RADARSOLO.COM - Impian Purgianto, 55, untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci Makkah akhirnya terwujud.
Pesepeda asal Desa Nanggulangan, Kecamatan Cawas, Klaten yang akrab disapa Mbah Pur ini berhasil menuntaskan misi perjalanan lintas negara dan menunaikan ibadah umrah.
Bagi Mbah Pur jarak sekitar 25 ribu kilometer bukan benteng yang tak bisa ditembus.
Niat tulus yang bersemayam di dada mampu menggerakkan dua kakinya untuk terus mengayuh pedal sepeda.
Baca Juga: Polresta Klaten Gelar Sertijab 26 Pejabat, Kapolresta Tekankan Profesionalisme dan Pelayanan Publik
Mbah Pur akhirnya berhasil memeluk impian terbesarnya.
Bersujud di depan Kakbah pasca melintasi rute antardarat dan antarnegara yang penuh tantangan.
Perjalanan spiritual yang menguji ketahanan fisik dan mental itu dimulai dari pelataran Gedung Paripurna DPRD Klaten pada 22 Mei 2026.
Saat itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo melepas keberangkatan Mbah Pur secara resmi.
Berbekal sepeda vintage merek Boston buatan Amerika Serikat, pria paruh baya ini mulai mengayuh pedal keluar dari Klaten pada 31 Mei 2026.
Baca Juga: Harga BBM Dexlite dan Pertamina Dex Naik 1 September 2026, Berapa Biaya Full Tank Innova Reborn?
Rute panjang membentang di hadapannya.
Mbah Pur membelah Pulau Jawa lewat jalur Jogja, Magelang, Temanggung, Wonosobo, hingga menembus Bandung, Puncak Bogor, Tangerang, dan berakhir di pelabuhan Jakarta.
Perjalanan berlanjut menyeberangi lautan menggunakan kapal feri menuju Batam dan Tanjung Pinang, hingga akhirnya mendarat di Tanah Merah, Singapura.
Dari Negeri Singa itulah kayuhan pedalnya kembali berputar secara penuh. Ia melintasi daratan Singapura, membelah Malaysia, hingga menembus perbatasan Thailand.
Baca Juga: Veda Ega Pratama Tanpa Poin di Moto3 Aragon 2026, Bos Honda Team Asia Ungkap Masalahnya
"Perjalanan darat dari Klaten sampai Bangkok itu kurang lebih tiga bulan, dari Mei sampai Agustus," ujar Mbah Pur dihubungi radarsolo.jawapos.com, Senin (31/8/2026).
Tiga bulan berada di atas sadel sepeda bukan perkara mudah. Peluh dan lelah menjadi teman setia saban hari.
Mbah Pur membatasi perjalanan hanya dari pagi hingga sore hari.
Saat malam tiba, ia memanfaatkan fasilitas masjid di sepanjang jalur lintasan untuk melepas lelah sekaligus menenangkan pikiran.
Tantangan fisik terbesar justru datang dari si roda dua. Jalur darat yang terjal dan cuaca ekstrem membuat sepedanya terkendala.
"Alhamdulillah perjalanan aman, tapi kendala ada di sepeda. Sempat ganti ban di Indonesia, lalu pas di Thailand malah dua hari berturut-turut kebanan (bocor ban) terus," kenangnya.
Baca Juga: Catat Tanggalnya! 9 Fenomena Langit September 2026, Ada Hujan Meteor Hingga Harvest Moon
Selain ujian fisik, dinamika geopolitik di perbatasan negara juga menjadi tantangan tersendiri.
Rekan seperjalanannya sempat terhambat masalah administrasi imigrasi dan kendala keluarga.
Beruntung, di Penang, Malaysia, Mbah Pur bertemu kembali dengan rekan sesama pesepeda yang menjadi temannya memperjuangkan rute hingga Thailand.
Momen berkesan terjadi saat Mbah Pur tiba di Bangkok.
Pada 17 Agustus 2026, ia berkesempatan mengikuti upacara Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia bersama jajaran Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Bangkok.
Baca Juga: Mau Tahu Dapat Bansos September 2026? Cek Nama Pakai NIK KTP dari HP
Namun, atas saran diplomatik pihak KJRI terkait konflik bersenjata yang sedang berkecamuk di Myanmar dan wilayah Timur Tengah, Mbah Pur memutuskan untuk mengubah strategi lintasan.
Demi keselamatan, sisa rute darat dialihkan menggunakan jalur udara dari Bangkok menuju Jeddah, Arab Saudi.
"Persyaratan birokrasi di perbatasan konflik memang sangat ribet. Akhirnya disarankan terbang saja dari Bangkok ke Jeddah," tuturnya.
Mbah Pur beserta sepeda Boston kesayangannya mendarat di Bandara Jeddah pada Sabtu (22/8/2026).
Bahkan sepedanya kena charge bagasi berat volume sebesar Rp 6 juta yang dibayar dari kantong pribadinya.
Segala jerih payah dan pengorbanan finansial lunas seketika begitu kaki Mbah Pur menginjakkan tanah Makkah.
Rasa lelah berbulan-bulan meluruh berganti haru saat matanya menatap langsung keagungan Kakbah.
"Rumaose seneng banget, kados ngimpi. Tercapai apa ingkang dadi niat kula pengin gowes teng Makkah (Rasanya senang sekali. Seperti mimpi. Tercapai niat saya bersepeda ke Makkah)," beber Mbah Pur dengan suara bergetar.
Hingga akhir Agustus, Mbah Pur telah menuntaskan ibadah umrah dengan penuh rasa syukur.
Di tengah kekhusyukan ibadahnya, ia tak lupa melangitkan doa untuk keluarga di Nanggulangan, kerabat, serta seluruh masyarakat yang telah mendukunnya sepanjang jalan.
Baca Juga: Jateng Kembali Kirim Bantuan Korban Gempa NTT, Fokus Atasi Kebutuhan Dasar
"Kula mboten saged nyebut setunggal mboko setunggal, tapi kula sebut sedaya kaum muslimin dan muslimat. Mugi-mugi ingkang nyuport kula, baik materi maupun doa, dipun paringi kelonggaran saged nyusul ibadah umrah. (Saya tidak bisa menyebut satu per satu. Tapi saya sebut umat muslimin dan muslimat. Semoga yang mendukung saya baik materi manupun diberi kesempatan bisa umrah)," jelasnya.
Usai menyelesaikan ibadah di Tanah Suci, Mbah Pur dijadwalkan terbang kembali ke Indonesia menuju Jakarta.
Kendati baru saja menuntaskan rute ribuan kilometer, semangat mengayuh pria asal Cawas ini belum padam.
Ia sudah bersiap menyambut event Jambore Sepeda Federal di Kendal, Jawa Tengah pada September mendatang.
Ia siap kembali mengayuh ke daerah Kendal sebelum akhirnya pulang ke Klaten. (ren)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com