026).

Tradisi tahunan tersebut mengusung tema Sabda Lereng Untuk Semesta.

Kegiatan tersebut sebagai wujud ungkapan rasa syukur masyarakat lereng Merapi atas rezeki dan keberlanjutan alam.

Termasuk semangat masyarakat yang terus bangkit dan hidup selaras bersama Gunung Merapi.

Baca Juga: Mal-Mal di Solo Tetap Normal, Polresta Tegaskan Kondisi Kamtibmas Kondusif

​Ketua Panitia Metri Bumi Merapi 2026 Drajat Setiaji menyampaikan bahwa festival tahun ketiga ini berkembang pesat menjadi agenda budaya berskala nasional.

Terlebih lagi digelar selama tiga hari Jumat-Minggu (31/7/2026-2/8/2026), sekaligus bagian dari peringatan Hari Jadi ke-222 Klaten.

​"Rangkaian acara diawali dengan gerakan bersih bumi, penanaman pohon, dan deklarasi rawat Merapi. Begitu juga sarasehan budaya, pasar UMKM, edukasi mitigasi bencana, pertunjukan seni, hingga konser Suara Merapi. Seluruh perjalanan itu bermuara pada puncak Kirab Ageng Metri Bumi Merapi," ujar Drajat.

​Drajat mengungkapkan, perjalanan Metri Bumi Merapi sendiri mencatatkan sejarah sejak awal penyelenggaraannya pada 2024.

Saat itu dilakukan pemecahan rekor MURI yang melibatkan 1.500 penari Tari Baru Klinting serta menyatukan 13 desa se-Kecamatan Kemalang.

Baca Juga: Dukung Wajib Belajar 13 Tahun, Pemkot Solo Tambah Dua TK Negeri Baru Manfaatkan Lahan Eks SD Regrouping

​Sedangkan pada 2025 telah berkembang menghadirkan kirab gunungan doa lintas agama untuk mempererat persaudaraan.

​Sementara pada tahun ini, tampil lebih besar sebagai festival budaya berskala nasional yang digelar selama tiga hari.

Terlebih lagi mendapatkan dukungan dari Pemkab Klaten, pemerintah desa, Balai Taman Nasional Gunung Merapi, TNI dan Polri, pelaku budaya, relawan dan seluruh masyarakat.

Dari pantauan radarsolo.jawapos.com, warga melakukan kirab yang berawal dari Gerbang masuk kawasan Ekowisata Kalitalang dengan menempuh jarak sekira 1 Km.

Mereka membawa gunungan yang berisikan hasil bumi ke kawasan wisata hingga akhirnya direbutkan oleh warga.

Baca Juga: Revitalisasi Jalan Yos Sudarso Dimulai, Arus Menuju Nonongan Ditutup Selama Empat Bulan

​Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengapresiasi tinggi semangat gotong royong dan kebersamaan seluruh elemen warga Kecamatan Kemalang serta para pemangku kepentingan.

Menurutnya, kesuksesan gelaran berskala nasional tersebut tidak lepas dari nilai kebersamaan dan keguyuban masyarakat.

​"Kirab gunungan ini adalah simbol rasa syukur atas rezeki dari Tuhan yang kita nikmati bersama. Dengan ikhlas berbagi rezeki, insyaAllah rezeki kita akan bertambah," ujar Bupati Hamenang.

Di sisi lain, Hamenang menilai rangkaian doa lintas agama pada Metri Bumi Merapi juga memperlihatkan indahnya kerukunan masyarakat Klaten yang tetap bersatu dan berdoa. Demi keselamatan dan terhindar dari bencana.

​Selain ritual tradisi dan doa bersama, acara tersebut turut dimeriahkan pertunjukan seni lokal.

Baca Juga: 14 Negara Ikut Merapi Merbabu De Trail 2026, Juara 5K dan 30K Female dari Spanyol

Termasuk kebanggaan Kecamatan Kemalang yang memiliki 27 grup kesenian Jathilan serta Tari Baru Klinting. 

​Kemeriahan puncak acara semakin terasa saat warga saling berebut hasil bumi dari gunungan yang dikirab.

Antusias masyarakat luar biasa, bahkan membuat warga tak sabar untuk menyerbu gunungan sayur-mayur tersebut.

​Tina, 45, salah seorang warga Desa Balerante, Kemalang, Klaten yang ikut berebut gunungan, mengaku aksinya dilakukan lantaran melihat warga lain sudah mulai mengambil hasil bumi terlebih dahulu.

Baca Juga: Pemkot Solo Genjot Wajib Belajar 13 Tahun, Orang Tua Diimbau Sekolahkan Anak di TK Sebelum SD

​"Susah rebutan sama ibu-ibu yang lain. Sebenarnya belum dimulai tapi pada ngeyel, jadi ikut-ikutan saja. Daripada enggak dapat," kelakarnya.

​Meski harus bersusah payah berebut, ia mengaku senang karena berhasil memboyong beraneka ragam sayuran segar. 

"Dapat banyak, sayuran semuanya lengkap. Terima kasih, jadi enggak usah belanja satu minggu ini," tambah Tina sembari tersenyum gembira. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
metri bumi merapi 2026 kalitalang klaten lereng merapi Doa Lintas Agama gunungan