Ini Kronologi Siswa dan Guru SDIT di Klaten Alami Mual dan Pusing Usai Santap Menu MBG

Angga Purenda • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 16:34 WIB
Ilustrasi AI Generated/Gemini
Ilustrasi AI Generated/Gemini

RADARSOLO.COM – Dugaan keracunan makanan menimpa sejumlah siswa SDIT Muhammadiyah Sinar Fajar di Desa Bawak, Kecamatan Cawas, Klaten. Hingga Minggu (16/8/2026), penyebab pasti keluhan yang dialami para siswa masih dalam penyelidikan.

Kepala SDIT Muhammadiyah Sinar Fajar Cawas Sri Joko Purwanto mengatakan, dugaan tersebut muncul setelah pihak sekolah mendapati banyak siswa yang tidak masuk sekolah pada Sabtu (15/8/2026) dengan keluhan mual dan pusing.

“Indikasinya itu banyak anak yang tidak masuk. Jadi bukan karena anak kelihatan keracunan di sekolah lalu dipulangkan, bukan. Tapi karena hari Sabtu itu kok banyak yang izin tidak masuk,” ujar Joko saat dihubungi, Minggu (16/8/2026).

Baca Juga: Tak Cukup Sensasi Underwater, Umbul Ponggok Klaten Bakal Makin Asri Lewat Konsep Ekonomi Hijau

Menurut Joko, keluhan tidak muncul secara langsung ketika siswa berada di sekolah. Gejala mual dan pusing baru dirasakan setelah mereka pulang dan kemudian dilaporkan orang tua pada Sabtu pagi.

Dari pendataan sementara, lebih dari 10 siswa mengalami keluhan dengan tingkat ringan hingga sedang.

“Hari Sabtu itu kok ada beberapa anak yang izin tidak masuk. Kami kan bertanya-tanya. Terus ternyata dugaannya ya mungkin karena faktor makanan sehari sebelumnya, tapi makanan apa kan belum tahu pasti,” jelasnya.

Baca Juga: Parkir Kantor Pemerintah Diusulkan Gratis, Dishub Solo: Puskesmas Perlu Kajian

Sehari sebelumnya, Jumat (14/8/2026), seluruh siswa mengikuti kegiatan jalan sehat dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Mereka berjalan mengelilingi lingkungan sekitar sekolah selama sekitar 30 menit.

Setelah kembali ke sekolah, siswa menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) serta snack tambahan yang disediakan sekolah.

Joko menyebut menu MBG yang dikonsumsi siswa berupa nasi dan lauk nugget. Sementara snack berupa kue lapis yang disediakan melalui kerja sama dengan pihak penyedia.

Keluhan serupa ternyata juga dialami sejumlah guru. Sekitar empat orang tenaga pendidik melaporkan mengalami pusing dan mual setelah mengonsumsi makanan yang sama, meski gejalanya relatif lebih ringan.

“Keluhannya rata-rata mual dan pusing. Menyebar, tapi anak-anak kelas bawah yang paling banyak. Guru juga ada sekitar empat orang yang melaporkan pusing dan mual, dengan konsumsi yang sama,” paparnya.

Hingga Minggu, kondisi mayoritas siswa disebut mulai membaik. Sekolah juga mendapat informasi mengenai dua siswa yang sempat mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan.

Namun, pihak sekolah belum dapat memastikan apakah perawatan tersebut berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi pada Jumat.

“Alhamdulillah kemarin-kemarin kami dapat kabar sudah berangsur-angsur pulih. Tinggal sedikit sekali yang masih ada gejala. Terkait dua anak yang dikabarkan dirawat, kami belum bisa memastikan apakah karena faktor makanan itu atau ada penyebab sakit lain,” terang Joko.

Sebagai langkah antisipasi, pihak sekolah memutuskan menghentikan sementara distribusi program MBG hingga hasil pemeriksaan laboratorium dan arahan resmi dari dinas terkait diperoleh.

Joko menegaskan, keputusan tersebut diambil sebagai bentuk prioritas terhadap keselamatan siswa dan seluruh warga sekolah.

“Prinsip kami, keselamatan peserta didik dan seluruh warga sekolah adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Apapun kemungkinannya, tetap kita antisipasi dulu. Maka program penghentian sementara ini kami lakukan,” tegasnya.

Program MBG di sekolah tersebut telah berjalan sejak September 2025 dan selama ini melayani sekitar 600 siswa serta 60 guru dan staf. Menurut Joko, kejadian kali ini merupakan kasus pertama yang terjadi sejak program tersebut diterapkan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah mendatangi sekolah untuk melakukan investigasi dan mengambil sampel.

Sampel yang dikumpulkan meliputi menu MBG, snack, serta air minum yang dikonsumsi siswa pada Jumat (14/8/2026).

Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat membantu mengungkap sumber keluhan yang dialami siswa dan guru. Sekolah juga masih menunggu hasil uji laboratorium sebelum mengambil langkah selanjutnya.

Sementara itu, Radar Solo telah mencoba mengonfirmasi langkah yang dilakukan Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Klaten melalui Koordinator Wilayah BGN Klaten Yoga Angga Pratama. Konfirmasi dilakukan melalui pesan WhatsApp dan sambungan telepon pada Minggu (16/8), namun hingga berita ini ditulis belum mendapat respons.

Pihak sekolah berharap seluruh pihak dapat melakukan evaluasi bersama agar kejadian serupa tidak kembali terjadi, sekaligus memastikan program pemenuhan gizi bagi siswa tetap berjalan dengan mengutamakan keamanan pangan. (ren)

Editor : Kabun Triyatno
SDIT Muhammadiyah Sinar Fajar anak keracunan siswa sekolah