RADARSOLO.COM - Ribuan warga memadati sepanjang Jalan Pemuda untuk menyaksikan gelaran Karnaval Budaya Kabupaten Klaten 2026, , Selasa (18/8/2026).
Perhelatan tahunan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-222 Klaten dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ini menyuguhkan nuansa berbeda lewat tema "Klaten Mandala Peradaban — Saka Sandyakala, Tumuju Cahya".
Karnaval yang dimulai pukul 13.00 itu dirancang sebagai perjalanan simbolis yang menghubungkan keagungan peradaban mataram kuno dengan potensi Klaten.
Dibuka dengan rombongan Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo bersama Forkopimda Kabupaten Klaten yang menaiki kereta kencana dengan busana ala raja mataram kuno. Menyapa warga yang berdiri menyaksikan karnaval di sepanjang Jalan Pemuda.
Baca Juga: DPRD dan Pemkab Klaten Sepakati MoU KUA-PPAS Perubahan APBD 2026, Ada Penambahan BTT Rp 11 Miliar
Rute pawai membentang dari titik kumpul di depan Bank Jateng Syariah Klaten di Jalan Pemuda hingga panggung kehormatan di depan Rumah Dinas Bupati Klaten.
Peserta karnaval menempuh perjalanan sepanjang 1,5 Km sebelum akhirnya tampil di depan panggung kehormatan.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Pariwisata dan Olahraga (Disbudporapar) Klaten Purwanto menjelaskan, sebanyak 28 kontingen memamerkan kreasi seni pertunjukan kolosal. Peserta karnaval berasal dari seluruh kecamatan yang ada di Kota Bersinar.
Masing-masing kontingen menampilkan pertunjukan maksimal tiga menit di hadapan panggung kehormatan.
Membawakan cerita mataram kuno sesuai dengan karakter dan potensi wilayah masing-masing.
Ragam cerita lokal diangkat di setiap kontingen, seperti sejarah Roro Jonggrang Prambanan, potensi Gunung Merapi Kemalang dan tradisi sebaran apem Jatinom.
Termasuk keasrian sumber air Polanharjo dan Tulung, kerajinan Lurik Pedan, Gerabah Bayat hingga kejayaan pertanian beras Rojolele asal Delanggu.
“Melalui karnaval ini kami ingin sampaikan pesan bahwa peradaban tidak berhenti. Warisan budaya, keterampilan, pertanian, seni, teknologi dan semangat gotong-royong generasi terdahulu terus dilaksanakan dan dilestarikan oleh masyarakat Klaten,” ucapnya.
Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menegaskan pentingnya mengangkat kembali akar sejarah wilayah Klaten.
Harapannya Klaten tidak sekadar dikenal sebagai kota perlintasan antara Yogyakarta dan Surakarta semata.
"Kenyataannya sejarah kita lahir lebih dulu. Klaten adalah bagian penting dari peradaban Kerajaan Medang atau Mataram Kuno dengan tokoh besar Raja Rakai Pikatan. Karnaval ini menjadi momentum mengenalkan kembali kejayaan masa lalu agar membangkitkan optimisme, gotong royong serta menggerakkan roda ekonomi warga dan UMKM," papar Hamenang.
Di antara puluhan penampil, kontingen Kecamatan Gantiwarno mencuri perhatian lewat konsep Prajurit Tapal Batas.
Dipimpin langsung oleh Camat Gantiwarno Veronica Retno Setyaningsih bersama Danramil Gantiwarno Kapten Inf Albertus Dheny W, kontingen tersebut melibatkan 80 peserta dari gabungan enam sanggar seni serta pelajar SMP dan SMA.
"Sebagai wilayah yang berada di perbatasan, kami membawakan tarian yang menggambarkan kesiapan prajurit menjaga kedaulatan NKRI. Persiapannya sekitar 10 kali latihan. Selain memupuk jiwa patriotisme, kami ingin mengenalkan kehebatan budaya nenek moyang kepada generasi muda," tutur Retno.
Danramil Gantiwarno Kapten Inf Albertus Dheny W menyatakan dukungan penuh TNI terhadap wadah kreativitas para pemuda.
Pihaknya berharap konsep pertunjukan kolosal bernuansa sejarah tersebut dapat terus dilestarikan dan diselenggarakan secara mandiri di tingkat kecamatan untuk ke depannya. (ren)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com