RADARSOLO.COM – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas menyikapi kasus dugaan keracunan masal yang menimpa puluhan siswa sekolah dasar di Kabupaten Klaten usai menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Insiden tersebut melanda murid dari dua sekolah di Kecamatan Ceper, yakni MI Muhammadiyah (MIM) Srebegan dan MIM Cetan.
Para siswa dilaporkan mengalami gejala gangguan pencernaan seperti pusing, mual, hingga muntah sekitar 10 hingga 15 menit setelah mengonsumsi paket menu MBG.
Baca Juga: Polres Sragen dan Tim Terpadu Padamkan Kebakaran Lahan Jati di Miri
Menu yang disajikan hari itu terdiri dari katsu filet ikan, balado tahu, oseng-oseng wortel buncis, serta buah semangka.
Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Klaten Yoga Angga Pratama menyampaikan, jumlah korban terdampak mencapai puluhan orang berdasarkan pembaruan data terbaru di lapangan.
”Update total yang terdampak dari gangguan pencernaan itu adalah 64 orang. Namun sampai hari ini tidak ada yang sampai rawat inap, sebagian besar hanya periksa dan beberapa lainnya istirahat di rumah. Alhamdulillah, sebagian besar anak-anak hari ini sudah kembali ke sekolah,” terang Yoga, Jumat (4/9/2026).
Baca Juga: Dinkes Karanganyar Buka Layanan Kesehatan Gratis bagi Warga Terdampak Kebakaran TPA Putri Cempo Solo
Menindaklanjuti kejadian tersebut, BGN telah berkoordinasi langsung dengan Bupati Klaten untuk memperketat sistem pengawasan dan pengawasan wilayah.
BGN bersama unsur forkompimca dan koordinator kecamatan akan rutin mengawasi serta melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke tiap satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).
Selain itu, operasional SPPG penyedia MBG bagi MIM Srebegan dan MIM Cetan tersebut dipastikan telah dihentikan sementara hingga batas waktu yang belum ditentukan.
”Dari kemarin sudah kami putuskan untuk berhenti operasional. Kita masih menunggu hasil pengujian laboratorium sampel makanan yang memakan waktu sekitar lima sampai tujuh hari. Setelah hasilnya keluar, baru akan saya laporkan secara resmi ke Badan Gizi Nasional Pusat,” tegas Yoga.
Sementara itu, Ketua Yayasan Sridaya Amanah Sejahtera selaku pengelola SPPG, Bambang Sridaya langsung mendatangi dapur produksi untuk meminta keterangan dari tim Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dan ahli gizi.
Bambang menegaskan dari hasil penelusuran internal, seluruh proses pengolahan makanan sebenarnya telah mengikuti standar operasional yang ketat.
Baca Juga: Tradisi 11 Tahun Desa Jambanan Dilirik Jadi Agenda Sragen, tapi Terkendala Anggaran
”Saya tanyai semuanya, penyebabnya bukan masalah pemasakan, bukan human error, dan bukan masalah kebersihan. Semua sudah sesuai standardisasi,” kata Bambang saat ditemui awak media di SPPG.
Kendati demikian, Bambang menyoroti adanya perubahan bahan baku pada menu ikan yang disajikan. Menurutnya, dapur SPPG selama ini selalu dianjurkan dan diwajibkan menggunakan bahan-bahan makanan segar.
”Jadi penyebabnya bukan masalah yang lain-lain. Hanya saja, belinya daging itu kemasan. Biasanya kami beli sesuai standardisasi fresh, anjuran dari pusat pun semuanya harus fresh. Saya sudah menganjurkan tidak boleh beli bahan kemasan. Namun ternyata kali ini menunya dori kemasan dan itu baru pertama kali dibeli,” ungkapnya.
Baca Juga: Usaha Mebel di Jumapolo Karanganyar Terbakar, Kerugian Rp 300 Juta
Atas temuan tersebut, pihak yayasan akan melakukan evaluasi menyeluruh serta pembinaan kepada seluruh pengelola dan staf dapur agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
”Langkahnya, saya sudah membimbing semuanya. Nanti akan diteliti dan dievaluasi kinerjanya, terutama penekanan agar jangan pernah lagi menggunakan bahan kemasan. Kalau dari standardisasi memasak sebenarnya sudah bagus karena semua ada acuannya,” ujar Bambang. (ren/adi)
Editor : Adi Pras