RADARSOLO.COM – Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan intensitas yang cukup tinggi. Memasuki Senin (8/9), gunung api yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut tercatat mengalami puluhan kali gempa guguran.
Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi periode pengamatan 8 September 2026 pukul 00.00-06.00 WIB, tercatat sebanyak 24 kali gempa guguran. Gempa tersebut memiliki amplitudo antara 2 hingga 27 milimeter dengan durasi 61,11 hingga 183,44 detik.
Selain gempa guguran, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) juga mencatat 17 kali gempa hybrid atau fase banyak. Gempa hybrid tersebut memiliki amplitudo 2 hingga 29 milimeter, dengan durasi antara 26,8 hingga 50,68 detik.
Baca Juga: Shin Tae-yong Bilang Persija Jakarta Baru 50 Persen, Persib Bandung Bisa Jadi Korban Pelampiasan
Selama periode pengamatan, kondisi cuaca di sekitar Gunung Merapi dilaporkan mendung. Angin bertiup tenang ke arah barat dengan suhu udara berkisar 16,3 hingga 19 derajat Celsius.
Kelembaban udara tercatat antara 97,4 hingga 99 persen. Sementara tekanan udara berada pada kisaran 876,2 hingga 920 milimeter air raksa.
Dari pengamatan visual, puncak Gunung Merapi tertutup kabut dengan tingkat pengamatan 0 hingga III. Asap kawah tidak teramati selama periode tersebut.
Sebelumnya, aktivitas Merapi juga cukup tinggi sepanjang Minggu (7/9). Dalam periode pengamatan selama 24 jam, tercatat 97 kali gempa guguran dan 80 kali gempa hybrid atau fase banyak.
Baca Juga: Cuma Selisih Satu Emas! Tim Pencak Silat Solo Nyaris Juara Umum Popda Jateng 2026
Selain itu, tercatat satu kali gempa vulkanik dangkal serta dua kali gempa tektonik jauh.
Secara visual, sepanjang Minggu, Gunung Merapi sempat terlihat jelas. Asap kawah berwarna putih dengan tekanan lemah teramati memiliki intensitas sedang dan mencapai ketinggian sekitar 25 meter di atas puncak kawah.
Pada periode pengamatan Minggu malam pukul 18.00-24.00 WIB saja, tercatat 32 kali gempa guguran dan 26 kali gempa hybrid. Hal tersebut menunjukkan aktivitas kegempaan Gunung Merapi masih terus berlangsung.
Hingga Senin pagi, status Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.
BPPTKG mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di kawasan daerah potensi bahaya. Potensi bahaya utama saat ini berupa guguran lava dan awan panas guguran.
Pada sektor selatan hingga barat daya, potensi bahaya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer. Sedangkan Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng memiliki potensi bahaya hingga maksimal tujuh kilometer.
Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer.
Masyarakat juga diminta mewaspadai kemungkinan lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif. Material tersebut berpotensi menjangkau radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Data pemantauan juga menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi tersebut berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam kawasan daerah potensi bahaya.
Baca Juga: Viral Rusa Taman Sriwedari Solo Kabur, Berkeliaran hingga Wilayah Cemani Sukoharjo
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi. Potensi bahaya lahar serta awan panas guguran perlu menjadi perhatian.
Masyarakat juga diminta mengantisipasi kemungkinan gangguan akibat hujan abu vulkanik apabila terjadi erupsi. Status aktivitas Gunung Merapi akan kembali ditinjau apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.
Editor : Niko auglandy