Tak Cuma Lingkungan, Sifat Cuek Ayah dan Ibu di Rumah Bisa Picu Anak Terjerumus Perilaku Menyimpang

Angga Purenda • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:18 WIB
Sosialisasi yang dilakukan KPA Kabupaten Klaten pencegahan perilaku LGBT di Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Klaten, Selasa (4/8/2026). (Dok KPA Klaten)
Sosialisasi yang dilakukan KPA Kabupaten Klaten pencegahan perilaku LGBT di Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Klaten, Selasa (4/8/2026). (Dok KPA Klaten)

 

RADARSOLO.COM - Pola asuh yang adil, komunikasi terbuka dan kehadiran emosional orang tua menjadi benteng utama perlindungan karakter dan identitas anak sejak dini.

Terutama dalam mencegah perilaku menyimpang seperti Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).

Hal itu diungkapkan oleh pemerhati anak dan pegiat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Klaten Fauzi Rivai kepada radarsolo.com, Jumat (21/8/2026).

Baca Juga: Mengenal Suwanti, Lurah Purwosari Solo yang Dekat Warga hingga Gagas Paket Wisata Kelurahan

Rivai mengungkapkan salah satu faktor utama yang memicu remaja terjerumus ke dalam orientasi menyimpang bersumber dari ketidakseimbangan pola asuh serta disharmonisasi di dalam keluarga.

Dari kasus yang ditemui di lapangan, fenomena remaja laki-laki yang berperilaku feminin dan remaja perempuan menjadi tomboi, banyak dipicu oleh ketimpangan figur orang tua di rumah.

“Ketika salah satu peran baik ayah maupun ibu hilang, terabaikan atau terlalu dominan, perkembangan psikologis dan identitas gender anak menjadi terganggu,” ujar Rivai.

Baca Juga: Sempat Bikin Waswas Orang Tua, Dugaan Murid Keracunan MBG di SDN 4 Sragen Tidak Terbukti

Ia menceritakan bahwa dalam pengalaman pendampingan di lapangan, sering menemukan kasus remaja laki-laki terjerumus ke dalam perilaku LGBT akibat kurangnya perhatian dan ketegasan dari seorang ayah.

"Jika figur ayah pasif dan tidak hadir secara emosional, anak laki-laki akan kehilangan acuan maskulinitasnya,” tambahnya

Di sisi lain, ketika hubungan dalam keluarga tidak harmonis, sosok ayah cenderung menarik diri, cuek atau bersikap acuh tak acuh.

 

Rivai menegaskan, orang tua wajib memiliki manajemen konflik yang bijak agar anak tidak menjadi korban pertengkaran emosional.

"Keluarganya tidak harmonis, akhirnya anak kurang dapat perhatian dari ayah dan lebih banyak bersama ibu. Tiap hari anak melihat ibunya berdandan, pakai perawatan wajah dan bersikap lembut. Tanpa ada figur ketegasan dari ayah, anak mulai merekam dan meniru. Akhirnya cenderung feminin," ujar Rivai.

Sebaliknya, ketidakseimbangan juga terjadi ketika peran ibu minim dan figur ayah terlalu mendominasi.

Baca Juga: Masuk Desil 10 Sejajar dengan 9 Naga Bukan Berarti Orang Kaya, Apa Maksud BPS? Daerah Banjir Protes

Rivai mengungkapkan dari temuan kasus seorang anak perempuan tumbuh menjadi sosok tomboi.

Hal itu terjadi setelah sang ibu tidak lagi hadir dalam kehidupan keluarga akibat perceraian.

Ketiadaan figur ibu membuat ruang emosional anak menjadi tidak seimbang.

Pada akhirnya memicu krisis identitas dan meluapkan pencarian kenyamanan emosional secara keliru di luar rumah.

Baca Juga: Pulihkan Trauma Anak Korban Gempa NTT, Kementerian PPPA Sediakan Layanan Psikososial

“Karakter perhatian ayah dan ibu memiliki fungsi psikologis yang saling melengkapi. Ayah membawa karakter yang tegas, kuat dan mengarahkan anak. Jika ibu membawa karakter yang lembut dan penuh pengayoman,” ujar Rivai.

Rivai menekankan bahwa anak-anak sejatinya lebih membutuhkan rasa sayang dan keterbukaan emosional.

 

Jika rumah tidak menyediakan ruang untuk mendengarkan, anak akan mencari rasa nyaman tersebut dari orang lain di luar rumah.

Banyak kasus anak usia remaja terjerumus LGBT karena menemukan sosok kakak kelas atau teman sekolahnya yang mau mendengarkan keluh kesahnya.

"Karena di rumah orang tuanya sibuk dan tidak ada waktu, anak merasa dilindungi oleh orang lain di luar. Dari rasa nyaman itulah timbul dorongan hubungan menyimpang,” jelasnya.

Baca Juga: Kunjungan ke Klaten, Menteri PPPA Resmikan Kampung Dolanan Sidowayah BERSEMI

Untuk mencegah krisis identitas dan perilaku menyimpang pada anak, Rivai membagikan sejumlah langkah praktis yang bisa diterapkan oleh para orang tua.

Pertama yakni pembagian peran dan pola asuh dari orang tua yang seimbang harus diterapkan sejak dini.

“Ayah harus tegas dan demokratis memberi teladan dan aturan yang tegas. Sekaligus menjadi pendengar yang mau membuka ruang diskusi," ucap dia.

Baca Juga: Siapa Ahmad Zaki? Ini Warisan Kebaikan Relawan yang Gugur saat Bantu Gempa Flores NTT

Sementara ibu berperan sebagai penyeimbang yang memberikan kehangatan emosional dan pengayom.

Banyak aktivitas yang bisa dilakukan dalam menyeimbangkan peran ayah dan ibu kepada anak.

Seperti meluangkan waktu satu jam dalam sehari dengan makan malam bersama di tengah kesibukan bekerja.

 

“Gunakan momen ini agar anak dapat meluapkan cerita dan keluh kesahnya. Ingat, orang tua harus menjadi pendengar yang baik tanpa langsung menghakimi anak,” ucapnya.

Selain itu, bisa melakukan rekreasi dengan meluangkan waktu di akhir pekan untuk memperkuat kebersamaan dalam keluarga.

“Memaksimalkan peran ayah yang tegas serta ibu yang penuh kasih sayang secara seimbang, menjadikan identitas anak akan terbangun dengan kokoh. Menjaga dari ancaman perilaku menyimpang,” pungkasnya. (ren/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
perilaku menyimpang kpa klaten parenting anak orang tua