RADARSOLO.COM – Gunung Merapi kembali meluncurkan awan panas guguran, Rabu (12/8) pagi. Awan panas teramati pada pukul 08.50 WIB dengan estimasi jarak luncur mencapai 1.800 meter ke arah barat daya dan selatan.
Berdasarkan informasi Badan Geologi, awan panas guguran tersebut memiliki amplitudo maksimum 49,58 milimeter dengan durasi 82,61 detik. Guguran mengarah ke hulu Kali Krasak di sektor barat daya dan hulu Kali Boyong di sektor selatan.
Masyarakat diimbau menjauhi daerah potensi bahaya serta alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Warga juga diminta mematuhi rekomendasi resmi terkait aktivitas Gunung Merapi.
Baca Juga: Tak Harus Mahal, MP-ASI Empat Bintang Jadi Jurus Cegah Stunting
Sebelumnya, berdasarkan laporan aktivitas Gunungapi (Magma-VAR) periode pengamatan Rabu (12/8) pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.
Pada periode tersebut, kondisi cuaca di sekitar puncak Merapi terpantau cerah dengan angin bertiup tenang ke arah barat. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas tipis teramati setinggi sekitar 25 meter di atas puncak kawah.
Dari sisi kegempaan, tercatat 20 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–36 milimeter dan durasi 49,39–155,23 detik. Selain itu, tercatat 23 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 2–34 milimeter, S-P 0,3–0,5 detik, dan durasi 22,14–55,09 detik.
Baca Juga: Mau Tahu Anda Masuk Desil Berapa? Ini Cara Cek Desil Pakai NIK KTP lewat HP
Dalam periode pengamatan yang sama, teramati tujuh kali guguran lava ke arah barat daya, yakni menuju Kali Sat/Putih, Kali Krasak, Kali Bebeng, dan Kali Boyong. Jarak luncur maksimum guguran lava mencapai 1.900 meter.
Badan Geologi menyebut data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya yang meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer. Adapun lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif diperkirakan dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya. Warga juga perlu mewaspadai ancaman lahar dan awan panas guguran, terutama ketika terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi.
Selain itu, masyarakat diminta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Merapi.
Awan panas guguran juga tercatat terjadi sehari sebelumnya, Selasa (11/8). Pada pukul 08.17 WIB, awan panas guguran memiliki estimasi jarak luncur 2.000 meter dengan amplitudo maksimum 44,11 milimeter dan durasi 118,17 detik. Arah luncuran menuju barat daya, tepatnya hulu Kali Sat/Putih.
Dengan aktivitas Merapi yang masih berstatus Level III atau Siaga, masyarakat di sekitar kawasan gunung api diimbau tetap mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari Badan Geologi maupun BPPTKG.
Editor : Niko auglandy